Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Interval Langkah
2
Suka
1,304
Dibaca

“Derap langkahku tak mungkin menyusul laju larimu,” aku menyerah, duduk sejenak—membentang jarak. “Engkau akan jemu menungguku beristirahat, sementara garis finis yang segaris batas cakrawala telah lama mendikte ritme target yang kau kejar—sudah menanti jauh di penghujung langit senja ufuk barat sana.”

“Tak mengapa, kita tidak sedang berlomba.” santainya, selagi berbalik menghampiri. “Tidak semua perjalanan harus dimenangkan, Nona.” Ia menyodorkan sebotol air mineral yang telah dibukakan segelnya. 

“Justru kalau ada turnamen lari dari kenyataan, sudah pasti predikat atlet peraih medali emas mengalungi leherku," gerutuku, menyeka keringat.

“Ayolah, satu putaran lagi..” pintanya mengulurkan tangan, yang—tak pernah kuraih. 

"Kukibarkan bendera putih dan memilih menyemangatimu saja dari barisan tribun,” pasrahku, mengangkat kedua tangan.

Meski begitu, ia meraih lenganku; menuntun langkah kami menepi ke kursi taman di bawah pohon Tabebuya kuning. Kami duduk berdampingan, padahal kukira ia akan melanjutkan rutinitas larinya, menyisakanku tertinggal—melihat punggungnya kian menghilang terbenam sirna oleh para pelari yang berlalu-lalang dalam lintasan yang sama. 

“Dulu tatkala pembagian kompetensi manusia, tampaknya aku tak pernah mengantre dalam barisan olahraga.” ujarku, mengisi keheningan topik. 

“Pfftt.. karena malas mengantre di jajaran yang dipadati mayoritas lelaki?”

“Itulah mengapa, menggiring bola basket yang kau sukai—aku tak pandai,”

“Biarpun begitu, menggiring kontradiksi kau lebih lihai,” tepisnya justru menyanjung. Lalu memiringkan kepala, terheran. “Bukankah kau pernah menyukai bulu tangkis?”

“Raketku yang berkarat telah lama patah,”

Usai meneguk tandas minuman isotoniknya, ia berselang berlutut; tak kusangka tergerak mengikatkan tali sepatuku yang bahkan tak kusadari entah kapan terurai—rawan terinjak. “Mungkin karena yang lebih sering kau tangkis bukanlah kok, melainkan—uluran tangan seseorang.”

Bisu terpaku, lisanku bergeming hening. 

“Tapi kini kau menyukai catur,” ia kembali duduk ke posisi semula. 

“Aku baru memelajarinya. Selagi memahami bahwa ia merepresentasikan mikrokosmos kehidupan yang merefleksikan hakikat pilihan rasional, dualisme, konsekuensi, dan taktik politik sederhana.”

“Bidak apa yang paling kau gemari? Pasti Ster,” tebaknya. 

“Mengapa?”

Ia mengedikkan bahu enteng, tak beralasan muluk-muluk. “Karena Ster bebas melesat ke penjuru mata angin, melindas apa saja tanpa permisi; persis seperti kebiasaanmu—melarikan diri.”

Pandanganku berpaling, “padahal justru Kavaleri,”

“Mengapa?”

“Karena Kavaleri satu-satunya bidak yang diizinkan melompati rintangan. Langkah L-nya tidak linier, sukar diprediksi, dan selalu punya celah untuk menyelinap di antara kepungan paling rapat.” senyumku simpul. 

“Lalu, skenario apa yang paling kau benci? Sekakmat?”

Zugzwang," sahutku. "Paradoks yang memaksa langkah terjebak dalam kebimbangan, meski tahu setiap pilihan legal yang tersisa—hanya akan menuntun pada kekalahan presisi yang tertunda.”

“Pantas saja menjengkelkan, Nona. Sebab pilihan siasat cerdik pertahanan yang tersisa ialah di antara mengorbankan segelintir bidak atau mendesak remis secara terhormat; agar tiada kemenangan mutlak maupun kekalahan telak.”

"Pilihanmu?"

"Tentu memaksimalkan kedua opsi; daripada menyerah sedari awal hanya karena tahu kalkulasinya sudah diperkirakan mustahil." putusnya final, tanpa keraguan. "Menurutmu?"

"Jikalau ditinjau dari segi politik bermain, menghalalkan segala upaya demi mencapai opsi remis meski mengharuskan mengorbankan bidak—memang merepresentasikan ironi kemewahan dominasi milik para elite yang punya ruang untuk bertaruh karena menguasai kendali papan. Lantas, bilamana kepatuhan pada aturan formal hanya memperpanjang masa penindasan dan melegalkan penjegalan demonstrasi perlawanan, apakah merusak konstitusi permainan secara anarkis dapat dinilai sebagai kejahatan moral?"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Pretend to Forget
Afifah Azzahra
Flash
Interval Langkah
Tarisa Adistia
Novel
Bronze
Kattok Mencari Dalang
G. A. Puspagathy
Novel
Metamorfosis²
Jia Aviena
Novel
Kisah Kecil Sebuah Peralihan
Indradi Octodhiyanto
Novel
Bronze
Jalan Lain Menuju Pulang
Galih Priatna
Skrip Film
AT MY 20+
RATIH MILAWATI NINGRUM
Cerpen
Jejak Es Lilin di Bawah Pohon Mahoni
Ezra Jo
Novel
Bronze
Tetes Embun
Elawati
Komik
Bronze
This is Classic Love Story
Drawshocker
Skrip Film
Cinta Sampai Mati
Nakshatra B.
Flash
Bronze
Nasi Lemak MRT Singapura
Silvarani
Novel
Loom In
kaaespe
Flash
Bronze
Tetangga Depan Rumah
qiararose
Flash
Bronze
Putri Cantik
Nasyafaav
Rekomendasi
Flash
Interval Langkah
Tarisa Adistia
Novel
Aksara Lara Niraksara
Tarisa Adistia