Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Satu Dini Hari
0
Suka
38
Dibaca

Setelah berhenti bermain instagram, aku menaruh ponsel di sisi bantal, lalu menarik selimut untuk persiapan tidur.

“Katanya mau nikah di umur dua puluh tiga tahun. Kok, sampai sekarang nggak kejadian?”

Mulut siapa itu?!

Aku yang nyaris terlelap ini spontan membuka mata lebar. Sumber suara itu sudah mengambil tempat di sampingku, berbaring menghadapku.

Ah, dia lagi.

Tatapan nyalak kuberikan padanya. Tidak ada perasaan takut, gadis remaja itu malah tersenyum. “Katamu dulu paling lambat umur dua puluh lima, lho,” lanjutnya.

Biadab betul! Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Kenapa dia suka muncul di waktu aku ingin tidur, sih? Kenapa?!

“Bisa diam, nggak?” pintaku.

Dia menggeleng tegas. “Jawab dulu, nanti kamu baru bisa tidur.”

“Tapi aku lagi ngantuk, lho!”

“No, no, no….” Telunjuk tangannya bergerak tanda tidak setuju.

Sialan!

Seperti kejadian-kejadian sebelumnya, jika tidak dipaksa pergi, gadis ini tidak akan menghilang. Karena kesabaranku menipis, aku mencekik lehernya sekuat tenaga. Daripada mengerang kesakitan, dia malah tertawa. Apa aku kelihatan lucu di matanya?

Melihatnya semakin bahagia, aku jadi merasa kalah.

Aku membuang napas berat, terpaksa menjawab pertanyaannya. “Aku belum siap.” Genggaman tanganku di lehernya merenggang.

“Kenapa?” tanyanya dengan wajah menyendu. Aku bisa melihat kulit pipinya yang masih mulus seperti belum mengenal berbagai macam produk kecantikan.

“Banyak hal yang harus dipikirkan, tahu. Ini bukan soal dana pernikahan, tapi lebih pada substansi pernikahannya. Cinta doang nggak cukup. Kehidupan era dewasa itu memang banyak yang nggak sesuai ekspektasi.” Aku menjeda saat melihat keningnya berkerut. “Ngerti, nggak?”

“Makanya kalo ngomong itu dipikir dulu, jangan suka janji-janji.”

“LAH, KITA KAN ORANG YANG SAMA, KOCAK! MAKANYA KALO MASIH SEKOLAH ITU MULUTNYA JANGAN SUKA ASAL BUNYI!!”

Gadis itu tertawa, lalu sepersekian detik sosoknya memudar bagai uap air yang keluar dari ketel panas.

Melihat dia benar-benar pergi, aku meremas rambutku dan berdecak kesal. Sudah pukul satu lewat sepuluh. Aku menarik selimut hingga menutupi dagu, mencoba kembali terpejam, tapi kantukku sudah benar-benar hilang.

Ah, dia besok pasti bakal datang lagi.[]



— Deharuka 2026 —

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
AKU MENCINTAI PEREMPUAN ITU dengan NYAWAKU
Onet Adithia Rizlan
Flash
Satu Dini Hari
Deharuka
Cerpen
Nothing At All
mary dice
Novel
Tumblr Light
Pebio Maldini Putra
Novel
Bronze
Gadis Pemulung Sampah
Ismail Ari
Novel
Gold
Sekosong Jiwa Kadaver
Falcon Publishing
Novel
Aku Anak Nakal?
Firmansyah Slamet
Novel
Kanvas Bekas Luka
vaelorar
Novel
Putra Tersayang
A. F. Ferdians
Flash
Pemilik Kontrakan
Martha Z. ElKutuby
Cerpen
Bronze
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Novel
Bronze
Mirielle - The Drama Queen
Meriam Ester Lita Dumais
Novel
Spill The Beans
Sabila Adha
Novel
Bronze
Resolusi-Resolusi Gila
Ansito Rini
Flash
Perjalanan Mengunjungi Sahabat
Sulistiyo Suparno
Rekomendasi
Flash
Satu Dini Hari
Deharuka
Cerpen
Sansuyu Tumbuh Di Kepalaku
Deharuka
Cerpen
The Last Place We Belong
Deharuka