Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
═════════════════
NEGERI SONOHARU
FLASH FICTION
DENGUNG YANG TAK PERNAH TIDUR
EDISODE VI
─────────────────
REF-INDEX: 011-120-221-331-416
═════════════════
Lumbung itu sunyi.
Tubuh Pak Darman telah diturunkan. Karung-karung kosong masih berserakan di lantai, perutnya menganga seperti mulut yang tidak pernah kenyang. Kabel data putih masih tergantung dari balok atap ujungnya yang longgar bergoyang pelan dihembus angin pagi, seperti ular yang sudah mati tapi masih bergerak.
Di lantai, ponsel layar retak telah mati. Baterainya habis. Cahaya kuning pucat yang dulu memakan wajahnya telah padam. Ikon dadu emas tidak lagi berkedip. Tidak ada lagi notifikasi. Tidak ada lagi promo. Tidak ada lagi yang bisa diambil dari Pak Darman.
Angin pagi berhembus melalui celah-celah dinding kayu, membawa bau tanah basah dan rumput yang baru dipotong. Di kejauhan, ayam-ayam mulai berkokok. Burung-burung pipit beterbangan di atas ladang. Dunia tetap berjalan.
Kamera mundur.
Dari lumbung, pandangan meluas ke ladang di sekitarnya padi-padi yang bergoyang dihembus angin, patok-patok besi yang masih menancap di tanah, ilalang yang mulai tumbuh di antara batang-batang padi yang dulu hijau.
Kamera terus mundur.
Desa Argasari muncul. Rumah-rumah kayu yang lapuk. Traktor-traktor yang berkarat di pinggir jalan. Gardu dengan orang-orang yang duduk menunduk, menatap layar ponsel mereka, wajah mereka pucat diterangi cahaya biru. Tidak ada yang bicara. Hanya suara notifikasi yang bersahutan deng... deng... deng... seperti doa-doa yang dipanjatkan kepada dewa yang tidak pernah menjawab.
Kamera terus mundur.
Kota muncul. Gedung-gedung tinggi. Jalanan yang sibuk. Layar-layar digital di sudut-sudut jalan menampilkan iklan-iklan berkilau. Di antara keramaian itu, ada orang-orang yang berhenti di trotoar, menatap ponsel mereka, tersenyum pada layar, tidak melihat dunia di sekitar mereka.
Kamera terus mundur.
Di bawah tanah, di bawah laut, di tempat yang tidak pernah terlihat oleh mata manusia, kabel-kabel fiber optik membentang melintasi samudra. Mereka berdenyut dengan cahaya biru neon, memproses miliaran bit data per detik transaksi keuangan, pesan-pesan, putaran-putaran dadu digital, semuanya mengalir dalam aliran cahaya yang tidak pernah berhenti.
Kamera terus mundur.
Di pusat-pusat data raksasa di luar negeri, server-server berdengung dengan suara rendah yang konstan hum... hum... hum... seperti detak jantung raksasa yang tidak pernah berhenti. Di layar-layar monitor, angka-angka melonjak. Jutaan transaksi diproses setiap jam. Uang mengalir masuk dan keluar, tanpa peduli dari mana asalnya, tanpa peduli siapa yang kehilangan segalanya di ujung sana.
Kamera terus mundur.
Dari angkasa, Bumi tampak biru. Di permukaannya, di antara jutaan titik cahaya yang berkelap-kelip, ada satu titik yang gelap sebuah lumbung di Argasari, di mana seorang ayah telah meninggalkan istrinya dan tiga anaknya, di mana sebuah ponsel layar retak telah mati, di mana kabel data putih masih tergantung dari balok atap.
Tapi dari angkasa, titik gelap itu tidak terlihat. Yang terlihat hanyalah cahaya-cahaya lain yang terus berkedip di kota-kota, di desa-desa, di rumah-rumah di mana orang-orang masih menatap layar ponsel mereka, masih menekan tombol putar, masih berbisik, "Satu lagi. Pasti kali ini balik."
Di bawah laut, kabel-kabel fiber optik terus berdenyut dengan cahaya biru neon. Server-server terus berdengung. Angka-angka terus melonjak. Sistem terus berjalan.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang peduli bahwa seorang petani bernama Pak Darman telah mati.
Di lumbung, angin pagi berhembus melalui celah-celah dinding kayu. Karung-karung kosong masih berserakan di lantai. Kabel data putih masih tergantung dari balok atap. Di sudut lumbung, ponsel layar retak telah mati layar gelap, ikon dadu emas padam, tidak ada lagi cahaya yang memakan wajah siapa pun.
Nama Pak Darman tidak akan muncul di berita. Tidak akan disebut dalam pidato presiden. Ia hanyalah satu dari ribuan angka statistik angka yang terus bertambah setiap hari.
Tapi di lumbung itu, di antara karung-karung kosong dan kabel data yang masih menggantung, ada sebuah kesunyian yang lebih keras dari teriakan apa pun. Kesunyian yang ditinggalkan oleh seorang ayah, seorang suami, seorang petani yang mati karena dunia maya yang tidak pernah ia pahami, yang dihancurkan oleh ikon dadu emas yang tidak pernah berhenti berkedip.
Pak Darman meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Dan negeri yang sedang sekarat tidak mendengarnya.
TAMAT
═════════════════
RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221
─────────────────
TOURTALESLIGHTS
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
─────────────────
BERKAS: 331 - FILE: 416 - EPISODE VI
KLASIFIKASI: BUKU I KMP -
NEGERI SONOHARU
═════════════════