Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Kenapa aku tidak pernah bertemu Kakek?"
Pertanyaan itu jatuh bersamaan dengan hujan yang mengetuk kaca jendela.
Anakku sedang duduk bersila di lantai ruang tamu, dikelilingi kertas gambar yang berserakan. Ia baru saja menyelesaikan guratan krayonnya: sebuah matahari yang terlalu besar dan laut yang terlalu biru.
Aku tidak langsung menjawab. Mataku beralih ke dinding. Di sana tergantung bingkai kayu berisi foto lama yang mulai memudar. Bukan foto Bapak—tak ada satu pun fotonya yang tersisa. Hanya gambar garis cakrawala yang membelah langit dan air menjadi dua.
"Ayah?" panggilnya lagi.
Aku meletakkan cangkir kopi yang mendadak terasa berat. Tiga puluh tahun aku mengunci cerita itu rapat-rapat.
"Kakekmu sudah lama pergi, Nak."
"Ke mana?"
"Laut."
Anakku terdiam, menatapku bingung. Mungkin mengira itu jawaban yang aneh. Dan mungkin memang aneh, sebab sampai hari ini aku sendiri masih berjuang memahami bagaimana seseorang bisa melangkah ke dalam laut dan tak pernah kembali.
Saat itu aku berusia tiga belas tahun. Usia yang merasa sudah cukup dewasa untuk tidak menyukai celoteh orang tua. Kami berada di dek kapal penumpang dalam perjalanan pulang. Tak ada yang lebih membosankan daripada duduk berjam-jam mendengar Bapak mengulang cerita yang sama: tentang musim angin timur, tentang perang lama, dan terutama tentang Ibu yang wafat setahun sebelumnya.
"Kau mirip ibumu kalau sedang diam begini," katanya.
Aku hanya mengangguk tanpa berpaling dari layar ponsel. Bapak terkekehi pelan. Ia tidak marah. Ia hanya mengusap kepalaku—kebiasaan yang selalu dilakukannya sejak aku kecil.
Pagi itu laut tampak begitu ramah. Angin berembus lembut, anak-anak berlarian di lorong, dan beberapa penumpang tertidur lelap. Tak ada tanda-tanda. Tak ada firasat.
Sampai getaran mesin di bawah kaki kami mendadak berhenti.
Awalnya tak ada yang panik. Orang-orang saling melempar tawa kecil, berasumsi itu hanya gangguan teknis biasa. Namun, atmosfer perlahan berubah ketika para kru berjalan cepat membawa tumpukan rompi pelampung.
Ada sesuatu yang mengerikan ketika orang-orang dewasa mendadak berhenti bicara. Keheningan yang asing menyergap. Mata mereka tidak lagi menatap satu sama lain, melainkan tertuju pada laut—seolah air yang tenang itu menyimpan rahasia jahat.
"Pak..." bisikku.
Bapak tidak melihat ke arah kru. Ia menatap lurus ke cakrawala.
"Tak apa-apa," katanya halus.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tahu Bapak sedang berbohong.
Menjelang siang, kepanikan pecah. Pelampung habis, sementara jumlah penumpang jauh lebih banyak. Suara tangis berbenturan dengan doa-doa yang diteriakkan. Seseorang memeluk anaknya erat-erat; yang lain berteriak memanggil nama di telepon.
Di tengah kekacauan itu, Bapak tetap duduk di sampingku. Sangat tenang. Seolah badai yang mendekat hanyalah gerimis sore.
Seorang kru yang berlari panik melemparkan satu pelampung terakhir ke pangkuan Bapak. Warnanya oranye kusam, berdebu, dan terlalu besar untuk tubuhku.
"Bapak pakai," sodorku cepat.
Bapak menggeleng. "Untukmu."
"Aku bisa berenang!" jeritku.
Itu kebohongan terbesar yang pernah kuucapkan. Sejak kecil, menyentuh air laut sebatas dada saja sudah membuatku gemetar ketakutan. Aku sama sekali tidak bisa berenang, dan Bapak tahu itu.
"Bapak saja..." suaraku pecah.
Bapak tersenyum. Senyum tipis yang hingga hari ini masih sering menyelinap ke dalam mimpiku. "Kau masih punya banyak pagi yang belum kau lihat, Nak."
Air masuk dengan cepat. Kapal mulai miring ke kanan. Teriakan berubah menjadi jeritan histeris saat laut yang tadinya ramah berubah menjadi monster raksasa—dingin, gelap, dan sangat lapar.
Tangan Bapak yang gemetar memakaikan pelampung itu ke tubuhku. Ia menarik talinya rapat-rapat di dadaku, persis seperti cara ia membantuku mengenakan seragam sekolah sewaktu aku SD.
"Awas lepas," bisiknya.
Aku menggeleng keras, air mata menyatu dengan cipratan air laut. "Bapak juga pakai..."
Ia tak menjawab. Tangannya yang kasar hanya mengusap kepalaku lama sekali. Seolah ingin merekam bentuk wajahku, atau memastikan aku tak akan pernah melupakan wajahnya.
Lalu ombak besar menghantam dek.
Ingatanku larut dalam dingin dan asinnya air. Yang kuingat hanyalah genggaman tangan Bapak yang menahanku sampai detik terakhir sebelum tarikan arus memisahkan jemari kami. Ketika aku berhasil muncul kembali ke permukaan air, tangan itu sudah tidak ada.
Bertahun-tahun aku membenci laut. Bertahun-tahun pula aku menganggap Bapak seorang pahlawan. Orang-orang menyatakannya begitu. Terlalu mudah. Seolah memberikan satu-satunya pelampung adalah pilihan yang gampang.
Baru hari ini, setelah aku menjadi seorang ayah, aku mengerti.
Bapak bukan pahlawan super. Ia hanyalah seorang lelaki tua yang ketakutan, yang dipaksa keadaan untuk memilih. Dan pada hari itu, ia memilih anaknya, meski harga yang harus dibayar adalah nyawanya sendiri.
Hujan di luar mulai mereda, meninggalkan aroma tanah basah. Anakku masih menungguku melanjutkan cerita.
"Jadi... Kakek seperti apa, Ayah?"
Aku menarik napas panjang, menatap mata polosnya. "Kakekmu orang yang suka bercerita."
"Lucu?"
"Kadang-kadang."
"Sayang sama Ayah?"
Tenggorokanku mendadak menyempit. Aku memandang gambar kapal berkrayon biru di lantai, lalu menatap jendela yang basah.
"Sangat sayang," bisikku.
Anakku mengangguk puas, lalu kembali sibuk dengan kertas gambarnya.
Sementara aku tetap terpaku di sana. Dan seperti tahun-tahun yang telah lalu, sebuah pertanyaan berbisik pelan di kepalaku: Jika hari ini kapal itu tenggelam, hanya ada satu pelampung, dan yang duduk di sampingku adalah anakku... apakah aku sanggup melakukan hal yang sama?
Di usia tiga belas tahun, aku yakin semua orang tua pasti akan melakukannya.
Di usia empat puluh tiga tahun, aku paham betapa mengerikannya pilihan itu.
Dan mungkin, justru karena itulah aku semakin merindukannya.