Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Si Belang
0
Suka
9
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Hari Sabtu ini sangat membosankan. Ibu, Ayah, dan kakak perempuanku pergi ke acara kondangan saudara di luar kota. Mereka tidak mengajakku karena aku bilang harus belajar untuk ujian matematika hari Senin. Tapi itu sebenarnya hanya alasanku saja supaya bisa malas-malasan di rumah tanpa perlu memakai baju batik yang gerah.

Sekarang jam menunjukkan pukul dua siang. Udara di luar sangat panas sampai-sampai aspal di depan rumah terlihat seperti bergelombang. Aku duduk di lantai ruang tamu yang dingin sambil menyalakan kipas angin di kecepatan nomor tiga. Di depanku, ada Si Belang. Dia adalah kucing kampung berbulu tiga yang sudah tiga tahun ini menumpang makan di rumahku.

Belang sedang sibuk menjilati kaki belakangnya dengan sangat santai. Dia tidak perlu memikirkan rumus aljabar atau remedial matematika.

"Lang, kamu enak banget ya hidupnya. Tidak perlu pusing memikirkan masa depan," kataku sambil mengelus punggungnya yang bergaris-garis hitam dan oranye.

Belang berhenti menjilati kakinya. Dia menatapku dengan matanya yang bulat dan kuning.

"Kamu saja yang malas, makanya pusing," kata Belang.

Aku langsung terdiam. Otakku mendadak macet. Suara itu bukan suara kucing yang mengeong lembut. Suara itu sangat berat, serak-serak basah, dan ngebass. Mirip sekali dengan suara Pak RT kalau sedang memberikan pengumuman kerja bakti lewat mikrofon masjid.

Aku melompat berdiri sampai punggungku menabrak meja jati milik Ibu. "Kamu... kamu bisa bicara?!" teriakku sambil menunjuk hidung merah Si Belang. Jantungku berdebar sangat kencang seperti mau copot.

Belang menghela napas panjang. Bahunya yang berbulu bahkan sampai naik-turun seperti manusia yang sedang lelah. "Bisa. Tapi tolong jangan berteriak, telingaku sensitif," jawabnya santai. Dia lalu duduk dengan anggun, melingkarkan ekornya di atas kaki depannya.

Aku mengucek mataku berkali-kali. Aku juga menepuk pipiku sendiri dengan keras. Sakit. Ini bukan mimpi. "Tapi bagaimana bisa? Kamu kan kucing! Kucing itu mengeong, Belang, bukan mengomeli manusia!" kataku lagi, sekarang dengan volume suara yang agak dikecilkan karena takut tetangga sebelah dengar.

"Kami semua sebenarnya bisa bicara. Kami hanya malas menanggapi manusia yang kebanyakan drama," kata Belang lagi. Dia melirik ke arah mangkok makannya yang kosong di pojok ruangan. "Omong-omong, whiskas keringku habis. Tolong isi lagi."

"Tunggu, tunggu dulu!" Aku berjalan mendekatinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Belang adalah bom yang siap meledak. Aku jongkok di depannya. "Kalau kamu bisa bicara dari dulu, kenapa baru sekarang kamu bicara padaku?"

Belang menatapku dengan tatapan bosan. "Karena aku kasihan melihatmu. Dari tadi kamu hanya berguling-guling di lantai sambil mengeluh. Padahal buku matematikamu masih tertutup rapat di atas meja belajar."

Aku tersenyum kecut. Rasanya aneh sekali diejek oleh seekor hewan peliharaan. "Ya habisnya matematika itu susah, Lang. Rumusnya banyak sekali."

"Tidak ada yang susah kalau kamu mau membaca, bukan cuma bermain game perang-perangan di ponsel," sahut Belang. Dia lalu merebahkan tubuhnya lagi di lantai yang adem. "Sekarang, cepat ambilkan makananku. Aku lapar."

Aku segera berlari ke dapur. Tanganku agak gemetar saat mengambil bungkus makanan kucing di atas kulkas. Aku menuangkan makanan itu ke mangkok plastiknya sampai penuh. Setelah itu, aku kembali ke ruang tamu dan meletakkan mangkok itu di dekat Belang.

"Ini makanannya, Tuan Belang," kataku agak menyindir.

Belang mulai makan dengan lahap. Bunyi kriuk-kriuk terdengar dari mulutnya. Aku memperhatikannya dengan saksama, memastikan tidak ada ritsleting di punggungnya. Siapa tahu ini adalah rekaman suara kakakku yang diletakkan di sela bulu kucing untuk menjahiliku. Tapi tidak, ini benar-benar kulit kucing asli.

Setelah makanannya habis setengah, Belang berhenti. Dia menjilat mulutnya yang belepotan.

"Terima kasih," katanya.

"Sama-sama," jawabku spontan. "Eh, Lang, kalau nanti Ibu dan Ayah pulang, kamu mau bicara dengan mereka juga tidak?" tanyaku penasaran. Bayangkan betapa hebohnya rumah ini kalau Ayah tahu kucing kami bisa diajak mengobrol tentang politik atau ronda malam.

Belang menggelengkan kepalanya yang kecil. "Tidak mau. Ini rahasia kita berdua saja. Lagipula, energiku untuk bicara tahun ini sudah habis. Aku mau tidur siang sekarang."

"Hah? Maksudnya habis?"

Belang tidak menjawab lagi. Dia menggulung tubuhnya menjadi seperti bola berbulu di pojok karpet, lalu memejamkan matanya.

"Belang? Hei, Belang?" aku memanggilnya sambil mencolek kakinya.

"Meong," jawab Belang pendek. Suaranya sudah kembali menjadi suara kucing biasa yang cempreng.

Aku mencoba mengajaknya bicara lagi selama sepuluh menit. Aku menjanjikannya makanan basah rasa tuna yang mahal, aku berjanji tidak akan menarik ekornya lagi, bahkan aku menawarkan untuk memijat punggungnya. Tapi Belang tetap diam dan hanya menjawab dengan "meong" yang malas, seolah-olah obrolan ajaib tadi tidak pernah terjadi.

Aku menghela napas dan duduk bersandar di sofa. Aku melihat ke buku matematika yang tergeletak di atas meja. Kata-kata Belang tadi masih terngiang-ngiang di telingaku: “Kamu saja yang malas, makanya pusing.

"Sialan, aku baru saja diceramahi oleh seekor kucing," gumamku sendirian.

Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi dan rumah sangat sepi, aku akhirnya berjalan ke meja belajar. Aku membuka buku matematika bab aljabar dan mulai membaca halaman pertama. Di pojok ruangan, aku bisa melihat Si Belang membuka satu matanya sedikit, melihat ke arahku, lalu kembali tidur dengan nyenyak.

Sejak hari itu, aku tahu satu hal, kucing di rumahku bukan cuma hewan peliharaan, tapi dia adalah kritikus paling kejam yang pernah ada.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Si Belang
Putri Akira
Flash
Cinta yang NIHIL
Ula
Cerpen
Bronze
Penebusan dosa sang naga
Laura Lauren
Cerpen
Dravoryans: Kabut Ungu dan Dewa Tai
Darian Reve
Komik
Bakwan jagung
Melinda Sintawati
Cerpen
Bronze
Purnama di atap rumahku
Desy Sadiyah Amini
Flash
Bronze
Sosok Menyeramkan
Rere Valencia
Flash
BOIM
Mr. Nobody
Flash
Bronze
Balikan, Yuk!
Dewi Fortuna
Cerpen
Bronze
Apakah Dunia Sekecil Gue?
Silvarani
Cerpen
Kisah Maling yang Tolol
Muhammad Ilfan Zulfani
Cerpen
Ada Nastar Di Kulkas
KusumaBagus Suseno
Flash
LIDAHMU MEMBUNUHMU
Ratna Arifian
Komik
Ron Macaron's
puguh rizki brajananta
Cerpen
Parfum Pheromon Beraroma Mistis
cahyo laras
Rekomendasi
Flash
Si Belang
Putri Akira
Flash
GEMA
Putri Akira
Flash
Kalah Sebelum Start
Putri Akira
Flash
gak tau aturan
Putri Akira
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira
Cerpen
Kelebihan Hormon Keberuntungan
Putri Akira