Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
═════════════════
NEGERI SONOHARU
FLASH FICTION
NODA KACA RETAK
EDISODE III
─────────────────
REF-INDEX: 011-120-221-331-413
═════════════════
Jari-jarinya bergerak tanpa izin.
Pak Darman tidak menyuruh mereka membuka galeri foto. Tidak menyuruh mereka menggesek layar. Tapi tubuhnya telah belajar untuk bergerak sendiri, untuk mencari hal-hal yang menyakitkan, untuk membuka luka-luka yang tidak pernah sembuh. Jari-jarinya kapalan, kotor, dengan kuku yang menghitam oleh tanah menggesek kaca layar yang halus, dan di hadapannya, empat foto muncul.
Empat wajah. Empat kehidupan yang ia hancurkan.
Foto pertama: Yati. Masih muda. Masih tersenyum. Kebaya putih sederhana dengan bordir bunga-bunga kecil di ujungnya. Ia tersenyum seperti orang yang belum tahu bahwa cinta bisa dikhianati.
Pak Darman menggesek.
Foto kedua: Rudi. Ijazah di tangan. Senyum lebar. Gigi-gigi yang rapi. Lulus SMA. Masa depan yang terbentang di depannya, yang sekarang telah menjadi abu.
Pak Darman menggesek.
Foto ketiga: Sari. Seragam putih-biru. Masih mengkilat. Hari pertama SMP. Tersenyum malu-malu, memperlihatkan kawat gigi yang baru dipasang. Ia tidak tahu bahwa seragam itu dibeli dengan utang. Ia tidak tahu bahwa ayahnya sudah tidak bisa membayar SPP bulan depan.
Pak Darman menggesek.
Foto keempat: Budi.
Usia tujuh tahun. Gigi ompong. Senyumnya lebar, memperlihatkan lubang di mana gigi depannya dulu berada. Ia memegang tangan Pak Darman di ladang, dan di foto itu, Pak Darman masih gemuk, masih tersenyum, masih terlihat seperti ayah yang bisa melindungi keluarganya.
Jari Pak Darman berhenti. Tidak bisa bergerak lebih jauh. Seolah-olah ada sesuatu yang menahan tangannya, yang berkata: Ini dia. Ini yang kau cari. Ini yang akan menghancurkanmu.
Ia menatap foto itu. Ia menatap wajah Budi wajah yang polos, yang tidak tahu apa-apa tentang judi atau utang atau kematian. Wajah yang masih percaya bahwa ayahnya adalah pahlawan.
Pak Darman mengangkat tangannya. Jari telunjuknya, yang kasar dan kotor oleh lumpur kering, menyentuh layar. Ia mengusap wajah Budi di foto usapan lembut, seperti ketika ia masih kecil dan ia mengusap pipi Budi untuk membangunkannya di pagi hari.
Ia menarik tangannya. Di layar, noda lumpur tertinggal. Noda cokelat kering yang mengotori pipi Budi di foto.
Pak Darman menatap noda itu. Dadanya berdetak lebih cepat. Ia mencoba mengusapnya dengan ibu jarinya cepat, panik, seperti orang yang mencoba memadamkan api dengan tangan kosong. Tapi noda itu tidak hilang. Ia hanya menyebar. Semakin ia mengusap, semakin kotor layarnya. Noda lumpur itu menyebar seperti air yang meresap ke dalam kain, menutupi wajah Budi, mengotori senyumnya yang ompong.
Pak Darman mengusap lebih keras. Jari-jarinya yang kasar menggesek kaca layar dengan panik, meninggalkan jejak-jejak lumpur baru di sana-sini. Noda-noda itu menyatu, membentuk bayangan-bayangan yang mengotori wajah anak-anaknya. Retakan layar yang membelah foto Budi retakan yang seperti akar pohon, seperti sungai kering membuat senyum Budi terasa seperti sedang menangis.
"Noda..," bisiknya. Suaranya serak, seperti orang yang sudah lama tidak bicara. "Noda... hilang..."
Tapi noda itu tidak hilang.
Pak Darman menghentikan gerakannya. Tangannya tetap menggenggam ponsel, dan di layar, lumpur kering dari jari-jarinya telah mengotori wajah anak-anaknya. Ia melihat Rudi dengan pipi yang kotor. Ia melihat Sari dengan noda di dahinya. Ia melihat Budi Budi, yang senyumnya kini tertutup oleh bekas jari ayahnya sendiri.
Ia mengingat kata-kata Haji Subur, dari hari penyitaan lahan. Kata-kata yang ia dengar seperti dari kejauhan. "Bunga sudah menumpuk. Saya tidak bisa menunggu selamanya."
Ia mengingat matanya sendiri, saat ia menatap ponsel, menatap layar yang retak, menatap ikon dadu emas yang terus berkedip. Ia mengingat bagaimana ia memilih cahaya kuning pucat itu daripada matahari. Ia mengingat bagaimana ia memilih suara notifikasi daripada tawa anak-anaknya.
Dan sekarang, ia melihat noda lumpur di layar, dan ia menyadari sesuatu yang telah lama ia ketahui, tapi tidak pernah ia akui:
Noda itu adalah tangannya sendiri.
Ia tidak bisa menghapusnya. Ia tidak bisa membersihkannya. Ia bisa mengusap layar selama berjam-jam, tapi noda itu tidak akan pernah hilang, karena noda itu bukan dari luar noda itu dari dalam. Noda itu adalah dirinya sendiri. Noda itu adalah semua pilihan yang telah ia buat, semua kata yang tidak ia ucapkan, semua pelukan yang tidak ia berikan, semua kehadiran yang telah ia korbankan untuk altar kecil di tangannya.
Pak Darman menatap foto Budi. Di balik noda lumpur, di balik retakan layar, Budi masih tersenyum. Masih ompong. Masih polos. Masih percaya.
Dan Pak Darman tahu, ia tidak akan pernah bisa menghapus noda itu.
Ia meletakkan ponsel di lantai lumbung. Pelan-pelan. Dengan hati-hati. Seolah-olah ia sedang meletakkan sesuatu yang rapuh sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki lagi.
Ia menatap layar yang retak. Di sudut, ikon dadu emas masih berkedip. Tapi mata Pak Darman tidak lagi tertuju pada ikon itu. Matanya tertuju pada noda lumpur di pipi Budi. Noda yang tidak akan pernah hilang.
Ia mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang masih gemetar memandangi telapak tangannya sendiri. Lumpur yang mengering di sana. Lumpur dari ladang yang telah disita. Lumpur dari tanah yang bukan lagi miliknya. Lumpur yang telah mengotori masa depan anak-anaknya.
Pak Darman menatap tangannya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa seperti hantu. Hantu yang masih hidup, yang masih duduk di lumbung ini, yang masih menatap layar yang retak. Tapi hantu itu sudah mati mati ketika ia pertama kali menekan ikon dadu emas, mati ketika ia memilih cahaya kuning pucat daripada matahari, mati ketika ia mengotori wajah anaknya sendiri.
Ia menurunkan tangannya. Lumbung itu gelap. Di sudut, suara air menetes masih terdengar. Tik... tik... Dan di lantai, ponsel masih menyala, cahaya kuning pucatnya masih menyinari wajahnya yang cekung, menciptakan bayangan yang menari di dinding kayu.
Pak Darman tidak lagi melihat dirinya sendiri di layar itu. Yang ia lihat hanyalah noda. Yang ia lihat hanyalah dosa yang tidak bisa dihapus. Yang ia lihat hanyalah hantu yang telah ia ciptakan.
"Maaf," bisiknya. Bukan untuk siapa pun. Tapi untuk Budi. Untuk Sari. Untuk Rudi. Untuk Yati. Untuk semua orang yang telah ia kotorii dengan tangannya sendiri.
"Maaf."
Bersambung.....
Episode 3 selesai.
─────────────────
Mari kita lanjutkan ke :
Episode 4 "Simpul yang Kuat".
═════════════════
RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221
─────────────────
TOURTALESLIGHTS
STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI
TINGKAT AKSES: PUBLIK
─────────────────
BERKAS: 331 - FILE: 413 - EPISODE III
KLASIFIKASI: BUKU I KMP -
NEGERI SONOHARU
═════════════════