Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tiba di bulan Juli, Angin melihat kilas wajah Tanya. Di antara puluhan siswa yang berjalan ke sana kemari menutupi wajahnya, yang ia lihat adalah seorang wanita yang rupawan. Akan berdusta jika mengatakan tak ada wanita yang lebih cantik darinya, namun bukan berarti ia merupakan batu di jalan setapak. Angin merasakan hatinya terdorong keluar ketika melihat gadis itu, matanya ditarik ke gadis itu. Mereka sering berjumpa, mana kala mereka pergi ke ruang yang sama, melakukan kegiatan yang sama.
Datang di bulan September, Angin mendengar Tanya memiliki ketertarikan dengannya. Lantas, ia mencoba mencari tahu, tanpa ada yang tahu. Tanya seorang gadis yang manis, matanya besar nan sayu, tubuhnya hanya setinggi pundak Angin.
Tanya mulai membawa tanya pada Angin, tentang namanya, tentang kelasnya, tentang apa yang pria itu suka, lantas berlanjut dengan mengomentari aktivitas Angin. Angin menjawabnya, panjang, bisa seharian penuh dari satu topik. Bukan karena topiknya seru, namun topik itu bertumbuhkan cabang ketika diberikan pupuk jawaban dari Angin.
Dalam perjalanan di bulan Oktober, Angin menjawab pertanyaan di dalam batinnya, ia menyukai Tanya. Lantas mereka mulai saling menggoda. Tanpa ada pengakuan, namun semuanya terlihat perasaan. Mereka memberi hati, namun masih tak mengucapkannya.
Saat itu di akhir Oktober, Angin memberikan kertas berisikan semua pertanyaan Tanya. Angin meringkuk di pojok ruangan saat Tanya dengan lantang membaca kertas itu.
"Iya, aku mau," jawab Tanya saat ia menarik Angin kembali berdiri.
Mereka resmi menjadi pasangan. Hari-hari mereka dipenuhi warna, warna dari cat air. Mereka pergi ke tempat yang ramai, membuat kenangan abadi yang mereka simpan di tas masing-masing. Tanya memberikan hadiah yang digantung pada tas masing-masing. Catnya terlihat permanen.
Masuklah bencana. Angin hanyalah laki-laki pemalu—bahkan pengecut. Mengapa? Angin menyayangi Tanya, ia tahu di dalam hatinya. Namun tubuhnya tidak. Di kala mata tersebar di sekitar, tubuhnya tak mengetahui bahwa ia menyayangi Tanya. Namun di kala mereka di ruang hampa, tubuhnya tahu ia menyayangi Tanya.
Angin tahu itu masalah. Angin tahu itu adalah percikan yang menunggu gas. Angin tahu dia harus mematikan percikan itu. Namun apa daya, oksigen selalu masuk, memberikan makanan pada percikan itu. Tanya pertama kali memahami, kedua kali memaklumi, ketiga kali menyadari.
Tiba kembali di bulan Juli, mereka berada di ruang yang sama kembali, dengan kegiatan yang sama pula, namun hubungan mereka? Tanya mulai merenggang. Kepala Angin berpura bertanya-tanya, namun hatinya tahu jawabannya.
Tengah Juli, renggangan itu putus. Mereka bukanlah lagi pasangan. Aneh. Angin tetap di ruangan yang sama dengan Tanya, sama pula kegiatannya. Mereka tetap saling bertanya, namun tak sedekat kemarin. Aneh, kadang di hari selasa, mereka menjadi sedekat kemarin, kadang pula hari kamis, bisa juga hari minggu. Hari mereka disiram dengan air, mulailah luntur, mereka membawa tas masing-masing.