Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Surat Lentera untuk Kelana
0
Suka
124
Dibaca

"Aku ingin bercerita padamu tentang ketidakpuasan. Di sini aku menulis untuk kau baca dari jarak sejuta angkasa."

Bintang-bintang sedang berbaris bersama senda gurau kutilang. Ia melihat bulan-bulan memanjangkan tangannya untuk mencipta segala sesuatu yang disebut sebagai cita-cita. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ada sebuah masa ketika segala hal yang dinantikan daun adalah percepatan jatuhnya ke tanah. Tidak perlu menunggu tubuhnya kemuning, agar aroma rumput yang tersiram hujan semalam bisa berbaur dengan tubuhnya yang lunglai. Sebab, ia tidak selalu ingin menjadi bagian dari tubuh pohon. Kesejatian baginya adalah bertemu segala bercak yang hanya akan bisa ditemui pada tanah becek. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ombak hanya bergerak sebab ia ingin mencumbu bibir pantai. Ia tak semata-mata sebagai laut yang luas. Kadang, ia hanya menanti kapan rotasi bumi akan mengembalikannya ke butiran pasir putih di utara bumi. Gerakannya yang membentur terumbu karang harus menghanyutkannya ke berbagai posisi di celah-celah bumi. Namun, hanya di pantai utara itulah ia ingin sekali membiarkan dirinya lesap, jika bisa tak perlu keluasan laut menariknya kembali. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Kau pernah berkata bahwa aku adalah kutub negatif dan kau adalah kutub positif. Saat itu, kita sedang berbicara tentang bebatuan yang kulempar di sembarang meja. Orang-orang membalasku dengan melempar amarah. Kau tak ikut melemparkan cerca. Lebih dari itu, kau melihat, ternyata di balik setiap bebatuan itu ada sinar-sinar keemasan yang berkelip. Bahwa, aku adalah pemantik yang menyalakan api dan kau siap menjadi angin yang siap mengobarkanku atau meredamku.

Kepiting rajungan di selatan akan melihat kita sambil menggemeretakkan capit-capitnya. Ia lupa bahwa ada kelapa yang harus ia bongkar sebelum bergelak tawa. Angin-angin malam di gunung akan lupa bahwa ada pepohonan yang tak lagi kepanasan dan ia akan tetap terus bertiup dengan kencang. Mereka meneriakkan apa yang sering kita katakan, "Bagimu dan aku, adalah kita."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
Swastamita
moran. a
Flash
Cerita Kita Hari Ini
Evi Ratnasari
Cerpen
Bronze
The Way To
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Novel
Bronze
SELENDANG PATAHERI
Greace Lee Mayer Ectas Latul
Novel
Gold
Adonis
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Mantan
Bentang Pustaka
Novel
友達 Tomodachi
Nadya Azhari
Novel
Cintaku Nyangkut Di Tahun 1998
Senja_Khoir
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
Taiyang
ani__sie
Cerpen
Harmoni yang Terpisah
shirley
Novel
Bronze
Debar Hujan
Annisa fathonah
Novel
Bekas Luka
Papp Tedd
Novel
Handsome Widower
Maria
Rekomendasi
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)