Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
KESETIAAN DI PERON DUA
0
Suka
40
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Profesor Hanggoro meninggal pada sore gerimis, ketika kota belum tahu cara bernapas di tengah pandemi. Rumah sakit penuh. Jalanan sunyi seperti kota yang lupa fungsinya. Tidak ada perpisahan yang benar-benar utuh—hanya kabar singkat, suara telepon yang tertahan, dan hujan yang turun tanpa jeda. Orang-orang terdekatnya bahkan tidak diizinkan untuk sekadar menyapa untuk terakhir kalinya, apalagi menyentuh.

Sejak hari itu, setiap sore, seekor kucing bernama Mocca datang ke Stasiun Purwosari.

Ia selalu muncul pada jam yang sama. Sekitar pukul enam kurang seperempat—jam ketika kereta jarak menengah biasanya melambat, mengerang pelan, lalu berhenti. Jam ketika Profesor Hanggoro melangkahkan kakinya untuk turun dari gerbong, merapikan tas kanvasnya, dan berhenti sebentar untuk menepuk kepala Mocca sebelum mereka pulang bersama.

Sebelum pandemi merenggut Profesor Hanggoro, rutinitas itu adalah momen sederhana yang selalu mereka bagi. Kadang sang profesor akan membungkuk, menggumam sesuatu yang hanya dimengerti kucing itu dengan nada setengah bercanda, “Cepatlah, Mocca, kita tidak mau kehujanan, kan?”

Mocca akan menggeser tubuhnya, berjalan perlahan di samping tas kanvas Profesor Hanggoro, saling menjaga ritme langkah menuju pintu keluar. Ada ketenangan dalam kebersamaan itu—sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan.

Lima tahun telah berlalu.

Stasiun Purwosari tidak banyak berubah. Ketika senja turun, lampu-lampu peron menyala satu per satu, menciptakan garis cahaya panjang yang memantul di ubin kerikil tua yang telah dipijak jutaan kaki manusia sejak abad ke-19. Udara penuh dengan suara: bunyi roda besi kereta yang berdecit pelan, dengung interkom yang memanggil jadwal keberangkatan, dan aroma minyak mesin bercampur kopi murah. Atap stasiun yang heritage menyisakan bayangan-bayangan magis, di mana papan informasi digital berkedip datar, seolah waktu adalah hal yang bisa ditangguhkan tanpa konsekuensi—padahal setiap detik berarti bagi yang menunggu.

Di dekat pilar ketiga peron dua, Mocca duduk.

Tubuhnya kini lebih kurus. Bulu abu-abunya tidak lagi mengilap, menampilkan bekas luka dan beberapa titik yang mengelupas. Ujung telinganya sedikit robek oleh malam-malam panjang yang terlalu dingin. Tapi posisinya selalu sama: duduk tegak, ekor melingkar rapi di kaki, kepala sedikit mendongak ke arah pintu keluar gerbong.

Matanya mengikuti setiap orang yang turun.

Sepatu kulit. Bukan.

Tas punggung besar. Bukan.

Payung hitam. Bukan.

Langkah cepat. Bukan.

Wajah-wajah berganti. Wajah lelah, wajah terburu-buru; wajah yang tak tahu bahwa ada makhluk kecil di hadapannya yang sedang menunggu seseorang yang tidak akan pernah muncul lagi.

Kereta berhenti. Pintu terbuka. Orang-orang turun seperti air tumpah—tanpa saling menatap. Mocca berdiri. Tubuhnya sedikit menenang. Ekornya bergerak pelan, bukan karena senang, melainkan karena harapan yang kembali bekerja.

Lalu pintu menutup. Suara peluit melengking. Kereta bergerak lagi, meninggalkan peron yang kembali lengang. Mocca kembali duduk.

Tidak ada suara dari mulutnya. Ia tidak mengeong, tidak meratap. Ia hanya menunggu—seolah menunggu adalah pekerjaan yang harus diselesaikan, bukan perasaan yang bisa ditinggalkan.

Dulu, Profesor Hanggoro sering berkata bahwa Mocca lebih tepat waktu daripada manusia. Seakan ia membaca jam bukan dari angka, melainkan dari ritme alam. Kini, ketika gerimis sore turun dan membuat cahaya lampu pecah di genangan lantai peron, beberapa penumpang berlari kecil menutup kepala. Mocca tetap di tempatnya. Air menempel di bulunya yang menggigil ringan, tetapi ia menolak pergi sebelum jam itu selesai.

Penjaga stasiun pernah mencoba mengusirnya. Relawan pernah hendak membawanya pulang. Banyak tangan baik menyisakan makanan dan menaruh belas kasihan. Mocca menerima semuanya, tetapi ia tidak pernah melepaskan peron itu.

Musim berganti tanpa pengumuman. Pandemi mereda. Kota kembali bising. Orang-orang kembali berjanji dan melanggar janji. Di mata Mocca, mungkin waktu tidak bergerak maju. Mungkin ia abadi di satu sore yang tidak pernah selesai—sore ketika hujan turun, dan Profesor Hanggoro belum terlambat.

Jika ada yang benar-benar memperhatikan, mereka akan melihat sesuatu yang sunyi di wajah Mocca saat kereta terakhir pergi: sebuah penerimaan yang belum selesai. Seperti pintu yang setengah terbuka.

Ia menatap rel yang kosong lebih lama dari biasanya. Seolah memastikan, seolah memberi waktu pada dunia untuk mengoreksi dirinya sendiri. Barangkali kereta akan kembali. Barangkali Profesor Hanggoro akan muncul dari kabut hujan dengan senyum yang terlambat namun tetap berarti.

Namun rel tetap membisu. Hujan hanya memperlebar jarak antara harapan dan kenyataan.

Mocca akhirnya berbalik. Melangkah perlahan, menjauh dari peron. Langkah kakinya membentuk garis tipis di atas genangan, rapuh dan mudah hilang. Ia melangkah condong ke kegelapan, lalu perlahan menghilang di balik keremangan senja.

Besok, pada jam yang sama, ia akan duduk lagi di pilar ketiga. Menunggu, seperti seseorang yang belum selesai pulang.

Di Stasiun Purwosari, setiap sore, ada kesetiaan yang tak tercatat di jadwal kedatangan—namun selalu tiba lebih tepat waktu daripada siapa pun.

Blora, 2022.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
KESETIAAN DI PERON DUA
Desto Prastowo
Novel
Filosofi Kaktus
Isma_nam
Novel
Jalan Emas
Akana.T
Novel
Bronze
Seribu Surga Untuk Ibu
Esteh.maniez
Novel
Bronze
Harapan Bangsa
Miaw Nyaon
Flash
Senyum Bela
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
Andai Kisah ini Tiba di Mejamu
Serasa Sarasa
Skrip Film
Impossible Things?
M Aldi Alfian
Cerpen
Kenangan Akan Selalu Sama
Suryawan W.P
Novel
Bronze
Tuan September
DameNingen
Novel
Bronze
Pesona Ayah
Ana Yuliana
Flash
Berkawan dengan malam part 2
Lentera jingga
Cerpen
Hati
Foggy FF
Flash
Payung Merah Jambu
NO-NAME
Novel
STORY OF FRIENDSHIP
Rahmanur Mumpuni
Rekomendasi
Flash
KESETIAAN DI PERON DUA
Desto Prastowo
Flash
Hantu Anti-Ghosting
Desto Prastowo
Cerpen
Waktu yang Hilang
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Algoritma Hasrat, Borgol di Tangan
Desto Prastowo
Flash
Handphone yang Tertinggal
Desto Prastowo
Novel
Bronze
HARGA DARI SEBUAH SUARA
Desto Prastowo
Cerpen
Lubang di Daun Pisang
Desto Prastowo
Flash
Cum Laude di Sudut Jalan
Desto Prastowo
Novel
Bronze
Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia
Desto Prastowo
Cerpen
Syamsul dan Senja yang Jujur
Desto Prastowo
Flash
Tongkat, Payung, dan Kulit Kacang
Desto Prastowo
Cerpen
Sebelum Kamu Mengetuk Lagi
Desto Prastowo
Novel
Bronze
RESONANSI ROMENI
Desto Prastowo
Cerpen
Cuti Emosional WiFi
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Dua Lilin di Bukit Sunyi
Desto Prastowo