Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Satu Persen Setiap Pagi
0
Suka
17
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Fajar selalu merasa dirinya terlambat.

Di usia dua puluh tujuh tahun, media sosial dipenuhi teman-temannya yang sudah memiliki karier mapan, usaha sendiri, rumah pertama, atau setidaknya tujuan hidup yang tampak jelas. Sementara itu, ia masih bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil, tinggal di kamar kontrakan sederhana, dan sering menghabiskan malam dengan mempertanyakan mengapa hidupnya terasa berjalan di tempat.

Setiap pagi ia berjanji akan berubah.

Setiap malam janji itu menguap bersama rasa lelah.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang, hujan memaksanya berteduh di sebuah toko buku bekas. Ia tidak berniat membeli apa pun. Ia hanya ingin menunggu hujan reda.

Di sudut toko, seorang pria tua sedang merapikan buku-buku yang mulai kusam.

"Kamu kelihatan sedang membawa beban yang berat," katanya sambil tersenyum.

Fajar tertawa kecil.

"Kelihatan, ya?"

"Kadang wajah lebih jujur daripada kata-kata."

Mereka berbincang sebentar. Fajar menceritakan rasa kecewanya pada diri sendiri.

Pria tua itu tidak memberi ceramah panjang. Ia hanya mengambil sebuah buku catatan kosong dan meletakkannya di atas meja.

"Besok pagi, lakukan satu hal kecil yang membuatmu lebih baik daripada hari ini."

"Cuma satu?"

"Satu saja."

"Kalau tidak berhasil?"

"Coba lagi besok."

Fajar mengernyit. Rasanya terlalu sederhana untuk mengubah hidup.

Namun ia membawa pulang buku catatan itu.

Keesokan paginya, ia bangun lima belas menit lebih awal.

Hanya itu.

Ia menulis di halaman pertama:

"Hari ini aku bangun lebih pagi."

Malamnya, ia tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berhasil menepati janjinya sendiri.

Hari kedua, ia merapikan tempat tidur.

Hari ketiga, ia berjalan kaki sepuluh menit sebelum berangkat kerja.

Hari keempat, ia minum lebih banyak air daripada biasanya.

Hari kelima, ia membereskan meja kerjanya.

Semuanya terasa kecil.

Hampir tidak berarti.

Tetapi halaman demi halaman buku catatan itu mulai terisi.

Sebulan berlalu.

Perubahan besar memang belum terlihat.

Namun Fajar mulai menyadari sesuatu.

Ia lebih jarang terlambat.

Lebih mudah berkonsentrasi.

Kamarnya tidak lagi berantakan.

Tubuhnya terasa lebih segar.

Yang paling mengejutkan, ia mulai percaya pada dirinya sendiri.

Bukan karena hidupnya berubah drastis.

Melainkan karena ia membuktikan bahwa dirinya mampu konsisten.

Suatu sore atasannya memanggilnya.

"Ada proyek baru. Mau mencoba?"

Biasanya Fajar akan menolak karena takut gagal.

Namun kali ini ia menjawab,

"Saya akan mencoba."

Proyek itu tidak mudah.

Ia harus belajar menggunakan perangkat lunak baru yang belum pernah disentuh sebelumnya.

Dulu ia mungkin menyerah di hari kedua.

Sekarang ia mengingat kebiasaannya.

Satu langkah kecil.

Setiap hari.

Ia belajar tiga puluh menit setiap malam.

Sedikit demi sedikit.

Dua bulan kemudian, proyek itu selesai dengan baik.

Atasannya tersenyum bangga.

"Kamu banyak berubah."

Fajar hanya tersenyum.

Yang berubah bukan kemampuannya.

Melainkan kebiasaannya.

Suatu akhir pekan ia kembali mengunjungi toko buku tempat bertemu pria tua itu.

Namun toko tersebut tutup.

Bangunan itu bahkan tampak kosong.

Seorang pemilik warung di sebelah berkata,

"Toko itu sudah tutup hampir setahun."

Fajar bingung.

"Tapi saya ke sini dua bulan lalu."

Pemilik warung menggeleng.

"Sejak pemiliknya meninggal, tidak ada yang membuka lagi."

Fajar terdiam.

Ia memandang pintu toko yang terkunci.

Entah siapa pria tua yang ditemuinya saat itu.

Namun buku catatan yang diberikan masih ada di dalam tasnya.

Hari-hari terus berjalan.

Fajar mulai membaca lebih banyak buku.

Mengikuti pelatihan daring.

Belajar berbicara di depan umum.

Menabung secara rutin.

Berolahraga ringan.

Mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan.

Semua dilakukan dengan prinsip yang sama.

Tidak harus sempurna.

Cukup sedikit lebih baik daripada kemarin.

Dua tahun kemudian, Fajar dipercaya memimpin sebuah tim kecil.

Di hari pertama bekerja bersama anggota baru, seorang karyawan muda menghampirinya.

"Mas, saya merasa tidak cukup pintar untuk pekerjaan ini."

Fajar tersenyum.

Kalimat itu terasa sangat akrab.

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan baru dari lacinya.

"Saya mau kasih sesuatu."

"Apa ini?"

"Buku kosong."

Karyawan itu terlihat bingung.

"Isinya?"

"Kamu yang akan mengisinya."

"Dengan apa?"

"Dengan satu hal kecil yang berhasil kamu lakukan setiap hari."

Pemuda itu tertawa.

"Sesederhana itu?"

Fajar mengangguk.

"Perubahan besar sering datang dengan langkah yang terlalu kecil untuk disadari."

Malam itu, sepulang kerja, Fajar membuka kembali buku catatan pertamanya.

Halamannya hampir penuh.

Tidak ada pencapaian luar biasa.

Tidak ada catatan tentang menjadi orang terkaya atau paling hebat.

Hanya kebiasaan-kebiasaan sederhana.

Bangun lebih pagi.

Membaca lima halaman.

Menelepon ibu.

Berjalan kaki.

Mengucapkan terima kasih.

Belajar hal baru.

Tidur lebih awal.

Memaafkan diri sendiri saat gagal.

Tetapi justru kumpulan hal kecil itulah yang telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang berbeda.

Ia sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk membandingkan garis akhir hidupnya dengan garis tengah hidup orang lain.

Padahal setiap orang memiliki jalur yang berbeda.

Beberapa bulan kemudian Fajar diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar pengembangan diri.

Seseorang bertanya,

"Rahasia terbesar kesuksesan Anda apa?"

Fajar berpikir beberapa detik.

Lalu menjawab pelan.

"Tidak ada rahasia."

Ruangan menjadi hening.

"Saya hanya berhenti menunggu motivasi datang. Saya mulai bergerak meski hanya sedikit. Besok sedikit lagi. Lusa sedikit lagi."

"Kalau sedang gagal?"

"Saya istirahat. Bukan menyerah."

"Kalau kehilangan semangat?"

"Saya kembali ke langkah terkecil yang masih bisa saya lakukan."

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Namun bagi Fajar, penghargaan terbesar bukan tepuk tangan itu.

Melainkan kenyataan bahwa ia tidak lagi membenci bayangan dirinya di cermin.

Ia tidak menjadi sempurna.

Masih ada hari ketika ia malas.

Masih ada target yang gagal dicapai.

Masih ada rasa takut.

Namun kini ia tahu satu hal.

Kemajuan bukan tentang berlari paling cepat.

Kemajuan adalah tetap melangkah, bahkan ketika langkah itu begitu kecil hingga nyaris tidak terlihat.

Sebelum pulang, seorang peserta menghampirinya.

"Mas, menurut Mas, kapan waktu terbaik untuk mulai berubah?"

Fajar tersenyum.

Ia teringat halaman pertama buku catatan kosong yang pernah mengubah hidupnya.

"Lusa terlalu jauh."

"Besok sering menjadi alasan."

"Kalau memang ingin berubah, mulailah hari ini. Walaupun hanya satu persen."

Sejak saat itu, Fajar selalu membawa sebuah buku catatan kosong di dalam tasnya.

Bukan karena ia telah selesai bertumbuh.

Melainkan karena ia percaya, selama masih hidup, selalu ada satu halaman baru yang bisa diisi dengan versi dirinya yang sedikit lebih baik daripada kemarin.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Satu Persen Setiap Pagi
Penulis N
Cerpen
Tiket Sekali Jalan ke Diri Sendiri
Penulis N
Cerpen
Bronze
JAM DINDING KELUARGA
Kagura Lian
Novel
Kamar Tidur
N'zyna
Novel
Bronze
Yang Terpilih
Kemala88
Novel
Bronze
Kamuflase Cinta
Lestari Senja
Flash
Tanah Presisi
Adam Nazar Yasin
Flash
Bronze
Gion Night Time Slip
Silvarani
Flash
After Nine
Hans Wysiwyg
Flash
Traitor
Hans Wysiwyg
Flash
Bronze
Kata Mereka Akan Baik-Baik Saja
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
(this pain wouldn't be for) EVERMORE
Firlia Prames Widari
Novel
Heaven
Dwi nurbaiti
Flash
Monoton
Hans Wysiwyg
Novel
Breadwinner
Lifya Q. Raida
Rekomendasi
Flash
Satu Persen Setiap Pagi
Penulis N
Cerpen
Operasi Phantom: Jejak di Tengah Bayangan
Penulis N
Cerpen
Tiket Sekali Jalan ke Diri Sendiri
Penulis N
Cerpen
Satu Meja, Dua Rasa
Penulis N
Novel
Still Breathing
Penulis N
Novel
Lelaki Berpayung Merah
Penulis N
Cerpen
Pencuri Waktu (V)
Penulis N
Cerpen
Rumah yang Menunggu Lampunya Menyala
Penulis N
Novel
Bintang di Hari Selasa
Penulis N
Novel
Kisah Protokol X
Penulis N
Cerpen
KISAH DI BALIK HUJAN
Penulis N
Novel
Fading Heartbeats
Penulis N
Cerpen
BAYANG-BAYANG DI BALIK JENDELA
Penulis N
Novel
Chrono Prisoner
Penulis N
Cerpen
Kos-Kosan Nomor 7 Tidak Pernah Sepi
Penulis N