Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Beberapa kata yang keluar dari mulut seseorang terkadang bisa dianggap sebagai candaan atau perkataan yang serius, tergantung bagaimana nada yang di ucapkan oleh orang tersebut. Namun, bagaimana dengan teks percakapan? bagaimana kita bisa tahu apakah kata-kata yang di kirimkan seseorang itu serius atau bercanda jika teks tersebut tidak memiliki nada?
Selama beberapa tahun setelah sang wanita menulis poin pertama dalam list Red yang ia temukan, ia baru saja menyadari bahwa ia menemukan poin baru yang bisa di tambahkan di list yang sudah ia buat. Poin itu sukses membuat sang wanita merasa begitu bodoh selama beberapa tahun mereka menjalin komunikasi.
Pola itu tidak muncul dalam bentuk bentakan, larangan, atau kata-kata kasar. Justru sebaliknya. Ia muncul dengan sangat halus hingga sulit dikenali. Pria itu selalu menjadi orang pertama yang terus mendukung sang wanita agar ia tidak berkecil hati dan terus berkembang.
"Kamu itu lebih dari yang kamu bayangkan, kamu itu cerdas."
Setidaknya itulah salah satu kalimat manis dan obat penenang yang selalu sang pria berikan kepada sang wanita. Siapa sangka obat penenang itu terlampau manjur sehingga membuat sang wanita memiliki banyak ambisi dan selalu haus untuk berkembang. Kalimat-kalimat itu membuat sang wanita merasa dihargai. Ia merasa akhirnya ada seseorang yang melihat potensi yang selama ini bahkan tidak bisa ia lihat sendiri.
Ketika sang wanita merasa gagal, pria itu mendengarkan setiap keluh kesahnya. Ketika ia menangis karena merasa tidak cukup baik, pria itu menghiburnya. Sedikit demi sedikit, ia menjadi tempat yang paling nyaman untuk bercerita. Sampai pada suatu hari, sang wanita mulai menceritakan mimpi-mimpinya. Ia ingin membangun karier di luar negeri. Ia ingin mewujudkan target-target jangka pendek yang sudah lama ia susun. Ia ingin memiliki usaha sendiri. Ia ingin terus belajar dan berkembang karena baginya, berhenti bertumbuh sama dengan berhenti hidup.
Pria itu mendukung semua mimpi tersebut. Setidaknya, begitulah yang imajinasi yang dibangun oleh sang pria untuknya.
Suatu ketika, sang wanita kembali merasa tidak percaya diri. Ia merasa masih jauh dari kata cukup dan mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri.
Pria itu membalas,
"Aku selalu mengakui dirimu itu pintar."
Lalu setelahnya, ia menyelipkan candaan yang membuat percakapan terasa ringan. Itulah yang dipikirkan sang wanita, sebuah teks tanpa nada yang kemudian ia anggap candaan karena ia tidak mencurigai pria itu.
Sang wanita merasa beruntung memiliki seseorang yang selalu mengingatkannya akan kemampuannya.
Namun, waktu menunjukkan sesuatu yang berbeda. Semakin sering mereka berdiskusi, semakin sering pula muncul satu kalimat yang awalnya terdengar seperti gurauan. Kata-kata yang selalu berhasil membuat sang wanita merasa bersalah akan pencapaiannya. Begitu manipulatif.
"Apalah daya, diriku tidak sepintar dirimu."
Hampir setiap kali pembicaraan menyentuh ilmu pengetahuan, karier, atau informasi baru, kalimat itu selalu menjadi penutup diskusi. Kalimat andalan itu selalu ia kirim melalui teks percakapan sehingga sang wanita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kalimat itu dimaksudkan. Apakah ia sedang bercanda? Sedang merendahkan diri? Atau sedang berharap sang wanita merasa bersalah?
Yang ia tahu hanyalah satu hal.
Semakin sering membaca kalimat-kalimat itu, semakin sering pula ia merasa sesak ketika menceritakan pencapaiannya sendiri. Sejak saat itu, ia mulai menyaring ceritanya, mengurangi antusiasmenya bahkan ia mulai menurunkan egonya demi membuat sang pria tidak mengeluarkan kalimat menyesakkan itu.
Semua itu terus belangsung menyiksa sang wanita karena ia selalu merasa bersalah akan pencapaian dirinya sendiri hingga pada akhirnya, sang wanita menyadari bahwa semua itu adalah kalimat manipulatif.
Ia akhirnya menyadari bahwa pria itu tidak senang jika ia tumbuh melampaui sang pria, ia juga menyadari mengapa komunikasi itu sangat menyiksa dirinya, itu semua karena ia memaksa dirinya menjadi orang lain dihadapan pria itu.
Selama ini ia berusaha untuk menjadi wanita yang pria itu inginkan, dan sosok itu sangatlah jauh dari jati diri sang wanita sehingga ia merasa begitu sesak dan menderita.
Sekarang, di atas buku tulisnya, tepat di bawah nomor 1 ia menuliskan
Red nomor 2 : Pria yang mempunyai rasa rendah diri akan selalu membawa wanitanya menjadi selevel di bawah dirinya
Di situlah sang wanita memahami sesuatu.
Seseorang yang benar-benar mendukungmu akan termotivasi melihatmu bertumbuh.
Sebaliknya, seseorang yang dikuasai rasa tidak aman terkadang tidak memintamu berhenti secara langsung. Ia hanya membuatmu merasa bersalah setiap kali kamu melangkah lebih jauh dan menjadi lebih hebat darinya. Dan sering kali, manipulasi yang paling sulit dikenali bukanlah yang diucapkan dengan nada marah. Melainkan yang dibungkus sebagai candaan.