Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kereta Terakhir Jalur Selatan
0
Suka
19
Dibaca

Raka Pradipta tidak pernah membayangkan perjalanan pulang akan berubah menjadi medan pertempuran.

Ia hanyalah seorang teknisi sistem persinyalan kereta api berusia tiga puluh tahun yang baru saja menyelesaikan perbaikan jaringan di kota pesisir. Malam itu ia naik Kereta Jalur Selatan bersama hampir tiga ratus penumpang. Ia memilih duduk di gerbong keenam, dekat jendela, berharap bisa tidur hingga tiba di tujuan.

Kereta melaju membelah hutan. Di luar hanya ada gelap, sesekali diselingi cahaya bulan yang menembus sela pepohonan.

Tepat pukul 23.17, lampu seluruh gerbong padam.

Beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan kecil dari arah lokomotif.

Kereta mengerem mendadak.

Jeritan memenuhi setiap gerbong.

Saat lampu darurat menyala, lima pria bertopeng hitam sudah berdiri di lorong sambil menodongkan senjata.

"Semua tetap duduk!" teriak pemimpin mereka.

Tak seorang pun berani bergerak.

Kelompok itu bukan perampok biasa.

Mereka mencari sebuah koper logam yang berada di gerbong bagasi.

Koper itu berisi perangkat penyimpanan data milik pemerintah yang sedang dipindahkan secara rahasia. Hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaannya.

Para pelaku memaksa masinis menghentikan kereta di tengah kawasan hutan agar rekan-rekan mereka dapat mengambil koper tersebut.

Namun mereka tidak tahu satu hal.

Sistem penguncian gerbong bagasi menggunakan jaringan elektronik yang hanya bisa dibuka melalui panel utama.

Dan Raka adalah salah satu teknisi yang ikut memasang sistem itu beberapa bulan sebelumnya.

Seorang petugas keamanan kereta mencoba melawan.

Satu tembakan memecah kesunyian.

Petugas itu roboh.

Ketakutan menyelimuti seluruh gerbong.

Raka menundukkan kepala, tetapi pikirannya bekerja cepat.

Ia mengenali suara rel.

Kereta berhenti tidak jauh dari sebuah terowongan tua yang sudah lama tidak digunakan.

Di bawah gerbong keenam terdapat panel akses darurat menuju jalur kabel.

Jika ia berhasil mencapainya, ia mungkin bisa mengambil alih beberapa sistem kereta.

Masalahnya, ia harus keluar tanpa terlihat.

Ketika para perampok mulai memeriksa identitas penumpang satu per satu, Raka merangkak ke bawah kursi.

Ia membuka penutup lantai menggunakan obeng kecil yang selalu dibawanya.

Lubang sempit itu hanya cukup dilewati satu orang.

Ia menarik napas panjang lalu turun.

Ruang di bawah lantai dipenuhi kabel, debu, dan suara logam yang bergetar.

Ia merangkak perlahan menuju panel distribusi.

Di atas kepalanya terdengar langkah kaki para perampok.

Sedikit saja mereka menyadari keberadaannya, semuanya selesai.

Panel berhasil ditemukan.

Raka membuka penutupnya.

Beberapa kabel telah diputus.

Pelaku rupanya sengaja melumpuhkan komunikasi kereta.

Dengan alat seadanya, ia menyambungkan kembali jalur cadangan.

Lampu indikator menyala redup.

Radio darurat aktif.

Namun sinyal terlalu lemah.

Ia membutuhkan waktu.

Dan waktu adalah sesuatu yang tidak mereka miliki.

Di gerbong depan, pemimpin perampok mulai kehilangan kesabaran.

"Kalau koper itu tidak dibuka dalam lima menit, kami tembak satu penumpang setiap menit!"

Tangisan pecah di mana-mana.

Seorang anak kecil memeluk ibunya.

Seorang pria lanjut usia berdoa tanpa henti.

Raka menggertakkan gigi.

Ia berhasil mengaktifkan sistem pengeras suara.

Dengan suara pelan ia menghubungi masinis.

"Pak... saya Raka, teknisi. Jangan buka bagasi. Saya sedang mencoba mengirim sinyal bantuan."

Masinis menjawab lirih.

"Mereka sudah mengancam semua orang."

"Tahan lima menit lagi."

Pemimpin perampok menghitung mundur.

"Lima..."

Raka menyambungkan kabel terakhir.

"Empat..."

Lampu panel berkedip.

"Tiga..."

Sinyal radio berhasil terkirim.

Namun belum ada balasan.

"Dua..."

Raka menekan tombol aktivasi darurat.

Seluruh pintu otomatis terkunci.

Para perampok terkejut.

"Apa yang terjadi?"

Mereka mencoba membuka pintu gerbong.

Tidak bisa.

Kereta memang berhenti.

Namun sistem penguncian elektronik masih aktif.

Para pelaku kini terjebak bersama para penumpang.

Marah, mereka mulai menembaki panel-panel listrik.

Percikan api menyala.

Asap memenuhi lorong.

Raka sadar penguncian itu hanya bertahan beberapa menit sebelum sistem rusak total.

Ia harus melakukan sesuatu.

Melalui jalur bawah lantai, Raka bergerak menuju gerbong bagasi.

Di sana dua perampok sedang mencoba membongkar pintu menggunakan bahan peledak.

Raka mengambil batang besi yang tergeletak.

Saat salah satu pelaku membungkuk, ia menghantamkan besi itu ke lengannya.

Senjata terlepas.

Perkelahian sengit terjadi di ruang sempit.

Raka bukan petarung profesional.

Namun ia memanfaatkan ruang yang sempit.

Ia mendorong lawannya hingga membentur dinding logam.

Pelaku pertama pingsan.

Pelaku kedua menyerangnya dengan pisau.

Raka menghindar.

Pisau menancap pada pintu.

Ia menendang lutut lawannya hingga roboh lalu mengikat tangannya menggunakan kabel.

Tiga pelaku lain mendengar keributan.

Mereka berlari menuju bagasi.

Baku tembak pun terjadi dengan petugas keamanan yang ternyata masih hidup meski terluka.

Raka memanfaatkan kekacauan itu.

Ia membuka panel rem darurat.

Kereta perlahan kembali bergerak menuruni jalur landai.

Para pelaku kehilangan keseimbangan.

Salah satu dari mereka terpental menghantam dinding.

Di luar, sinyal darurat akhirnya diterima pusat kendali.

Tim khusus segera dikirim.

Namun mereka membutuhkan waktu dua puluh menit.

Raka harus bertahan.

Pemimpin perampok berhasil menemukan Raka.

Mereka berhadapan di gerbong makan yang telah porak-poranda.

"Kau yang mengacaukan semuanya!"

Pria bertopeng itu melepaskan beberapa tembakan.

Raka berlindung di balik meja baja.

Ia melempar tabung pemadam api.

Ledakan serbuk putih memenuhi ruangan.

Pandangan lawannya terganggu.

Raka maju.

Keduanya bergulat.

Pistol terlepas.

Mereka saling memukul.

Kereta berguncang keras saat memasuki tikungan.

Pemimpin perampok kehilangan pijakan.

Raka memanfaatkan momen itu untuk menjatuhkannya ke lantai dan merebut senjatanya.

Namun ia tidak menembak.

Ia hanya mengarahkan pistol sambil berkata,

"Sudah selesai."

Sirene mulai terdengar dari kejauhan.

Kereta akhirnya berhenti di stasiun berikutnya.

Tim khusus langsung mengamankan seluruh pelaku.

Semua penumpang berhasil diselamatkan.

Petugas keamanan yang terluka segera dibawa ke rumah sakit.

Komandan operasi menghampiri Raka.

"Kenapa Anda mengambil risiko sebesar ini?"

Raka memandang para penumpang yang mulai turun.

Seorang anak kecil melambaikan tangan kepadanya sambil tersenyum.

Ia membalas senyum itu.

"Karena kalau semua orang memilih bersembunyi, tidak akan ada yang berdiri melindungi mereka."

Beberapa minggu kemudian pemerintah menawarkan penghargaan atas keberaniannya.

Raka menolak sebagian besar hadiah itu.

Ia hanya meminta satu hal.

Perbaikan sistem keamanan seluruh jalur kereta agar kejadian serupa tidak terulang.

Permintaan itu dikabulkan.

Namanya tidak banyak muncul di media.

Ia kembali bekerja seperti biasa, memeriksa rel, memperbaiki panel sinyal, dan memastikan setiap kereta dapat membawa penumpangnya pulang dengan selamat.

Bagi orang lain, ia hanyalah seorang teknisi.

Namun bagi ratusan penumpang Kereta Jalur Selatan, Raka akan selalu dikenang sebagai orang biasa yang, dalam satu malam penuh bahaya, memilih melawan ketika semua orang kehilangan harapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N
Cerpen
TERSESAT DI HUTAN
cralisssa
Cerpen
Bronze
Putri Di Rumah Tua
Nabilla Shafira
Cerpen
Bronze
The City of Night Eyed People
Silvarani
Flash
PILIHAN!
Vica Lietha
Flash
Pertunjukan Malam
Lebah Bergantung
Flash
Bang, Jatuh!
Rani
Cerpen
Bronze
Sang Petarung
budi kurniapraja
Novel
THE YOUTH CRIME
Dwi Budiase
Novel
Fallen Angels
Silah Fauzun Akbar
Flash
Bronze
Oligarki Anfal di Kaki Eiffel
Silvarani
Cerpen
Bronze
Bodyguard Cat
Nabilla Shafira
Novel
Langkah Awal Menuju Dunia
Andhika Tulus Pratama
Novel
Street Girl
Ghea Fitria Ullman
Novel
WaroX
Handi Yawan
Rekomendasi
Flash
Kereta Terakhir Jalur Selatan
Penulis N
Novel
Phantoms Eclipse
Penulis N
Novel
Veil of Roses
Penulis N
Novel
Fading Heartbeats
Penulis N
Cerpen
Melati dari Suroboyo
Penulis N
Novel
Ruang Kosong di Meja Nomor 9
Penulis N
Novel
Deadline dan Perasaan
Penulis N
Cerpen
Pencuri Waktu (II)
Penulis N
Cerpen
Titik Kembali
Penulis N
Flash
Kampung Suka Salah
Penulis N
Flash
RITUAL MALAM TANPA AKHIR
Penulis N
Cerpen
ARKA DAN MALAM PENUH AKSI
Penulis N
Cerpen
Paket Salah Alamat
Penulis N
Cerpen
Lorong ke Hari Rabu
Penulis N
Novel
Still Breathing
Penulis N