Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hangat.
Mungkin hanya kata itu yang bisa terlintas dipikiranku saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang sangatlah berbeda dengan tempat tinggalku sebelumnya. Aku bisa merasakan udara yang jauh lebih hangat, bersama dengan wajah-wajah baru yang asing bagiku. Rambut-rambut hitam itu membuat mereka nampak identik satu sama lain, sangat berbeda dengan orang-orang di tempat tinggalku yang dapat dengan mudah dikenali hanya dari warna rambutnya.
Setelah menempuh satu jam perjalan, kami pun sampai di sebuah kompleks perumahan yang tampak padat. Dari dalam jendela aku dapat melihat jejeran rumah-rumah yang memiliki bentuk dan warna yang berbeda. Saat tiba di persimpangan, aku melihat seekor anjing putih berukuran besar yang berjalan dari ujung jalan di sebelah kiri, ia menatap ke arah mobil kami dengan matanya yang bulat dan menggemaskan. Aku terus memperhatikannya sampai ia menghilang dari pandanganku seiring arah mobil kami yang berbelok ke arah yang berbeda.
"Sebentar lagi kita sampai. We'll be home soon," kata ayahku.
Aku hanya tersenyum tipis sambil terus memperhatikan jalan. Sementara ibuku tampak sangat antusias. Ia bahkan menegakkan tubuhnya dan menoleh ke kanan dan kiri seolah akan menemukan harta karun. Tak berselang lama, mobil kami berhenti di depan sebuah rumah klasik berwarna cream dengan aksen kayu pada pintu dan jendelanya. Di depan rumah itu terdapat sebuah pohon di sisi kanannya dan tak jauh dari sana berdirilah seorang pria paruh baya dengan kaus berkerah berwarna abu-abu yang tersenyum ke arah kami.
Kami pun turun dan menghampiri pria itu. Ayahku langsung menjabat tangan dan memeluknya dengan ramah. Pria itu mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumah, sementara ia sibuk membantu supir taksi kami menurunkan koper-koper dari bagasi. Ayah berjalan di depan dan membuka pintu rumah. Dari luar aku bisa melihat rumah yang bersih dan rapi, tampak sangat terawat meskipun sudah belasan bahkan puluhan tahun tidak ditinggali.
"Masih bagus ya rumahnya," ujar ayah.
Aku mengangguk dan berjalan masuk mengikuti ayah dan ibuku. Kami pun berkeliling melihat area dalam rumah. Ayah dan ibuku fokus berkeliling ke dapur dan halaman belakang, sedangkan aku lebih tertarik untuk berkeliling di lantai 2. Di sana terdapat dua kamar yang sama besar dan sebuah ruang terbuka dengan sofa kulit yang menghadap ke arah balkon. Aku pergi ke balkon dan melihat lingkungan sekitar yang tampak cukup jelas meski sedikit terhalang pohon di sisi kanan.
"Boom!" suara ayahku cukup membuatku terkejut. Aku pun menoleh dan reflek memukul lengan kiri ayahku dengan ringan.
"What you doing, Tata?" tanya ibuku sambil terkekeh melihat ekspresi kagetku.
"Mom..."
"Bercanda, Ta.. Lagian kamu ngapain melamun di sini?" tanya ayahku.
Aku memutar mata dengan malas, "Lagi lihat-lihat aja."
Ayah dan ibuku tersenyum. Mereka pun ikut menikmati pemandangan kompleks perumahan dari balkon bersamaku. Aku melihat ayahku memandangi pohon di depan rumah kami yang menutupi pemandangan perumahan bagian kanan.
"Pohonnya agak ganggu ya Pa?" ujarku.
Ayahku tersenyum tipis dan mengangguk, "Iya juga ya."
"Wanna cut it down?" tanyaku.
"No," jawab ayahku dengan singkat dan entah mengapa menurutku terdengar tegas.
Sesaat kemudian ayahku turun tanpa mengatakan apapun. Meski aku merasa hal itu sedikit aneh, akan tetapi aku tak mau terlalu memikirkannya. Setelah beberapa waktu menikmati pemandangan dari balkon dan memilih kamar tidur, jam makan siang pun tiba.
Aku mendengar suara pria paruhbaya yang tadi menyambut kami di depan rumah memanggil dari arah tangga, "Permisi Ibu, Mbak, makan siangnya sudah di siapkan.. Mari, silahkan makan di bawah.."
"Terima kasih Pak," jawab ibuku dengan aksen yang sedikit aneh membuatku ingin tertawa.
Sampai di ruang makan, aku melihat ayahku duduk di sana sambil meminum kopi bersama pria paruh baya itu. Wajah ayahku nampak gelisah, berbeda sekali dengan beberapa waktu sebelumnya. Aku dan ibu hanya saling pandang lalu duduk di kursi yang ada di seberang ayahku. Tiba-tiba ayahku berdiri dan bersiap pergi ke luar rumah. Hal itu membuat ibuku bertanya kepada ayah, namun ayah hanya menjawab ingin pergi ke luar sebentar tanpa mengatakan tujuannya dengan jelas. Ayah pergi dengan tergesa dan mengambil sebuah bingkisan yang ada di atas sofa ruang tamu. Aku mencoba mengikutinya dari dalam rumah, namun pergerakan ayahku benar-benar tak terkejar. Aku pun hanya bisa kembali ke ruang makan dan melanjutkan makan siang bersama ibuku dan pria paruh baya yang belakangan kuketahui bernama Pak Roni.
Sekitar lima menit berlalu, ayahku kembali dengan bingkisan yang sama masih ia bawa di tangan kirinya. Aku menyadari raut wajahnya berubah menjadi lebih pucat dan nampak sendu. Ia meletakkan bingkisan itu kembali di atas sofa seperti sebelumnya. Tanpa mengucapkan apapun, ia ikut bergabung bersama kami dan mulai menyantap makan siangnya.
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir sepekan kami menghabiskan waktu liburan di kota ini. Semua berjalan normal dan kami juga beberapa kali pergi ke kota lain untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata atau hanya sekedar mencicipi kuliner khas daerah itu. Akan tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku. Setiap hari bahkan setiap ada waktu luang, ayahku selalu menatap ke arah pohon di bagian kanan rumah kami.
Awalnya aku mengira itu hanya kebetulan, tapi aku rasa semakin lama ayahku semakin sering memperhatikan pohon itu hingga ia kerap tak mendengar jika aku atau ibu memanggilnya. Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat pohon itu spesial di mata ayah. Namun, aku juga belum bisa memastikannya karena tak ada seorang pun yang bisa aku tanyai tentang hal ini. Orang tua ayah alias kakek nenekku sudah tiada, terlebih ayahku merupakan anak tunggal sehingga tak ada paman atau bibi yang bisa aku tanyai.
Suatu sore saat aku menikmati coffee time dengan ayah di balkon lantai 2, aku memberanikan diri bertanya padanya, "Ada apa sih Pa sama pohon itu?"
Ayahku menoleh dengan wajah bingung, "Pohon?"
"Iya, pohon. You're always staring at that tree Dad!" ujarku dengan kesal.
Ayahku terdiam beberapa saat, "Pohon itu memang baik untuk lingkungan, halaman rumah kita jadi teduh apalagi di siang hari yang panas. Dulu ayah yang tanam mungkin sekitar 30 tahun yang lalu."
Aku mengangguk paham,"Oh.. that's why you love that tree so much right?"
"Yeah. I love it. But I don't stare at that tree, Ta."