Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Surat Lentera untuk Kelana
0
Suka
2,939
Dibaca

"Aku ingin bercerita padamu tentang ketidakpuasan. Di sini aku menulis untuk kau baca dari jarak sejuta angkasa."

Bintang-bintang sedang berbaris bersama senda gurau kutilang. Ia melihat bulan-bulan memanjangkan tangannya untuk mencipta segala sesuatu yang disebut sebagai cita-cita. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ada sebuah masa ketika segala hal yang dinantikan daun adalah percepatan jatuhnya ke tanah. Tidak perlu menunggu tubuhnya kemuning, agar aroma rumput yang tersiram hujan semalam bisa berbaur dengan tubuhnya yang lunglai. Sebab, ia tidak selalu ingin menjadi bagian dari tubuh pohon. Kesejatian baginya adalah bertemu segala bercak yang hanya akan bisa ditemui pada tanah becek. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Ombak hanya bergerak sebab ia ingin mencumbu bibir pantai. Ia tak semata-mata sebagai laut yang luas. Kadang, ia hanya menanti kapan rotasi bumi akan mengembalikannya ke butiran pasir putih di utara bumi. Gerakannya yang membentur terumbu karang harus menghanyutkannya ke berbagai posisi di celah-celah bumi. Namun, hanya di pantai utara itulah ia ingin sekali membiarkan dirinya lesap, jika bisa tak perlu keluasan laut menariknya kembali. "Bagimu dan aku, adalah kita".

Kau pernah berkata bahwa aku adalah kutub negatif dan kau adalah kutub positif. Saat itu, kita sedang berbicara tentang bebatuan yang kulempar di sembarang meja. Orang-orang membalasku dengan melempar amarah. Kau tak ikut melemparkan cerca. Lebih dari itu, kau melihat, ternyata di balik setiap bebatuan itu ada sinar-sinar keemasan yang berkelip. Bahwa, aku adalah pemantik yang menyalakan api dan kau siap menjadi angin yang siap mengobarkanku atau meredamku.

Kepiting rajungan di selatan akan melihat kita sambil menggemeretakkan capit-capitnya. Ia lupa bahwa ada kelapa yang harus ia bongkar sebelum bergelak tawa. Angin-angin malam di gunung akan lupa bahwa ada pepohonan yang tak lagi kepanasan dan ia akan tetap terus bertiup dengan kencang. Mereka meneriakkan apa yang sering kita katakan, "Bagimu dan aku, adalah kita."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
WRITE ME HIS STORY
Mizan Publishing
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Bronze
BenciZone
Eva yunita
Cerpen
Bronze
Jasmine and Blueberry Tea
Silvarani
Skrip Film
One of The Finest Memories
Ralali Sinaw
Novel
Alter Ego
Fani Fujisaki
Novel
RAHASIA PERSELINGKUHAN TERLARANG
Oishi Elmo
Cerpen
Cinta Kedua
Iena_Mansur
Novel
You and The End of Summer
Raisha Putri Alyaa Gani
Flash
Delusi
Feby Irawan
Novel
Biarkan Air Mengalir Sebagaimana Hujan
dari Lalu
Flash
Kali Pertama
Nurwahiddatur Rohman
Cerpen
Bronze
Perempuan yang Memandangi Sungai & Guguran Daun-daun Akasia
Juli Prasetya
Novel
Wira
Nazarulloh R
Flash
Bronze
Tipu Daya Lelaki yang Sudah Berumur
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
LENTERA APIARI KELANA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)