Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
MAKANAN SULTAN
1
Suka
164
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Bagi kebanyakan orang, kardus bekas adalah sampah. Tapi bagi Udin, bocah sepuluh tahun dengan rambut kaku ala sapu ijuk, sebuah kardus pizza adalah cetak biru masa depannya.

Kardus itu ia temukan bulan lalu di tong sampah. Masih ada bercak saus tomat dan sisa aroma keju yang menempel di ujungnya. Udin merobek logonya, membawanya pulang ke kolong jembatan.

Sebelum tidur dengan perut keroncongan, ia akan berpidato di depan adik-adiknya. 

“Kalian lihat gambar ini? Orang kaya menyebutnya pijja. Kalau nanti Abang sukses, Abang belikan kalian Pijja segede ban tronton! Kita makan sampai perut kita buncit!” Kedua adiknya menelan ludah pasrah.

Jangankan pijja segede ban tronton, bisa beli segenggam beras di warung Mak Esah susahnya minta ampun. Udin harus mengumpulkan botol plastik bekas seharian, itu pun kadang hanya cukup untuk membeli mie instan satu bungkus yang kuahnya dibikin seember agar mereka bertiga bisa kebagian. 

Hidup ini lucu, pikir Udin. Orang kaya pusing mikirin diet karbohidrat, sementara Udin pusing mikirin cara agar cacing di perutnya tidak mati kelaparan.

Jam sudah menunjukkan tengah malam. Udin menyeret karung goninya yang baru terisi setengah, melewati basement parkir sebuah mall mewah yang sudah tutup. Lampu neon berkedip-kedip sepi. Suara langkah kaki Udin yang memakai sandal jepit beda sebelah, menggema di antara pilar-pilar beton.

Sebuah kotak “Pizza Hit” tergeletak. Udin celingukan. Kosong. Tidak ada mobil, tidak ada satpam, tidak ada siapa-siapa. Ia mengendap mendekati kotak itu, dengan tangan gemetar Udin menyentuh permukaan kardus tersebut. Hangat.

“Ini pasti punya orang kaya yang lupa pas masukin barang ke bagasi,” gumam Udin. “Kalau aku ambil, namanya mencuri. Kata almarhum Bapak, biar miskin asal jangan jadi maling.”

Tapi perutnya memprotes keras, ‘Gak usah sok suci, Din! Adik-adikmu di rumah lagi gigitin kuku nungguin kamu bawa makanan!’ Udin bimbang bukan main.

“HEI, SEDANG APA KAMU DI SANA!”

Sebuah suara bariton menggema keras dari ujung lorong basement, membuat tubuh Udin membeku ketakutan sambil memeluk sekotak pizza hangat di dadanya ….

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
MAKANAN SULTAN
Maryanti Oktaviani
Flash
Bronze
Sang Diva
Rere Valencia
Flash
Bronze
Putri Kami
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Diary SMP
Haris Fadilah Hryadi
Flash
Mencari Kacamata
Rafael Yanuar
Flash
Tiga Hati, Satu Ustaz
Hans Wysiwyg
Komik
Sebutir Manusia
Sukriyadi
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
Kilau Asli
myht
Cerpen
Bronze
Yeti dan Terik yang Abadi
Darian Reve
Flash
Bronze
Siapa??? Rusak Kacamata Nenek
Emma Kulzum
Flash
Penghuni Baru
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Kucingku Kena Pelet
Novita Ledo
Flash
Bom
Rahma Nanda Sri Wahyuni
Cerpen
Bronze
Mukini & Mukidi
Ariyanto
Rekomendasi
Flash
MAKANAN SULTAN
Maryanti Oktaviani
Flash
Saat Kelemahan Jadi Kemenangan
Maryanti Oktaviani
Flash
TAMAT.
Maryanti Oktaviani
Flash
Kuyang
Maryanti Oktaviani