Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Surat yang Tak Pernah Salah Alamat
0
Suka
4,616
Dibaca

Naya selalu percaya bahwa ada beberapa perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Perasaan itu hanya belajar berdiam diri, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengetuk hati.

Tujuh tahun lalu, ia menulis sebuah surat.

Bukan pesan singkat.

Bukan surel.

Bukan pula pesan di media sosial.

Sebuah surat yang ditulis dengan tinta biru di atas kertas beraroma melati, ditujukan kepada seorang laki-laki bernama Arka.

Dalam surat itu, Naya akhirnya mengakui sesuatu yang selama tiga tahun hanya ia simpan sendiri. Ia mencintai Arka, sahabatnya sejak bangku kuliah.

Namun surat itu tidak pernah sampai.

Beberapa hari setelah ia mengirimkannya, Arka pindah ke luar kota karena menerima pekerjaan baru. Alamat yang dimiliki Naya ternyata sudah tidak berlaku. Surat itu tersesat di antara kantor pos, gudang penyimpanan, dan tumpukan kiriman yang tak pernah sempat diantarkan.

Naya tidak pernah mengetahuinya.

Ia hanya menganggap Arka memilih diam.

Dan diam, bagi Naya, adalah jawaban.

Tujuh tahun berlalu.

Naya kini memiliki toko buku kecil di sudut kota. Tempat itu tidak besar, tetapi selalu hangat. Rak-raknya dipenuhi novel, buku puisi, dan buku bekas yang masih layak dibaca. Di dekat jendela terdapat meja kayu tempat pelanggan bebas menikmati secangkir teh.

Suatu sore yang diguyur hujan, seorang kurir datang membawa sebuah amplop tua.

"Wah, ini masih ada ya?" gumam kurir sambil tertawa kecil. "Ketemu waktu kami merapikan gudang arsip kantor pos."

Naya menerima amplop itu.

Di bagian depan tertulis nama penerima.

Arka Mahendra.

Di pojok kiri atas terdapat nama pengirim.

Tangannya langsung bergetar.

Nama itu adalah namanya sendiri.

Cap pos menunjukkan tanggal tujuh tahun silam.

Ia memandang amplop yang mulai menguning itu cukup lama.

Surat yang selama ini dianggap telah menghilang, ternyata baru kembali kepadanya.

Malam itu Naya membuka kembali salinan surat yang dulu ia simpan di buku hariannya.

Setiap kalimat masih ia ingat.

Ia tersenyum kecil melihat betapa canggung dirinya saat berusia dua puluh tiga tahun.

Kalimat-kalimatnya sederhana.

Tidak berlebihan.

Hanya berisi kejujuran.

Kejujuran yang ternyata tidak pernah sempat diterima oleh orang yang dituju.

Di sisi lain kota, Arka menjalani hidup yang tak jauh berbeda.

Ia bekerja sebagai arsitek dan dikenal tenang oleh rekan-rekannya. Namun hanya sedikit orang yang tahu bahwa ia selalu menyimpan satu penyesalan.

Ia pernah ingin menyatakan perasaannya kepada Naya.

Tetapi tepat sebelum sempat melakukannya, ia harus pindah karena pekerjaan.

Ia menunggu kabar.

Tidak pernah ada.

Ia menganggap Naya memang hanya menganggapnya sebagai sahabat.

Waktu membuat mereka berjalan ke arah masing-masing.

Namun tidak pernah benar-benar melupakan.

Dua hari kemudian, Naya memberanikan diri mencari alamat kantor Arka melalui seorang teman lama.

Ia berdiri cukup lama di depan gedung tempat Arka bekerja.

Jantungnya berdegup lebih cepat dibandingkan saat pertama kali mengirim surat itu.

Ketika Arka keluar dari lobi, langkah mereka berhenti hampir bersamaan.

"Naya?"

"Arka."

Tak ada kata-kata selama beberapa detik.

Tujuh tahun terasa seperti hanya satu sore yang terlalu panjang.

"Apa kabar?" tanya Arka akhirnya.

"Baik."

"Kamu?"

"Masih belajar menjadi baik."

Mereka tertawa pelan.

Kecanggungan perlahan mencair.

Mereka memilih duduk di sebuah kedai kopi yang dulu sering dikunjungi saat kuliah.

Banyak hal telah berubah.

Gedung-gedung baru berdiri.

Jalan diperlebar.

Menu kedai pun berganti.

Namun aroma kopi dan hujan sore itu terasa sama.

Naya mengeluarkan amplop tua dari tasnya.

"Aku mau menunjukkan sesuatu."

Arka membukanya perlahan.

Begitu melihat tanggal pengiriman, dahinya berkerut.

Lalu ia membaca isi surat itu.

Tangannya berhenti pada kalimat terakhir.

"Kalau suatu hari kamu juga memiliki perasaan yang sama, aku akan menunggumu selama hatiku masih mampu menunggu."

Arka menutup mata beberapa saat.

"Naya..."

"Aku tahu surat ini sudah terlambat."

"Bukan suratnya yang terlambat."

"Lalu?"

"Kita yang terlalu lama saling diam."

Arka tersenyum getir.

"Aku juga pernah menulis surat."

Naya menatapnya heran.

"Apa?"

"Aku tidak pernah mengirimkannya."

"Kok bisa?"

"Aku takut ditolak."

Mereka saling menatap.

Lalu tertawa.

Ternyata dua orang yang saling mencintai bisa sama-sama kalah oleh keraguan.

Hari-hari berikutnya mereka mulai sering bertemu.

Bukan untuk mengejar waktu yang hilang.

Melainkan mengenal kembali versi terbaru dari diri masing-masing.

Naya mengenal Arka yang kini lebih tenang.

Arka mengenal Naya yang semakin berani mengejar mimpinya.

Mereka tidak lagi terburu-buru memberi nama pada hubungan itu.

Setelah kehilangan tujuh tahun, mereka sadar bahwa kebersamaan tidak perlu dipercepat.

Suatu sore Arka membantu Naya menyusun rak buku baru.

Ia menemukan sebuah buku tua.

Di dalamnya terselip salinan surat yang lain.

"Apa ini?"

"Itu cadangannya."

"Kamu menyimpan semuanya?"

Naya mengangguk.

"Aku tidak ingin suatu hari lupa bahwa aku pernah seberani itu."

Arka tersenyum.

"Aku justru ingin belajar keberanian itu darimu."

Beberapa bulan kemudian, tepat pada tanggal yang sama dengan cap pos surat pertama, Arka mengajak Naya kembali ke kantor pos tua tempat surat itu pernah tersesat.

Gedungnya masih berdiri.

Hanya catnya yang berganti.

Arka mengeluarkan sebuah amplop baru.

"Kali ini jangan sampai salah alamat."

Naya menerimanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Tulisan tangan Arka tetap serapi dulu.

"Kalau tujuh tahun yang lalu kita dipisahkan oleh sebuah surat yang tak pernah sampai, izinkan hari ini menjadi awal dari semua cerita yang akhirnya menemukan alamatnya."

Di bawah kalimat itu terdapat sebuah cincin sederhana yang diselipkan dengan pita kecil.

Arka menarik napas panjang.

"Naya, maukah kamu menjadi rumah yang selalu ingin aku tuju?"

Air mata Naya jatuh tanpa mampu ditahan.

Bukan karena kesedihan.

Melainkan karena akhirnya waktu memilih berpihak kepada mereka.

Ia mengangguk.

"Ya."

Hujan turun perlahan, sama seperti tujuh tahun lalu.

Namun kali ini tidak ada surat yang tersesat.

Tidak ada kata-kata yang tertahan.

Tidak ada lagi kesunyian yang disalahartikan.

Hanya dua hati yang akhirnya memahami bahwa cinta bukan selalu tentang siapa yang datang lebih cepat.

Kadang cinta hanya membutuhkan keberanian untuk tetap percaya, meski sempat kehilangan arah.

Dan sejak hari itu, di toko buku kecil milik Naya, tersimpan sebuah bingkai berisi amplop tua yang telah menguning.

Di bawahnya terdapat tulisan kecil:

"Beberapa surat memang terlambat tiba, tetapi cinta yang tulus selalu menemukan alamatnya."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Dear My Beloved Doctor
STOOPID NERD
Flash
Surat yang Tak Pernah Salah Alamat
Penulis N
Novel
Lustfull Night
Arinaa
Novel
Bronze
Terpikat Pesona Berondong Targetku
Brille23
Novel
Bronze
My Sweet Enemy
Yuli Yastri
Flash
Bronze
Sembilan Nyawa
Silvarani
Cerpen
Bronze
After 15 Years Ago? You Safe Me From Your heart?
Maina Suryani
Novel
Gold
Melted
Bentang Pustaka
Skrip Film
Cahaya untuk Surya
Ghesna Larasati
Flash
Ngeteh
Wirdatun Nafi'ah
Novel
Our Lie
Dini Salim
Novel
Bronze
The Shadow Student
Aksara Tresna
Skrip Film
The Infinite Love Jilid II
Evita Fitria Sukma
Novel
Bronze
Dukun Online VS Tetangga Rese
Amila Fitriati Mardhatillah
Novel
17 Tahun BUCIN
Tourtaleslights
Rekomendasi
Flash
Surat yang Tak Pernah Salah Alamat
Penulis N
Flash
Cahaya di Ujung Subuh
Penulis N
Flash
Pesan di Buku Ketiga
Penulis N
Flash
Pintu Ketiga Belas
Penulis N
Flash
Kopi Terakhir di Stasiun 12
Penulis N
Flash
Rumah yang Selalu Menunggu
Penulis N
Flash
Sajadah
Penulis N
Cerpen
Alamat yang Tak Pernah Ada
Penulis N
Flash
Musim Ketika Kita Bertemu Lagi
Penulis N
Flash
Rumah yang Menunggu Pulang
Penulis N
Cerpen
Senja Selalu Pulang ke Halte Nomor Tiga
Penulis N
Flash
KEMBALINYA SANG PENUNTUN
Penulis N
Novel
Afterimage
Penulis N
Flash
RITUAL MALAM TANPA AKHIR
Penulis N
Flash
Hujan di Ujung Telepon
Penulis N