Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Menang Lagi
1
Suka
3,320
Dibaca

Melihat ke arah dompet, Sandi mulai berpikir untuk mencuri roti di atas rak paling atas minimarket.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Orang-orang masih lalu lalang. Hanya ia yang mematung di depan rak itu.

Ia memberanikan diri menoleh ke arah CCTV. Alat itu menempel pada plafon di pojok atas. Ia mulai tergoda untuk melambaikan tangan padanya. Imajinasinya bermain liar seakan-akan sedang mengikuti kontes bertemu hantu seperti acara mistis di televisi.

Pikiran itu secepat mungkin ia tepis. Ia kembali fokus pada roti-roti yang sedang berbaris menggoda itu dan juga ia telah menelan ludah berkali-kali.

Dompetnya masih terus ia usap. Kembali ia buka untuk kesekian kali. Masih kosong. Tetap kosong. Doanya kini kencang, sekencang merpati terbang dalam perlombaan.

Mulutnya mulai komat-kamit. Ia mulai membaca berbagai doa. Dari satu agama ke agama yang lain. Kini semua pencarian kebenaran batin itu sedang diuji. Padahal sebelumnya ia begitu bangga tidak bertuhan.

Ia mulai mengabaikan bisikan-bisikan setan yang semakin nyata. Ia sempat mengira ini semua adalah halusinasi. Seakan-akan tangannya berhasil meraih sebungkus roti itu dan membawanya menuju kasir.

"Sudah, Mas? Itu saja?" Seorang petugas jaga menyapa. Ia terbelalak. Kedua matanya melotot seakan melompat keluar.

"Tunggu, Mas. Sebentar." Ia bergegas kembali ke rak roti itu. Berjalan bagai hantu hingga sampailah di tempat semula.

"Ambil saja…" Ia mulai mendengar suara-suara setan itu lagi. "Kalau mau ambil saja. Ambil yang kamu mau." Suaranya semakin terdengar jelas. Ia menoleh ke segala arah. Tidak satu pun, atau apa pun, berada di dekat telinganya.

Jantungnya berdegub kencang. Bahkan terdengar hingga ke telinganya.

"Tidak… Aku tidak boleh mencuri." Jawabnya lirih. Tentu pada diri sendiri.

"Ah, ambil saja… Mereka terlalu sibuk untuk menggugat satu orang ke pengadilan…" Bisikan itu tampak lihai merayu.

"Tidak… Aku tidak mau. Aku tidak mau makan makanan yang haram." Balasnya lagi. Suaranya semakin lirih.

"Ayolah… Kamu bisa pingsan kalau terus menerus begini. Ambillah, makan, dan bersenang-senanglah!"

Kepalanya mendadak sunyi. Seakan-akan suara udara dan angin pun lenyap pergi tak berbekas. Ia menangkap satu saja kata yang terlintas meluncur dari mulut setan itu. Pingsan.

Tanpa pikir panjang ia pun menjatuhkan diri ke lantai. Berusaha untuk pura-pura pingsan. Berusaha untuk tidur di lantai.

Tentu saja berhasil. Suara tubuh menghantam lantai itu begitu nyaring. Seluruh ruangan memperhatikannya. Semua orang seakan-akan ingin tahu, tiba-tiba menjadi peduli. Ia berhasil mencuri semua perhatian yang ada di sana, kecuali tentu saja CCTV.

Kesadarannya mulai memudar dan menghilang. Kini ia tidur tenang.

Lima belas menit berlalu. Terik matahari berhasil membangunkannya. Silau cahayanya menusuk mata dan memaksanya untuk segera meraih nyawanya yang terpencar di udara.

"Kenapa, Mas? Sakit?" Tanya seorang perempuan yang duduk di sampingnya. Ia terkejut.

"Siapa?" Tanyanya.

"Siapa? Masnya pingsan itu loh tadi… Ini saya temenin sama teman-teman saya." Dua orang pria berdiri tidak jauh dari mereka. Ia mulai menduga kalau mereka semua adalah mahasiswa. "Ini ada air mineral sama roti. Dimakan ya, Mas."

Perempuan itu pun pergi. Meninggalkannya sendiri. Sesaat ia sempat berpikir malaikat telah mencabut nyawanya. Ia menatap roti dan air mineral itu. Tenggorokannya benar-benar kering. Dengan cepat tangannya menyambar roti dan mengunyahnya rakus.

"Mantap ya, berhasil juga kali ini." Ucap petugas minimarket yang melongokkan kepalanya.

Ia hanya tersenyum penuh kemenangan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Menang Lagi
Hanif Ilham Mahaldi
Skrip Film
Yang Tak Terucap
Anggie Amelia
Flash
Bronze
Kolak Labu
AndikaP
Flash
Ilomilo
sheambisius
Novel
Orca and The Flower Ice
Adinda Amalia
Novel
Resonansi
Lana
Flash
Bronze
Kisah
Febby Arshani
Flash
Muak
sheambisius
Novel
Bronze
Lynn
Onet Adithia Rizlan
Novel
Senja yang Tak Benar-Benar Pergi
Arzam Perdana Lubis
Skrip Film
Me Love Me
Romaliah
Flash
Penggali Kubur
Writer In Box
Cerpen
Surat dari Penggemar
Heinrich Wilhelm Franz Schantzfeuer
Novel
My Amnesia
Nela Vitriani
Novel
Bronze
Robot
Rama Sudeta A
Rekomendasi
Flash
Menang Lagi
Hanif Ilham Mahaldi
Flash
Ibu Lupa
Hanif Ilham Mahaldi
Flash
Mati Kemarin
Hanif Ilham Mahaldi