Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Menurutku dunia itu cuma omong kosong." Rangga mengatakannya dengan wajah datar. Angin di atas balkon malam mengibarkan anak rambutnya.
Aku duduk di belakangnya. Sedikit teler setelah meneguk setengah botol Vodka. Berbeda denganku, Rangga tidak begitu menyukai minuman keras. Dia lebih suka meracau tidak jelas sambil memandangi Kota Jakarta yang tak pernah sepi.
"Maksudku ayolah, selama ini kita dipersiapkan hanya menjadi budak, kau tahu?" lanjutnya.
Aku masih tak menanggapi.
"Kayak rasanya tuh, sebebas apapun pilihan kita, kita tetap tidak bisa hidup semau kita." Rangga menunduk. Memperhatikan mobil mobil yang berlalu lalang. "Bukannya aku bermaksud mengeluh. Hanya saja, aku berpikir kalau dunia kita berjalan ke arah yang salah."
Aku tak bisa menguasai kesadaranku sepenuhnya. Aku masih mendengar. Samar. Masih melihat. Buram. Aku masih diam.
***
Saat aku terbangun besoknya, sebuah garis polisi telah digelar di lobby apartemenku. Aku bertanya pada seorang petugas apartemen.
"Semalam. Seseorang telah melompat."