Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Linked Memories
3
Suka
857
Dibaca

"Subjek nomor 23, masuk," ucap sang ilmuwan sambil menatapku.

Aku pun mendekati sang ilmuwan.

"Masuk ke dalam tabung itu."

Aku memasuki tabung besar di dekatku. Aku disuruh untuk berbaring ke dinding, dan sabuk-sabuk ketat mulai mengunci seluruh badanku.

Pintu tabung itu masih terbuka rapat. Saintis itu masuk ke dalam sambil menatapku dengan penuh fokus.

"Katakan padaku, apa angka yang kau lihat sekarang?" tanya sang ilmuwan.

"Aku melihat angka 2, 7, dan-"

Tanganku berasa sangat gatal dan terasa seperti ingin meronta-ronta dengan sendirinya. Nafasku menjadi lebih cepat. Denyut jantungku seperti berdetak sangat hebat.

Aku menoleh ke ke arah kiri, ada seorang wanita yang juga diikat dan meronta-ronta sama sepertiku. Kepalaku berkunang-kunang.

"ARKH!"

Ilmuwan itu berlari keluar dari tabung dan segera menekan-nekan tombol dengan cepat di suatu mesin.

Aku menoleh padanya. "Tunggu! Jangan ditutup!"

Namun, ia menutup pintu tabungnya dengan rapat begitu saja.

Samar-samar aku juga mendengar jeritan wanita di tabung sampingku.

Ini panas...

Tubuhku semakin panas...

Beberapa saat kemudian, denyut jantungku mulai melambat. Perlahan-lahan, denyutannya menjadi normal, begitupun juga dengan nafasku. Lenganku kini tak gemetar lagi. Aku tak pusing lagi.

"Ilmuwan, apa ini sudah beres?"

"Ilmuwan!"

Ia masih tidak menyahutku. Jangan-jangan aku ditipu olehnya? Sialan...

Kucoba untuk melepaskan sabuk-sabuk besi ini yang menahanku sekuat tenaga. Aku mengeluarkan seluruh tenagaku pada tanganku. Dan aku benar-benar terkejut ketika sabuk besi keras yang menahan tanganku mulai melempeng hingga aku bisa melepaskannya.

Kucoba lagi untuk kakiku, dan ternyata ini masih bekerja. Kupatahkan sabuk besi yang menempel di tubuhku.

Apa... Ini berhasil? Ilmuwan itu benar-benar membuatku memiliki kekuatan super?

Kutendang pintu tabung di depanku, dan pintu itu terpental jauh. Namun, aku tak melihat si ilmuwan itu.

"Ilmuwan! Woi ilmuwan bajingan!"

Kemana dia pergi? Dia masih belum menjanjikan bayarannya padaku. Oh, astaga! Wanita itu!

Kuhampiri tabung si wanita dan segera melepaskan beberapa sabuk yang megikat tubuhnya. Setela semuanya terlepas, ia terbatuk-batuk dan baru tersadarkan diri.

"Kau tak apa?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Ya, aku tak apa-apa. Tapi tadi benar-benar panas dan membuatku kejang-kejang."

"Namamu?"

"Dalia."

"Aku Rico. Kau bisa jalan?"

"Ya. Aku bisa."

Aku merangkulnya pelan-pelan untuk keluar dari tabung karena kaki kanan dia terjingjat. Wanita itu memintaku untuk melepaskan tangannya dariku. Ia menatap ke kakinya, lalu ia menggerak-gerakkan kakinya ke arah depan dan belakang. Wajahnya tiba-tiba terbelalak.

"Ini... normal lagi? Tapi, bagaimana bisa? Tidak mungkin," ucapnya.

"Kenapa?"

"Kakiku normal lagi. Seharusnya aku masih duduk di kursi roda."

"Syukurlah, berarti alat tabung si ilmuwan itu bekerja dengan baik."

Dalia tiba-tiba mengernyit padaku. "Ilmuwan?"

"Ya. Kau pasti ditawari juga untuk jadi relawan ilmuwan itu, kan?"

"Tidak. Aku bahkan bingung kenapa aku tiba-tiba bisa keluar dari tabung itu dan berada di gudang berantakan ini."

Mataku terbelalak begitu mendengar penjelasannya. Gigiku menggertak. Tanganku mengepal dengan sangat keras hingga gemetar. Dalia melihatku sambil pelan-pelan menjaga jarak dariku.

Hatiku yang sudah bergejolak ini membuatku memukul meja besi yang ada di sampingku hingga penyok dan hancur berkeping-keping. Saat kutatap meja yang hancur itu, tanganku tak merasakan sakit sedikit pun.

Ketika menoleh, Dalia sudah mundur sambil menodongkan revolver dengan tangan gemetar. "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku juga korban eksperimen ini."

Ia langsung menarik pelatuk.

DOR!

Pelurunya jatuh begitu saja ke lantai setelah hanya merobek kaosku. Wajah Dalia memucat. Saat aku melangkah mendekat, telapak tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya biru dan tubuhku terlempar keras menghantam tembok.

Aku mencoba bangkit kembali. "Uhuk... uhuk... kau juga punya kekuatan super ternyata."

Tatapan Dalia penuh bingung ketika melihat kedua telapak tangannya yang sempat menyala beberapa detik, lalu perlahan-lahan memudar.

"B-bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa aku bisa melakukannya?"

"Kau juga pasti korban eksperimen si ilmuwan itu. Sama sepertiku."

"Tapi... tempat apa ini? Kemana si ilmuwan itu?"

"Aku juga tak tahu, serius. Kenapa kita gak mencarinya bersama-sama?"

Dalia mengernyit. "Untuk apa aku memercayaimu? Pergi!"

"Jika aku mengkhianatimu, kau bisa dorong aku ke angkasa seperti tadi. Pegang kata-kataku."

Dalia terdiam untuk beberapa saat. Ia pun menghela nafasnya. "Baiklah. Kita cari si ilmuwan itu."

Kami keluar dari gudang. Jalanan kota malam ini terasa sangat sepi. Angin menggelebuk cukup kencang melalui kaosku.

"Tak usah."

"Tak apa, pakailah."

Ia tidak banyak protes lagi dan menutup jaketnya dengan rapat-rapat.

Sambil berjalan, ia menoleh padaku. "Tadinya gimana kau jadi korban si ilmuwan itu?"

"Aku jadi relawan demi $5000."

"Kau mempertaruhkan nyawa demi uang?"

"Yahh... penagih kosanku sudah ngadat. Kau sendiri gimana?"

Dalia menghela nafasnya. "Aku hanya seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi roda. Dan sekarang, aku merasa muda, haha."

Aku mengernyitkan keningku sangat keras. "Nenek? Tapi kau..."

"Ehem?"

"Yah... kau... cantik. Kupikir usiamu masih 25-30 an."

Dalia menatap pantulan dirinya di etalase toko. Rambut hitamnya kembali, keriputnya menghilang. Air matanya jatuh. "Aku... muda lagi?"

Disaat ia sibuk dengan kebahagiannya, aku menatap ke bawah. Dan, kakiku sudah tak menapak tanah sedari tadi. Kucoba arahkan tubuhku ke atas. Di salah satu genteng aku melihat ada sosok yang sedang berdiri santai menatapku dari kejauhan. Aku pun terbang buru-buru ke arahnya.

Anehnya, semakin ku kejar ia terasa semakin menjauh.

"WOI-"

CRASH!

Aku menatap diriku kini sudah di aspal jalanan. Aku menoleh ke arah lain, Dalia berusaha mendekatiku. Namun anehnya, wajah dan tubuh dia berubah-ubah. Terkadang dia ada, tapi tua, tapi muda, dan kadang tidak ada. Hatiku berdebar-debar. Dalia, kau... Semuanya kacau...

Pandanganku semakin memburam...

---

"Hei, Rico. Rico, bangun!"

Aku membuka mataku dengan cepat. Ilmuwan yang menguji ada di depanku. Aku terbangun dan langsung berlari keluar dari tabung itu. Saat aku menoleh ke kiri, aku melihat ada tabung lainnya yang terbuka. Aku pun masuk ke dalam.

Dari dalam tabung itu, ada tubuh yang sudah menutih kaku dan memiliki bentukan wajah seseorang yang kukenal.

"Dalia? Kau Dalia, kan?" ucapku sambil menyentuh wajah Dalia yang dingin. Dadaku terasa sesak. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan namun itu membuatku hancur.

Ilmuwan itu masuk ke dalam tabung yang kumasuki. Ia menepuk bahuku. "Wanita ini sudah meninggal 3 bulan lalu. Kau melihatnya? Apa kau bersamanya?"

Aku terdiam beberapa saat. "Ya, aku sempat bersamanya. Aku melihatnya. Jadi... itu semua tidak nyata?"

Ilmuwan itu mengusap bahuku. "Aku paham. Tapi," ilmuwan itu merogoh sejumlah uang dari sakunya. "Semoga ini bisa membayar rasa sakitmu."

"Terimakasih."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Linked Memories
Cornelius Zii
Cerpen
Bronze
Titik Tali Terakhir
Zahran Taufiq Ridwan
Cerpen
Bronze
Pasir yang Menyimpan Kenangan Terakhir
Zahran Taufiq Ridwan
Cerpen
Bronze
Mekanisme
Zahran Taufiq Ridwan
Flash
Bronze
RAHASIA RINDANG
Mada Elliana
Novel
KONKURENTSIYA
MEL 💚❤️
Novel
Bronze
Rumah Pantai
Ishmaly Hana Hamdi
Skrip Film
Serasa Dunia Milik Berdua
Muhammad Yunus
Cerpen
Bronze
canvas of sin
Alfiya
Novel
Egoist
Reona Lee
Novel
Rahasia Tante Nina
Johanes Gurning
Novel
Sisi Lain Cermin Tua
Nabilla Shafira
Novel
BANDUNG TERUNGKAP
Yutanis
Novel
Good Morning, Nova: teddy bear and love (series 1) edison novel
Pikri YAnor
Flash
Rasa yang Asing di Lidah
irishanna
Rekomendasi
Flash
Linked Memories
Cornelius Zii