Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Azazil
1
Suka
1,033
Dibaca

Panas menyengat sejak kila mulai. Darah yang mengering mulai menyatu dengan warna tanah, hanya tersisa bau anyir. Di sinilah tempat para iblis berperang melawan semua para entitas kehidupan. Aku duduk terkapar, ditemani oleh pengawal setiaku.

“Baginda Azazil, kita sudah terdesak! Kita harus segera pergi dari area perang!”

“Sialan! Bagaimana bisa dia menusukku hanya dengan cenderasa?”

“Baginda, bukan saatnya membahas itu. Mengobati luka Baginda adalah prioritas!”

“Diam kau! Aku masih bisa melawan para serangga itu! Jika aku mundur sekarang, ini akan mencoreng namaku sebagai Raja!”

“Ampuni hamba, Baginda. Hamba akan kerahkan pasukan tersisa untuk menyerang secara bersama.”

Aku berdiri dari tanah, melangkah maju meninggalkan parit begitu pula dengan prajurit dan pengawal setiaku. Cenderasa itu masih menancap di dadaku. Dengan daya yang tersisa, aku maju menebas kepala lawanku dengan senjata yang kupegang. 

Melihat nyawa mereka berjatuhan, kukira ini adalah makna kemenangan. Kesenangan itu tak berangsur lama, ketika aku menoleh ke belakang. Mataku terbelalak melihat kenyataan.

Emosiku meluap melihat para pasukan dibantai habis oleh Jenderal Langit. Tanpa sadar, aku berteriak keras. Amarah yang sesungguhnya baru meledak ketika pengawal setiaku tersandera oleh Jenderal Langit. 

Ketika aku hendak menolongnya raut wajahnya aneh. Pengawalku tampak terkejut, takut, dan sedih. Pandanganku tiba-tiba berputar. Ini terasa janggal bagiku.

Dingin.

Saat ini yang aku rasakan. 

Gedebug….

Hanya bunyi itu yang aku dengar, seperti karung berisi pasir jatuh ke tanah. Cenderasa yang menancap pada tubuhku masih berdiri di sana. Dari sudut pandang yang sangat rendah, aku melihat dua kaki masih tegak.

Samar-samar kulihat bayangan entitas berada di belakang tubuhku. Kucoba menajamkan pandanganku, ternyata itu manusia menjijikan. Dengan syamsir berlumuran darah berada di tangannya.

Bagaimana mungkin aku bisa menatap tubuhku seluruhnya?

Bagaimana dengan ambisiku untuk menaklukan dunia?

Tanpa ada jawaban, kini aku benar-benar hancur. Ditelan oleh kegelapan sejati.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Azazil
Fahmi Irwan Utomo
Flash
Percakapan Lama
Dinda Kusuma Ati
Flash
Bronze
Ada yang Merdeka dari Kantong-kantong Jas
Choirunisa Ismia
Flash
Fighter Kids - Give me more
Irvinia Margaretha Nauli
Novel
THE YOUTH CRIME
Dwi Budiase
Flash
Bronze
Revenge
FS Author
Cerpen
Firefly: A Pair of Little Kids
Adinda Amalia
Novel
Apsara
Ghozy Ihsasul Huda
Novel
Bronze
Weak Hero
Penulis Noname
Flash
Bronze
Happy Wedding
Ron Nee Soo
Flash
Bronze
Tropis Membeku, Subtropis Terbakar
Karlia Za
Novel
Elang Angkasa: The Beginning
Kingdenie
Flash
Bronze
Merah Putihku
Andri wananda
Flash
Pohon sawo
Mahmud
Flash
Bronze
Desert
Rama Sudeta A
Rekomendasi
Flash
Azazil
Fahmi Irwan Utomo
Novel
Bronze
Makna Hakikat
Fahmi Irwan Utomo