Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Sakit
0
Suka
1,268
Dibaca

Tubuhku meradang terpilih pilu

"Tolong ... tolong belikan obatku ...."

Diberikanlah obat itu,

Lalu sakitku beberapa hari masih belum sembuh.

"Kapan kamu sembuh? Habis berapa untuk pengobatanmu ini?"

Kini, bertambah satu lagi sakitku.

....

Tubuhku meradang pilu

"Tolong aku ... badanku sungguh pilu ...."

Aku merintih.

Memohon, berharap seseorang melihat keadaan rapuhku dan menolongku dengan lembut.

Akhirnya seseorang datang, dengan letih aku mengadu.

"Perutku lagaknya sedang terhujam tombak, sakit sekali aku tak kuasa ...."

Ucapku sambil berkaca-kaca.

Suaranya aku dengar, "Sana ambil kompres jangan hanya diam saja! Kalau sudah tahu tubuh sakit itu ya jalan, beli obat bukan hanya diam!"

Aku pun memaksa diri untuk berjalan, mencari obat dan apapun yang bisa aku makan.

Sambil merintih kesakitan kutahan-tahan.

Sebab kini jantungku pula terhujam tombak.

...

Di kemudian hari aku kembali terkapar lagi.

Kali ini kepalaku seperti retak menjadi seribu.

Aku tak lagi bersuara, telah habis tenagaku untuk menahan denyut pilu.

Seseorang yang lain melihatku diam sambil menetes air mataku.

"Kenapa kau?" ucapnya.

"Pusing ..." ucapku letih sembari berharap ia datang dengan obat atau selimut hangat dan ucapan doa lekas sembuh.

"Kau sudah besar! Jangan seperti anak bayi! Cepat beli obat sana! Diam saja pusingmu tidak akan sembuh!"

Akupun beranjak, betapa perihnya jantung itu sampai aku lupa kepalaku yang retak seribu.

Akupun akhirnya tahu, sebaiknya kupendam lukaku, sebaiknya kusembunyikan saja air mata perihku, supaya sakitku hanya satu.

...

Suatu waktu lagi tetiba saja aku ambruk, aku sudah tahu bahwa haram bagiku untuk memohon pertolongan indah itu.

Berusahalah aku menambal perutku yang bocor itu, sendirian sambil menangis di jalan mencari makan dan pengobatan.

Sampai akhirnya aku tak kuasa lagi.

Aku hendak tumbang.

Bergegaslah aku menuju rumah dewa para manusia.

Aku lupa aku tak cukup sesaji untuk bisa membeli pertolongannya, sehingga aku harus pulang menahan sakitku sendirian.

Tatkala di sana aku lihat, sesiapapun pergi ke rumah dewa itu tiada yang pergi sendirian seperti aku malam itu.

Bertubi-tubilah kini rasa sakitku.

Tangisku pecah,

Jatuhlah aku dan harga diriku berserakan.

Kemudian obat dan perawatan pun datang.

Bantuan yang aku nanti itu datang.

Diiringi dengan petirnya.

"Seharusnya kalau tahu sakit itu bilang, bukannya apa-apa malah sok-sokan ditanggung sendirian."

Sekarang matilah aku, dihujam rasa sakit bertubi-tubi itu.

...

Maka kini,

"Ku tahan kuat saja tumbangku."

"Kubungkam saja mulutku."

"Ketika meradang tubuhku."

"Supaya sakitku hanya satu."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Sakit
Dinda Kusuma Ati
Flash
Debat Kusir Delman
hafan.ahmad
Flash
Nir-Fana
Matrioska
Cerpen
BOLATANGKAS : AGEN BOLA TANGKAS MICKEY MOUSE ANDROID RESMI 2023
BOLA TANGKAS
Flash
"Hujan di Tengah Musim Panas"
TATAN RUSNANTO
Flash
Bronze
Desa Naga Air
Silvarani
Flash
Bronze
Qitthun Realm
Raz Aka Yagit
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Cerpen
Protokol Terakhir
Penulis N
Novel
Aku Malu Menjadi Muslim
Jia Zayn
Flash
Reverse #2 : Mata
Yesno S
Flash
Reverse # 4 : Cahaya Paling Terang
Yesno S
Flash
PILIHAN!
Vica Lietha
Flash
Ketika Gerimis Bermula
Cheri Nanas
Flash
Bronze
Darah yang Menyatu di Tengah Kabut
Okhie vellino erianto
Rekomendasi
Flash
Sakit
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pengakuan
Dinda Kusuma Ati
Novel
Maya
Dinda Kusuma Ati
Flash
Surga Kerdus
Dinda Kusuma Ati
Flash
Jika Bukan Karena Engkau, Tuhan
Dinda Kusuma Ati
Flash
Di Ambang Pintu
Dinda Kusuma Ati
Flash
Awam
Dinda Kusuma Ati
Flash
Percakapan Lama
Dinda Kusuma Ati
Novel
From now to 1414 years ago
Dinda Kusuma Ati
Novel
Kelana Ruang Sang Merpati
Dinda Kusuma Ati
Cerpen
Duka
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pulang
Dinda Kusuma Ati
Flash
Kuda Delman
Dinda Kusuma Ati
Flash
Pergantian Siang dan Malam
Dinda Kusuma Ati
Flash
Dunia yang terikat pada jantungku
Dinda Kusuma Ati