Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
HANTU DI LUMBUNG
0
Suka
2,355
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

═════════════════

NEGERI SONOHARU

FLASH FICTION

HANTU DI LUMBUNG

EDISODE I

─────────────────   

REF-INDEX: 011-120-221-331-411

═════════════════

Lumbung itu telah lama berhenti menjadi lumbung. Sekarang ia adalah kubah kegelapan yang atapnya bocor, tempat di mana dinding-dinding kayu yang lapuk masih menyimpan aroma gabah yang sudah basi, dan di mana Pak Darman duduk bersila di antara karung-karung kosong yang perutnya menganga seperti mulut orang kelaparan.

Cahaya yang menerangi wajahnya bukan dari bulan. Bukan dari matahari. Cahaya itu berasal dari sebuah altar kecil di tangannya sebuah ponsel dengan layar retak, yang menyala dengan cahaya kuning pucat, seperti mata reptil yang setengah terbuka di tengah kegelapan.

Ia menatap layar itu. Retakan-retakan menyebar dari sudut kiri atas seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah mereka membelah ikon dadu emas menjadi pecahan-pecahan yang masih berdenyut. Denyut itu lembut, teratur, seperti detak jantung yang tidak pernah berhenti. Seperti sesuatu yang hidup.

Pak Darman tidak ingat kapan terakhir kali ia benar-benar melihat matahari. Mungkin tiga bulan lalu, saat ia masih berdiri di ladang yang sekarang telah disita, saat padi-padi masih berwarna emas dan anak-anaknya masih tertawa di antara mereka. Sekarang, satu-satunya cahaya yang ia kenal adalah cahaya kuning pucat dari layar yang retak cahaya yang sakit di mata, yang membuat warna-warna lain memudar, yang membuat wajahnya sendiri tampak seperti tengkorak yang masih bernapas.

Di luar, jangkrik-jangkrik bernyanyi. Mereka bernyanyi dengan cara yang sama seperti ketika ia masih kecil, ketika ayahnya masih hidup, ketika lumbung ini masih penuh dengan karung-karung padi dan tawa. Tapi suara jangkrik itu sekarang terdengar berbeda seperti bisikan yang tidak pernah selesai, seperti sesuatu yang menunggu. Dan di antara suara jangkrik itu, ada suara lain: dengung halus dari mesin ponsel, seperti aliran listrik yang mengalir di bawah kulitnya, seperti sesuatu yang menghisap tanpa pernah kenyang.

Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Udara malam memang dingin, tapi tangannya sudah gemetar sejak lama, sejak sebelum ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menghentikannya. Gemetar itu berasal dari suatu tempat yang lebih dalam dari perutnya yang kosong, dari dadanya yang terasa seperti karung kosong, dari kepalanya yang dipenuhi suara-suara yang tidak pernah berhenti.

Ia mengangkat tangannya ke depan layar, dan bayangan tangannya jatuh di dinding kayu di belakangnya bayangan yang lebih besar dari dirinya, yang bergoyang-goyang seperti sesuatu yang hidup, seperti monster yang ia sendiri tidak kenali. Bayangan itu menari di dinding lumbung, mengikuti gerakan tangannya yang gemetar, dan untuk sesaat, Pak Darman merasa seperti sedang menatap dua makhluk berbeda: satu yang duduk di sini, dan satu yang menari di dinding, menunggu.

Ia menurunkan tangannya. Cahaya kuning pucat dari layar tetap bersinar, dan di atasnya, ikon dadu emas tetap berdenyut. Denyutnya seperti detak jantung yang terlalu cepat, seperti sesuatu yang sedang memanggil namanya dari dalam layar.

Pak Darman mengingat lumbung ini dulu. Ia mengingat bagaimana sinar matahari emas masuk melalui celah-celah dinding, menciptakan berkas-berkas cahaya yang menerangi debu-debu melayang. Ia mengingat bagaimana karung-karung padi berjejer rapi, hampir menyentuh langit-langit, dan bagaimana aroma gabah yang baru dipanen memenuhi ruangan dengan kehangatan. Ia mengingat tawa anak-anaknya, kaki-kaki kecil mereka yang berlarian di antara karung-karung, tangan-tangan kecil mereka yang membantu mengikat simpul.

Sekarang, lumbung ini gelap. Tidak ada karung. Tidak ada padi. Tidak ada tawa. Yang tersisa hanyalah bau gabah tengik yang bercampur dengan lumpur kering, dan karung-karung kosong yang menganga seperti kuburan-kuburan kecil. Dan di tengah semua itu, Pak Darman duduk, menatap altar kecil di tangannya, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Cahaya kuning pucat dari layar terus bersinar, dan perlahan-lahan, ia mulai memakan wajahnya. Ia melihat pantulannya di layar yang retak pipinya yang cekung, tulang rahangnya yang menonjol, matanya yang redup dan kosong. Ia melihat dirinya sendiri, dan untuk sesaat, ia tidak mengenali siapa yang ia lihat.

Di luar, jangkrik-jangkrik terus bernyanyi. Dan di dalam, di antara kegelapan dan cahaya kuning pucat, Pak Darman duduk, menatap ikon dadu emas yang berdenyut, dan membiarkan dirinya perlahan dimakan oleh cahaya itu.

Bersambung.....

Episode 1 selesai.

─────────────────  

Mari kita lanjutkan ke :

Episode 2 "Racun Datang Bertahan".



═════════════════

RAK: 011 - ARSIP: 120 - MAP: 221

─────────────────  

TOURTALESLIGHTS

STATUS: TELAH DIDEKLASIFIKASI

TINGKAT AKSES: PUBLIK

─────────────────  

BERKAS: 331 - FILE: 411 - EPISODE I

KLASIFIKASI: BUKU I KMP -

NEGERI SONOHARU

═════════════════ 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Skrip Film
Paruh Waktu (SKRIP)
Nurmala Manurung
Novel
Assalamualaikum Masa Depan
Citra Wardani
Skrip Film
Siulan Malaikat
ANTON SYAHRONI
Flash
Bronze
AKU MENCINTAI PEREMPUAN ITU dengan NYAWAKU
Onet Adithia Rizlan
Flash
Bronze
Lingkaran Kecil
Muhammad Yunus
Novel
After Senior High School
Elisabet Erlias Purba
Skrip Film
Jadikan Aku Islam
Herman Siem
Novel
INTROVERT
Andrikbas
Novel
Bronze
Om Nakula!
Hana Firya Putri Arimbi
Flash
Banjir yang Tidak Jadi Datang
Art Fadilah
Flash
Bronze
Penghuni Imaji (Membicarakan Adam 21)
Silvarani
Novel
Kyra
Kaa
Novel
Sebelum Waktu Berhenti
Tasya Syafitri
Flash
Cheese Lovers
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Flash
Jembatan Negeri Rasa
Tourtaleslights
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Cerpen
Terra Valley Rise of The Golem Empire
Tourtaleslights
Cerpen
Macaronion
Tourtaleslights
Flash
NODA KACA RETAK
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta
Tourtaleslights
Novel
MOREKEY: Kisah Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
#1. Aroma Sakura di Tengah Kekacauan
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Lembar Catatan dari Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Cerpen
KAMUS 50 ISTILAH INTI VOLUME I
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights