Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebuah Opera permainan Sang Penjaga Surga
Di tangannya lah sesiapa yang layak dan tidak layak.
Semua yang ia beri dihitung ketat, semua yang ia lalaikan menguap di udara.
Pena di tangannya tidak berhenti menulis sumpah dan catatan sesiapa saja yang berbau neraka.
Dan sibuk memberi tanda centang tentang sesiapa saja yang menurutnya berbau surga.
Di tangannya pula ada lembaran lembaran apa yang harus dilakukan orang orang agar ia memberikan kalung surga.
Kalung surga palsu yang hanya berisi rantai untuk menjadi budak yang menyembah dirinya yang malas dan tidak bisa melakukan apa apa.
Diberikannya kalung surga kepada orang yang menguntungkan ego rapuhnya.
Diberikannya kalung neraka kepada orang yang membuatnya tak nyaman.
....
Sungguh aku sudi berkalung neraka
Daripada aku harus mengorbankan sesiapa dan apapun yang aku cinta untuk berujung sama atau mengingatkanku bagaimana aku berkalung rantai bergerigi tajam yang berbau wewangian moral.
"Lagipula, siapa yang bercita cita masuk pada surga dalam kepalamu? "
"Surga dari manusia rapuh yang memasak agama untuk menambal egonya dan menjerat orang lain hanyalah surga dari kerdus lapuk nan bau"
"Siapa yang bercita cita masuk dalam surga di kepalamu?"
"Yang pasti bukan aku!"
"Tuhan yang Maha Mengetahui dan pemilik segala ilmu tidak mungkin membuat agama dangkal seperti yang kau promosikan!"
"Kau merasa sebagai tangan kanan Tuhan padahal hanya manusia yang membendung surga Tuhan dan menciptakan surga kerdus penuh bau air liur dan bau kotoran gigi yang diperjualbelikan."
"Kau membendung orang orang yang hendak mencari jalan ke surga Tuhan yang Maha Besar agar mereka tersesat dan masuk pada istana kerdus di surga air liur dan kedangkalan pikiran!"
"Sudah, jangan tawarkan padaku tiket surgamu itu. Aku tidak akan terpesona."
"Aku berharap surga yang abadi dan kokoh milik Tuhan Besarku !"
"Aku menyembah Tuhanku Yang Maha Bijaksana serta Berkehendak, bukan menyembah serapah halus maupun kasar yang memabukkan dari bau mulut dan ludah yang kau pamerkan sebagai jalan kebenaran."