Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Surat Lentera untuk Kelana
0
Suka
1,400
Dibaca

"Aku ingin bercerita padamu tentang ketidakpuasan. Di sini aku menulis untuk kau baca dari jarak sejuta angkasa."

Bintang-bintang sedang berbaris bersama senda gurau kutilang. Ia melihat bulan-bulan memanjangkan tangannya untuk mencipta segala sesuatu yang disebut sebagai cita-cita. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ada sebuah masa ketika segala hal yang dinantikan daun adalah percepatan jatuhnya ke tanah. Tidak perlu menunggu tubuhnya kemuning, agar aroma rumput yang tersiram hujan semalam bisa berbaur dengan tubuhnya yang lunglai. Sebab, ia tidak selalu ingin menjadi bagian dari tubuh pohon. Kesejatian baginya adalah bertemu segala bercak yang hanya akan bisa ditemui pada tanah becek. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ombak hanya bergerak sebab ia ingin mencumbu bibir pantai. Ia tak semata-mata sebagai laut yang luas. Kadang, ia hanya menanti kapan rotasi bumi akan mengembalikannya ke butiran pasir putih di utara bumi. Gerakannya yang membentur terumbu karang harus menghanyutkannya ke berbagai posisi di celah-celah bumi. Namun, hanya di pantai utara itulah ia ingin sekali membiarkan dirinya lesap, jika bisa tak perlu keluasan laut menariknya kembali. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Kau pernah berkata bahwa aku adalah kutub negatif dan kau adalah kutub positif. Saat itu, kita sedang berbicara tentang bebatuan yang kulempar di sembarang meja. Orang-orang membalasku dengan melempar amarah. Kau tak ikut melemparkan cerca. Lebih dari itu, kau melihat, ternyata di balik setiap bebatuan itu ada sinar-sinar keemasan yang berkelip. Bahwa, aku adalah pemantik yang menyalakan api dan kau siap menjadi angin yang siap mengobarkanku atau meredamku.

Kepiting rajungan di selatan akan melihat kita sambil menggemeretakkan capit-capitnya. Ia lupa bahwa ada kelapa yang harus ia bongkar sebelum bergelak tawa. Angin-angin malam di gunung akan lupa bahwa ada pepohonan yang tak lagi kepanasan dan ia akan tetap terus bertiup dengan kencang. Mereka meneriakkan apa yang sering kita katakan, "Bagimu dan aku, adalah kita."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Menjemput Cinta yang Tertunda
Yosi Hanr
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
Assalamu'alaikum Cinta
Bazigha
Novel
"SELEGRAM CANTIK SERIBU WAJAH"
brielle athalia
Novel
Stargazing
tanty
Novel
Kilas Balik
Wiwit Widianti
Cerpen
Bronze
Lost Stars
Vitri Dwi Mantik
Novel
AS NIGHT FALL BY
Arisyifa Siregar
Novel
Dari ANRES untuk SHENA
Devi Jum'atika
Novel
Bronze
Sebuah Pengorbanan Sederhana
Yalie Airy
Novel
Bunga, Air, dan Awan
Azima F. Nawa
Novel
The Ingredients of Happiness
Steffi Adelin
Novel
Sekat Dalam Asa
Arisyifa Siregar
Novel
12 Jam Di Jakarta
Ahmad Barnash
Flash
MEMORIZE YOU
Iman Siputra
Rekomendasi
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
LENTERA APIARI KELANA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)