Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
RACUN DATANG BERTAHAN
0
Suka
601
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

FLASH FICTION

RACUN DATANG BERTAHAN

EPISODE II

───────────────── 

REF-INDEX: 011-120-221-331-412

═════════════════

Lumbung itu tidak sunyi. Itu adalah kebohongan yang ia katakan pada dirinya sendiri selama berbulan-bulan. Ia datang ke sini untuk mencari keheningan, katanya. Untuk berpikir, katanya. Tapi lumbung ini tidak pernah sunyi. Ia penuh dengan suara-suara yang tidak pernah berhenti.

Tik... tik... tik...

Air menetes dari atap yang bocor, jatuh ke dalam ember plastik yang telah menguning di sudut lumbung. Tetesan itu teratur, berirama, seperti detak jam yang tidak pernah berhenti. Pak Darman mendengarnya di sela-sela suara jangkrik dari sawah, di sela-sela dengung ponsel di tangannya, di sela-sela napasnya sendiri yang semakin pendek.

Tik...

Satu tetes.

Tik...

Dua tetes.

Tik...

Tiga tetes. Dan di antara tetesan-tetesan itu, suara lain muncul. Deng... deng... deng... Notifikasi dari ponselnya. Aplikasi itu mengirimkan pesan. Promo. Bonus. Kesempatan. Suara notifikasi itu seperti lonceng gereja bagi dewa palsu, memanggilnya untuk beribadah di altar yang telah ia bangun sendiri.

Tik... deng... tik... deng...

Dua suara itu menyatu di kepalanya. Tetesan air yang mengingatkan pada waktu yang terus mengalir, dan notifikasi yang mengingatkan pada harapan palsu yang terus berdenyut. Mereka bergantian, bersahutan, seperti dua suara yang sedang berdebat tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Pak Darman menutup matanya. Di balik kelopak matanya, ia masih mendengar suara-suara itu. Tik... deng... Seperti detak jantung yang tidak beraturan. Seperti sesuatu yang perlahan-lahan menggerogoti kepalanya dari dalam.

Ia membuka matanya. Lumbung itu gelap, tapi ia bisa melihat segalanya. Debu-debu melayang di celah-celah cahaya bulan yang masuk melalui dinding kayu mereka menari, perlahan, tanpa tujuan, seperti jiwa-jiwa yang tidak tahu ke mana harus pergi. Karung-karung goni yang kosong berjejer di sudut, perutnya menganga seperti mulut-mulut yang kelaparan. Dan di lantai, ember plastik itu menangkap tetesan air dengan suara yang terus berulang.

Tik...

Pak Darman mencium bau lumbung ini. Bau gabah tengik yang telah membusuk di sudut-sudut ruangan, bercampur dengan lumpur basah yang melekat di lantai tanah, dan keringat asam yang menempel di bajunya sendiri. Bau-bau itu menyatu menjadi satu aroma yang ia kenali terlalu baik aroma kehancuran. Aroma sesuatu yang telah mati, tapi masih berada di sini, menunggu untuk dikuburkan.

Ia mengingat saat-saat ketika lumbung ini masih berbau harum. Bau gabah yang baru dipanen, yang masih hangat oleh sinar matahari. Bau jerami kering yang berserakan di lantai. Bau nasi bungkus yang dibawa Yati, dengan ikan asin dan sambal yang menggugah selera. Bau anak-anaknya yang berlarian di antara karung-karung, bau keringat mereka yang segar, bau tawa mereka yang masih murni.

Sekarang, bau yang tersisa adalah bau busuk. Bau tengik. Bau sesuatu yang telah lama ditinggalkan.

Deng... deng... deng...

Suara notifikasi kembali. Lebih cepat kali ini. Lebih mendesak. Pak Darman menatap layar ponselnya, dan cahaya kuning pucat itu menyinari wajahnya lagi. Di atasnya, ikon dadu emas berkedip dengan irama yang sama dengan tetesan air di sudut lumbung.

Tik... deng... tik... deng...

Seolah-olah mereka sedang berbicara satu sama lain. Seolah-olah mereka adalah dua suara yang sama, yang datang dari sumber yang sama, yang berbicara tentang hal yang sama. Waktu. Kesempatan. Kehancuran.

Pak Darman merasakan sesuatu di dadanya sesuatu yang telah lama ia rasakan, tapi tidak pernah ia beri nama. Rasa sesak. Rasa tercekik. Seolah-olah udara di lumbung ini semakin menipis. Seolah-olah suara-suara itu, tetesan air dan notifikasi, sedang mengisap oksigen dari ruangan ini perlahan-lahan.

Ia mencoba bernapas dalam-dalam. Tapi napasnya pendek. Napasnya seperti karung kosong ia bisa menghirup, tapi tidak ada yang tersisa di dalamnya.

Tik...

Air jatuh ke ember.

Deng...

Ponsel berkedip.

Dan di antara kedua suara itu, Pak Darman mendengar suara lain suara yang tidak datang dari luar, tapi dari dalam kepalanya sendiri. Suara yang ia kenali sebagai suaranya sendiri, tapi terdengar asing. Suara yang berbisik, "Satu lagi. Pasti kali ini balik."

Tapi suara itu semakin lemah. Semakin jauh. Semakin seperti sesuatu yang tidak lagi ia percayai.

Pak Darman menatap ponselnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat harapan di sana. Ia hanya melihat cahaya kuning pucat yang menyakiti matanya. Ia hanya mendengar suara notifikasi yang seperti lonceng pemakaman. Ia hanya mencium bau busuk di sekelilingnya, dan ia menyadari bahwa ia sudah menjadi bagian dari bau itu.

Tik...

Air menetes.

Deng...

Ponsel memanggil.

Dan Pak Darman duduk di tengah-tengahnya, di antara dua suara yang tidak pernah berhenti, dan membiarkan dirinya perlahan-lahan tenggelam ke dalam kekosongan.

Bersambung.....

Episode 2 selesai.

─────────────────

Mari kita lanjutkan ke :

Episode 3"Noda Kaca Retak".

═════════════════

RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221

─────────────────  

TOURTALESLIGHTS

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK

─────────────────  

BERKAS: 331 - FILE: 412 - EPISODE II

KLASIFIKASI: BUKU I KMP -

NEGERI SONOHARU 

═════════════════

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Cemburu yang Aneh
Sulistiyo Suparno
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights
Flash
Cahaya Dibalik Senja
Ika nurpitasari
Novel
REASON
Kahfi hadid
Cerpen
MUSIM PANAS YANG PANJANG
Rian Widagdo
Novel
SELAT GIBRALTAR
Manda Tiara Sani
Skrip Film
Lamar Hati (Script)
Anisah Ani06
Novel
V.R.R - Virasat Rumah Rubuh
stillzee
Flash
TAK BERANI BICARA
Almasarym
Flash
Bronze
Waktu Bahagia
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Daun Jati
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Bima
Asti Ayuningtyas
Novel
Bronze
Tuhan, Mengapa Harus Alam yang Berbeda
ARYA SIDIQ
Novel
Batas Tabu
Yuditeha
Skrip Film
Latar Belakang
Rangga Samuel
Rekomendasi
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights
Novel
Pejabat Negeri Sonoharu
Tourtaleslights
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Novel
MOREKEY: Kisah Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Cerpen
ARSIP 000: PERJALANAN JIWA
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Novel
Warisan Tanah Keluarga
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Cerpen
SBDM-MCFP
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Cerpen
Macaronion
Tourtaleslights