Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bagaimana rasanya selalu mencintai seseorang yang hatinya bahkan tidak pernah berpihak padamu barang sedetik saja?
Jawabannya, seperti berdiri sukarela di tengah kobaran api.
Harusnya Nick mundur jutaan langkah sejak awal, bahkan di detik pertama ia menyadari bahwa sampai kapan pun, tidak akan pernah ada ruang di hati Fay untuk bisa Nick singgahi. Jangankan ruang utama, untuk sekadar menyelipkan diri saja di hati gadis itu rasanya nihil seribu persen.
Namun bodohnya, Nick juga tahu, sampai kiamat pun Nick akan tidak pernah mampu menghapus Fay dari hidupnya, sekeras apapun Nick mencobanya.
Sejak Fay datang, lebih tepatnya, sejak Nick pertama kali bertemu saat usia mereka 15 tahun, Nick sudah luar biasa jatuh cinta pada sosok Fay hingga seluruh inti sari hidupnya terseret habis akan kehadiran gadis itu.
Sayangnya, hubungan mereka selama ini hanya berakhir pada batas garis pertemanan saja. Alam semesta seolah tidak pernah mengizinkan Nick untuk bisa mengutarakan isi hatinya pada Fay.
Sampai pada akhirnya Nick lelah mencoba. Lalu dengan impulsif, ia memutuskan untuk pergi sejauh yang Nick bisa sampai ke seberang benua sana. Lebih tepatnya ke New Zealand, supaya kehidupan yang Nick bawa sejauh mungkin itu dapat memangkas setiap jengkal memorinya akan sosok Fay.
Tapi sialnya, upaya membangun benteng pertahanan yang sudah susah payah Nick bangun dapat ambruk dalam sekali hembusan napas di menit Fay kembali menghubungi Nick.
Persetan dengan jarak. Persetan dengan harga diri. Persetan dengan semuanya.
Setiap kali layar ponsel Nick menyala dan menampilkan nama Fay, Nick tidak akan berpikir dua kali untuk langsung menekan tombol hijau. Nick akan merespon setiap panggilan Fay, bahkan jika panggilannya masuk di tengah sesi Nick sedang bercinta dengan gadis mana pun yang ia temui di Christchurch.
Seperti beberapa malam lalu, ketika suara Fay menginterupsi dunia Nick dengan omelannya yang panjang lebar.
"Nick, you seriously need to get a real girlfriend," suara Fay tajam, memenuhi kabin mobil Nick malam itu. "Like, for real. You have to stop sleeping with random girls you pick up at college, bars, or wherever it is you hang out in Christchurch. Sean told me everything, you know."
Nick hanya bisa memejamkan mata erat-erat, kewalahan akan rasa yang berkecamuk di setiap sendi tubuhnya.
"What exactly did Sean say?" tanya Nick seraya menekan pelipisnya.
"He said you've basically become some sort of blonde hunter since you moved to New Zealand," Fay mendengus sebal di seberang sana. "He said the minute you're done with them, you just shut down. By the next morning, Sean's the one getting texts from these furious girls, cursing you out because you showed absolutely zero interest after getting what you wanted. What the hell is wrong with you, dude?"
Kalau sudah diomeli Fay seperti ini, Nick biasanya hanya bisa mengembuskan napas berat sambil bergumam dalam hati,
'I've been asking myself the exact same thing ever since I fell in love with you, Fay.'
Namun, bagian paling kontradiktif sekaligus ironisnya adalah, Nick tidak pernah bisa membantah omelan Fay. Tidak satu patah kata pun.
Nick justru akan mendengarkan omelan Fay begitu khusyuk, sambil meresapi setiap nada suara Fay yang menggaung di telinganya hingga seringkali sampai ponselnya terasa panas. Baginya, suara Fay yang sedang marah-marah ini justru jauh lebih baik daripada suara berisik di kepala Nick setiap kali ia memikirkan Fay.
Dan di akhir pembicaraan, alih-alih kesal, Nick selalu berakhir menutup hari dengan cara paling indah, yaitu jatuh tertidur dan memimpikan Fay. Tentu saja, 'mimpi indah' versi Nick ini sangat tidak etis untuk dijelaskan di sini.
Nick sadar bahwa pertemanannya dengan Fay selama ini bisa dibilang agak wajar.
Aneh bagi Nick, namun tentu saja tidak bagi Fay. Bagi gadis itu, berteman dengan Nick sama saja seperti berteman dengan Sean maupun India.
Pertemanan mereka selalu dalam dinamika 'putus nyambung' yang membingungkan, bergerak mengikuti ritme dan fase yang tidak menentu.
Dalam satu fase, mereka dapat berkomunikasi dengan sangat intens. Telepon, video call, hingga berkirim email setiap hari.
Namun, di fase berikutnya, untuk alasan yang biasanya dipendam sendiri oleh Nick, mereka berdua dapat tiba-tiba terjebak dalam jeda panjang tanpa komunikasi sama sekali.
Dan biasanya, Nick yang memulai memutus komunikasi. Lebih anehnya lagi, Fay tidak pernah bertanya berpikir macam-macam setiap Nick berhenti menghubunginya.
17, 19, 21.
Di usia 17 tahun, untuk pertama kalinya setelah mereka lulus sekolah, Nick dan Fay saling tidak bertukar kabar. Jeda cukup lama sebelum akhirnya mereka kembali berkomunikasi saat usia mereka menginjak 19 tahun.
Namun, kedekatan mereka hanya bertahan beberapa bulan saja sebelum komunikasi Nick kembali berhenti menghubungi Fay.
Lalu, mereka kembali berkomunikasi di usia 21 tahun.
Tepatnya, saat ayah Fay meninggal dunia.
Begitu mendengar kabar duka ini, Nick tidak berpikir panjang untuk segera meninggalkan New Zealand dan kembali ke Amerika.
Di titik terberat dalam hidup Fay ini, Nick membuat janji, lebih kepada dirinya sendiri, untuk tidak lagi pergi menjauh agar ia bisa menemani Fay kapanpun gadis itu membutuhkannya.
Ditengah duka Fay, Nick memilih bersikap egois, dengan merintihkan lebih banyak doa agar suatu hari nanti Fay akhirnya mau membuka hati untuk Nick.
Dan keberanian yang Nick pupuk kembali sedikit demi sedikit akhirnya menguat sebulan kemudian.
Nick memberanikan diri, dengan meminta pada alam semesta untuk memberinya satu kali saja kesempatan agar bisa berdiri dengan gamblang menyatakan cintanya pada Fay.
Dan Nick percaya, bahwa ini adalah harinya.
Sampai ketika hari itu tiba, semua yang sudah Nick rencanakan hancur lebur seketika.
Bunga Iris biru yang digenggamnya erat jatuh tanpa suara, tergeletak tak berdaya di atas rumput hijau halaman belakang rumah Fay.
Gadis itu tidak pernah tahu keberadaan Nick di sana, bahkan mungkin sampai kiamat pun, Fay tidak akan pernah tahu.
Bahwa hari itu, Nick dipaksa menyaksikan pemandangan paling tragis yang menghancurkan hatinya.
Fay sedang berciuman sangat mesra dengan seorang pria.
Pria yang usianya terpaut cukup jauh di atas mereka.
Nick mengenali pria itu.
Sosoknya dulu pernah Nick tahu sebagai orang yang selalu menjaga Fay sejak gadis itu masih kecil, yang selalu Fay anggap seperti pamannya sendiri, walaupun tidak ada hubungan darah di antara mereka.
Di detik itu, Nick akhirnya mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari.
Jawaban mengapa selama bertahun-tahun ini, Fay tidak pernah membuka hatinya untuk pria mana pun.
Termasuk untuk Nick.