Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pengawal Pribadi
1
Suka
22
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Kalau dalam lima detik lagi kamu belum keluar, pintunya saya dobrak."

Aku melirik jam lalu mulai menghitung, empat menit lima puluh delapan detik.

"Silakan."

Tidak ada jawaban, dan waktu lima detik itu berlalu, lalu berikutnya.

Brak.

Pintu kamarku benar-benar copot, seorang pria berjas hitam berdiri di ambang pintu sambil menatap engsel yang kini tergeletak mengenaskan di lantai.

"Oke." Ia menghela napas.

"Aku baru pertama kali merusak properti majikan sebelum mulai bekerja."

Aku menyilangkan tangan.

"Kau siapa?"

"Betta."

"Aku tidak tanya nama ikan cupangmu."

Ia berkedip sekali.

"Namaku memang Betta."

"Oh."

Aku tetap tidak merasa bersalah. Ia mengeluarkan sebuah amplop.

"Mulai hari ini saya ditugaskan menjaga Nona."

Aku tertawa keras sampai perutku sakit. Lalu kutunjuk gerbang rumah yang bahkan lebih tinggi dari tembok Benteng Vredeburg .

"Aku tinggal di rumah yang dijaga dua belas satpam."

"Iya."

"Ada tiga puluh enam CCTV."

"Iya."

"Ayahku mantan jenderal."

"Iya."

"Lalu kau mau menjagaku dari apa?"

Ia berpikir sebentar.

"Dari keputusan-keputusanmu."

Aku berhenti tertawa.

"Maaf?"

Ia membuka map lain.

"Laporan tiga bulan terakhir."

Ia mulai membaca.

"Keluar rumah pukul dua dini hari karena ingin membeli es krim rasa stroberi."

Aku berdehem.

"Tersesat di pusat perbelanjaan sendiri."

"Itu karena denahnya jelek."

"Naik taksi yang salah sampai provinsi sebelah."

"Itu sopirnya terlalu ramah."

"Mencoba memasak mi instan tanpa memasukkan air."

"Itu eksperimen."

"Mengirim uang kuliah ke nomor rekening tukang galon."

"Itu...."

Aku mengangkat telunjuk.

"Tunggu."

Ia menunggu.

"Aku memang sebodoh itu?"

Ia menutup map.

"Masih ada tiga puluh dua halaman lagi."

Aku tiba-tiba merasa Tuhan terlalu jujur saat menciptakan saksi hidup, sampai harus menyimpan begitu banyak catatan kebodohanku dan memberikannya kepada seseorang yang mengaku sebagai "pengawal pribadiku".

"Kakekku yang menyuruhmu?"

"Iya."

"Orang tuaku?"

"Menyetujui."

"Para satpam?"

"Mereka membuat grup khusus."

Aku memejamkan mata.

"Grup apa?"

"'Menyelamatkan Nona Sebelum Terlambat'."

"..."

"Aku adminnya." jawab si laki-lai berjas hitam itu, masih dengan posisi siaga.

Aku menatap langit, barangkali akan lebih baik jika meteor jatuh sekarang juga, menghantamku sekalian menghancurkan seisi rumah, termasuk penjaga pribadiku itu. Sayangnya Tuhan tampaknya sedang menikmati penderitaanku.

"Baik." Aku mengembuskan napas. "Kalau begitu, mulai hari ini aku akan membuat hidupmu sengsara sampai kau menyerah."

Betta mengangguk pelan.

"Semua pengawal sebelum saya juga berpikir begitu."

Aku mengernyit.

"Sebelum?"

"Iya."

"Lalu mereka ke mana?"

"Satu mengundurkan diri."

"Dua?"

"Menikah."

"Tiga?"

"Meninggal."

Aku membeku.

"Karena apa?"

Betta mengeluarkan ponsel.

Memperlihatkan sebuah berita.

Pengawal pribadi putri keluarga Mahardika tewas ditembak ketika menggagalkan upaya penculikan enam bulan lalu.

Dadaku mendadak sesak, itu kejadian gara-gara keteledoranku sebulan lalu.

"Ayahku bilang dia pindah kerja."

"Itu supaya Nona tetap tidur nyenyak."

Ia memasukkan kembali ponselnya.

"Lelaki pemesan penculikan nona baru bebas dari penjara minggu lalu."

Aku masih diam.

"Dan sejak pagi tadi."

Ia menoleh ke jendela.

"...mobil hitam yang sama sudah tiga kali melintas di depan rumah."

Suara mesin mobil terdengar pelan dari luar pagar. Tiba-tiba aku ingin meralat permintaanku kepada Tuhan yang sempat singgah di benakku barusan.

Sekarang aku berharap pria asing yang baru saja mencopot pintu kamarku itu benar-benar tahu cara melindungiku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Hujan Setelah Pelangi
Rahmawati
Flash
Pengawal Pribadi
Hans Wysiwyg
Flash
KESUNYIAN YANG MEMEKAKKAN
Tourtaleslights
Novel
Gold
KKPK The Giant Cat
Mizan Publishing
Flash
PARIYEM HAMIL
Embart nugroho
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Flash
RACUN DATANG BERTAHAN
Tourtaleslights
Flash
SIMPUL YANG KUAT
Tourtaleslights
Flash
DENGUNG YANG TAK PERNAH TIDUR
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
LUHITO
Lina Budiarti
Cerpen
KAPSUL WAKTU
Rudie Chakil
Novel
Bintang Lapangan
Kenon BB
Novel
Bronze
Jalan Lain Menuju Pulang
Galih Priatna
Novel
Masa Lalu Itu...
Thoriq Hood
Novel
Bronze
Setengah Ibu
Larose
Rekomendasi
Flash
Pengawal Pribadi
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg
Cerpen
RUMAH TERAKHIR
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kencan Buta
Hans Wysiwyg
Cerpen
THE CHOICE
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Rezeki Mandra Dipatok Saep
Hans Wysiwyg
Cerpen
Apron Muyi
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Flash
SAM DAN MESIN UANGNYA
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Flash
SUPERMAN IN-KUMBEN
Hans Wysiwyg
Cerpen
SUNYI SEKALI
Hans Wysiwyg