Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Hujan Terakhir di Stasiun
0
Suka
556
Dibaca

Kereta tujuan Jakarta akan berangkat lima menit lagi.

Suara pengumuman bergema lantang di seluruh peron, bersahut-sahutan dengan derit roda koper yang berlalu-lalang. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang bergegas, hanya Aruna yang merasa waktu mendadak berjalan begitu lambat. Di hadapannya, berdiri Reno, pria yang selama empat tahun terakhir menjadi rumah bagi semua mimpi dan angan-angannya.

"Aku harus pergi."

Hanya tiga kata. Namun, tiga kata itu terasa jauh lebih tajam daripada tikaman ribuan pisau di dada Aruna. Dengan jemari yang gemetar, Aruna mencengkeram ujung lengan kemeja Reno, seolah-olah kain tipis itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki.

"Kalau aku minta kamu tetap tinggal...?" bisik Aruna parau.

Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa lelah. "Kamu tahu aku nggak bisa, Na."

"Kalau aku bilang aku masih mencintaimu?"

Pria itu seketika menunduk. Lama. Seolah-olah ia sedang mencari jawaban di sela-sela lantai peron yang dingin dan berdebu. "Aku tahu," jawabnya akhirnya.

"Tapi...?"

"Tidak semua cinta bisa dipertahankan."

Kalimat itu menghantam dada Aruna lebih keras daripada deru mesin lokomotif yang mulai menyala. Pikirannya langsung melayang pada masa lalu. Bukankah dulu Reno yang berjanji akan selalu pulang? Bukankah dulu pria ini yang berkata bahwa Surabaya akan selalu menjadi kota milik mereka berdua?

Mengapa sekarang semua janji manis itu terdengar seperti kebohongan besar yang dibungkus dengan senyuman miring?

"Apa ada perempuan lain?" tanya Aruna, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Reno menggeleng kuat. "Enggak."

"Lalu kenapa, Ren?"

"Karena aku sudah tidak bisa menjadi orang yang kamu harapkan."

Aruna menggelengkan kepalanya pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku nggak butuh laki-laki yang sempurna. Aku cuma butuh kamu!"

Untuk pertama kalinya, sepasang mata Reno tampak memerah. Ada gejolak hebat di sana. Ia ingin sekali merengkuh tubuh perempuan di depannya, meminta maaf, dan mengatakan bahwa dirinya pun sedang hancur berkeping-keping. Namun, Reno tahu beberapa keputusan justru akan menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan jika terus-menerus ditunda.

Secara perlahan, Reno melepaskan jemari Aruna dari lengan kemejanya satu per satu. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah setiap sentuhan itu adalah serpihan kenangan yang harus ia kubur hidup-hidup mulai hari ini.

"Jangan lakukan ini, Ren..." Suara Aruna akhirnya pecah. "Aku bisa berubah. Aku bisa menunggu kamu. Aku bisa memperbaiki semuanya... Tolong, cintai aku sekali lagi."

Reno menutup matanya rapat-rapat. Kalimat pasrah dari Aruna adalah sebuah doa yang sayangnya tidak mampu lagi ia kabulkan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia mengangkat koper hitamnya, lalu berbalik.

Satu langkah. Dua langkah.

Aruna tidak tinggal diam. Ia melangkah maju, mengejar punggung yang kian menjauh itu. "Reno!"

Pria itu menghentikan langkahnya. Namun, ia tetap menolak untuk berbalik dan menatap wajah Aruna.

"Kalau nanti suatu hari kamu bahagia," ujar Aruna dengan suara yang bergetar hebat, "jangan pernah merasa bersalah karena pernah membuatku mencintaimu."

Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi, tenggelam oleh suara pintu-pintu kereta yang mulai menutup. Reno menarik napas panjang, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki.

"Aku harap... suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang bisa mencintaimu jauh lebih baik daripada aku," ucap Reno lirih.

Lalu, ia melangkah masuk ke dalam gerbong. Pintu besi bergeser, menutup rapat dan mengunci jarak di antara mereka.

Aruna berlari kecil mendekati gerbong tersebut, menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela yang buram. "Reno..." panggilnya, meski ia tahu suaranya tak akan bisa menembus kedapnya dinding kereta.

Kereta api itu mulai bergerak. Pelan pada awalnya, lalu perlahan semakin cepat, dan akhirnya melesat menjauh. Sosok Reno di dalam sana berangsur-angsur menghilang, menyatu dengan garis rel yang memanjang tanpa ujung menuju cakrawala Barat.

Aruna tetap berdiri diam di tempatnya. Ia tidak lagi mengejar, tidak lagi berteriak memanggil nama pria itu. Di bawah lampu peron yang temaram, ia akhirnya memahami sebuah kebenaran yang pahit: bahwa melepaskan seseorang bukan berarti kita berhenti mencintainya. Kadang-kadang, membiarkannya pergi justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus, sekaligus yang paling menyakitkan.

Menahan seseorang yang ingin pergi hanya akan memperpanjang luka. Melepaskan adalah cara menghormati perasaan yang pernah ada.

Hujan sore itu mulai turun pelan, membasahi peron Stasiun Gubeng yang kian sepi. Aruna mendongakkan wajahnya ke langit, membiarkan rintik air menyapu kulit pipinya, berharap dinginnya air hujan mampu menyembunyikan kesedihan yang tak sanggup lagi ia bendung.

Namun, ada satu hal yang bahkan badai hujan pun tak akan mampu hapus. Setetes air mata yang hangat jatuh dari sudut mata Aruna, disusul oleh tetes-tetes berikutnya yang mengalir kian deras.

Di antara gemuruh suara kereta yang semakin samar di kejauhan, Aruna akhirnya menangis sejadi-jadinya. Bukan karena ia masih berharap Reno akan turun dan kembali mendekapnya, melainkan karena untuk pertama kalinya, hatinya yang hancur mulai menerima bahwa cinta pun terkadang harus belajar mengucapkan selamat tinggal.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Clarissa & Gloria
Nuel Lubis
Novel
Jika Besok Kamu Tidak Ada
capa
Flash
Hujan Terakhir di Stasiun
Dimas Hendra
Novel
Bronze
Ketulusan Cinta Almira
Fitri Wardani
Komik
Bronze
Konstelasi Cinta
amalia iklima putri
Cerpen
Letting Go
Tuti Haryati
Novel
Bronze
NOSOCOME
Utep Sutiana
Novel
Bronze
Mahatma in Love
Siti nurhasanah
Flash
Bronze
Eiffel Evil
Silvarani
Flash
Bronze
Bukan Malam Jahanam
Anjrah Lelono Broto
Cerpen
Titik dan Koma
Aneidda
Cerpen
Satu Minggu
justyooursj
Novel
Cinta dari Surga
Elva Lestari
Novel
Gold
Inestable
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Lovelush
Mzzulkarnaen
Rekomendasi
Flash
Hujan Terakhir di Stasiun
Dimas Hendra
Novel
Sidang Terhadap Tuhan
Dimas Hendra
Cerpen
Dihari Bunga itu Mekar lagi
Dimas Hendra
Cerpen
Gerimis Di Senyummu
Dimas Hendra
Cerpen
Cinta Abadi
Dimas Hendra
Cerpen
Senja Terakhir
Dimas Hendra
Cerpen
Secangkir kopi
Dimas Hendra
Novel
Hampir Kita
Dimas Hendra
Cerpen
Natal di Ujung Gang
Dimas Hendra
Cerpen
Remember Me
Dimas Hendra
Cerpen
Hal Termanis
Dimas Hendra