Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku terlahir hanya dengan satu tangan. Orang-orang selalu memandangku dengan kasihan. Mungkin batin mereka berkata, dengan dua tangan saja hidup terasa berat apalagi hanya punya satu tangan. Siapa yang kuat coba?
Menjadi anak bertangan satu, aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh saudara-saudaraku. Misalnya ketika masih kecil, aku tidak bisa berebutan mainan. Apapun mainan yang ku pegang pasti akan direbut dan aku hanya bisa menerimanya sebab ibu bilang, "Sudahlah kau main yang lain saja."
Pun begitu ketika aku remaja. Aku tidak bisa menerima banyak hadiah. Selalu diambil dan diambil terus oleh saudara-saudaraku. "Sudahlah kau satu saja cukup. Nggak boleh maruk!"
Hidup hanya dengan satu tangan membuatku kesusahan. Bahkan ketika aku sudah minggat dari rumah dan mendapat uang dari hasil keringatku sendiri, aku tetap saja tidak bisa menikmatinya. "Sudahlah kau kan belum berumah tangga perlu uang untuk apa? Kasian saudaramu itu nggak bisa beli susu buat anaknya."
Batas kesabaranku telah dikuras habis. Air mataku menetes tanpa aku perintah. Di sela isak tangisku, hatiku berbicara pada ibu, "Aku bukan Tuhan yang maha memberi, Bu. Tanganku ada dua tetapi mengapa ibu selalu mengambil satu dariku? Tidakkah Ibu peduli kepadaku?"
Aku pikir ibu akan meminta maaf lalu berhenti mengambil hakku. Tapi nyatanya ibu tetaplah pencuri. "Sudahlah kau sebagai kakak harus pengertian dengan adik-adikmu. Jika bukan kakaknya yang peduli siapa lagi?"
Lantas siapa yang peduli padaku, batinku yang tidak pernah bisa ku sampaikan pada ibu.
Aku takut. Sangat takut. Bagaimana jadinya jika aku terus melawan dan berakhir tangan kananku yang tersisa akan dicurinya lagi? Aku akan menjadi apa? Tengkorak yang tidak akan disirami kembang dan sebotol air sumur?
Sepertinya lebih baik begitu.