Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
1
Suka
168
Dibaca

Mari berkenalan dengan empat bersaudara yang berbeda dalam segala hal, mulai dari penampilan, watak, hingga kehidupan sehari-hari.

Daniel, si anak sulung. Introvert parah. Setiap hari dunianya hanya berkisar antara Mobile Legends dan utak-atik PC kelas gamer.

Wajahnya putih, bersih. Gayanya cuek khas anak gamer, tapi selalu rapi. Tahun ini adalah tahun keduanya di jurusan kedokteran, pilihan yang ia ambil karena desakan ayahnya yang ingin membanggakannya di depan rekan-rekan bisnis.

"Daniel!"

Suara teriakan ibunya dari lantai bawah menggema sampai ke kamarnya.

"Cari si Damian! Mama suruh dia beli galon air gak pulang-pulang. Cepet!"

Daniel menekan tombol X di PC. Sambil menggerutu, ia keluar rumah.

"Sialan tu anak. Ganggu aja. Gak becus banget beli galon doang."

Ia lalu menstarter PCX milik ayahnya dan melaju ke minimarket di ujung jalan.

Di sana, ia melihat Damian, anak kedua keluarga Wiratama. Tubuhnya paling gempal di antara saudara-saudaranya, kulitnya kecoklatan. Di tangannya, sepotong roti yang sudah separuh dimakan. Di atas meja di depannya terletak segelas kopi dari kafe minimarket.

"Woy, gembul!" Daniel memarkirkan motornya lalu memukul pelan punggung adiknya.

"Malah makan di sini. Pulang lu!"

Damian tidak menggubris. Dia tetap mengunyah rotinya.

"Iya bentar. Elah... Kopi gua masih panas."

"Bodo amat!" seru Daniel. "Ganggu orang aja lu. Buruan!"

Ia lalu kembali ke motor ayahnya dan pulang dengan wajah kesal.

Damian mencebikkan mulutnya.

Akhirnya ia berdiri. Roti yang tersisa diselipkan ke saku jaket, sementara gelas kopinya diletakkan di holder motor.

"Nggak bisa liat orang nyantai. Dasar tuan muda belagu."

Saat Damian tiba di rumah, ibunya sudah menunggunya di depan pintu dengan tangan bersedekap.

"Damian! Disuruh beli galon di situ aja setahun gak balik-balik. Mama makan sambal sampai keselek cabe gara-gara nungguin galon!"

"Ya... ya. Maaf."

Sambil memanggul galon, Damian buru-buru masuk ke rumah.

Dari ruang makan, Devano ikut bersuara.

"Damian! Bikinin mi goreng. Laper!"

"Capek! Bikin sendiri!" teriaknya.

"Bikinin!" Pintu kamar ibunya kembali terbuka. Ia mendelik ke arah Damian. "Mama mau tidur dulu. Capek. Habis ketemu klien."

"Emang laku rumahnya?" ledek Damian.

"Laku lah."

"Berapa?"

"Satu setengah M."

"Wiihhh..."

"Wiihhh..."

Sahut Damian dan Devano bersamaan.

"Traktir fine dining, Ma"

"Aku mau iphone terbaru."

Pintu kamar ibunya langsung ditutup dengan bunyi "brak" keras.

"Pelit!"

"Mama gak asik!"

Devano duduk di kursi makan, menunggu dengan santai mi buatan Damian. Seragam SMP-nya masih melekat di badannya.

"Ganti seragamnya, bontot. Dekil banget."

"Cerewet. Kayak cewek."

"Ya emang gua kayak cewek di rumah ini. Gua yang bawa cucian lu pada ke laundry. Gua yang bikinin kalian makan kalo mama lagi males. Gua yang pergi ke minimarket kalo air habis."

"Siapa suruh lu mau."

Keplakan keras alhasil mendarat di kepala Devano.

"Sakit!"

"Rasain."

Dari arah ruang tengah, masuk si anak ketiga, Daren. Wajahnya mirip Daniel, tapi lebih tampan. Badannya tinggi proporsional. Baju seragam SMA-nya masih rapi dan bersih, meski hari sudah menjelang sore.

"Satu juga dong," ucap Daren tanpa dosa.

"Ogah!" teriak Damian. "Kalian pikir gua pembantu. Noh, minta si Daniel bikinin."

Daren dan Devano hanya mengangkat bahu dan lanjut main hape sambil menunggu mi goreng selesai dibuat.

Di dalam kamar, Meisya, ibu mereka, sedang menscroll platform belanja online. Ia sedang melihat-lihat peralatan masak keramik dari merek favoritnya.

"Satu juta buat satu penggorengan? Bolehlah. Check out."

Layar ponselnya menampilkan notifikasi 'pesanan selesai'.

Dia menaruh ponsel di meja nakas dan berbaring.

Anak-anaknya sudah besar sekarang. Sudah bisa mengurus diri sendiri.

Ia mengingat masa-masa susah dulu. Tanpa pekerjaan tetap sang suami, anak-anak yang masih kecil, hidup berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Kini suaminya memiliki usaha rumah makan ayam tulang lunak dengan beberapa cabang.

Ia sendiri menjadi agen real estate dengan penghasilan puluhan juta perbulan.

Meisya tersenyum kecil.

Ternyata masa-masa sulit itu benar-benar sudah lewat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
Erika Hasan
Cerpen
Peringkat Palsu
Rie Yanti
Flash
Bronze
Nikmati Saja Hidup, Jangan Dilawan
Ari S. Effendy
Flash
Bronze
Sang Penulis
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Antara 45 dan 65 Derajat
Jasma Ryadi
Komik
This Classroom!
mrizkysaputraa
Flash
Amit-amit
Cano
Komik
Otaku-ten!! Volume 1
Wirayudha Pandu Persada
Komik
Bronze
YATO & IATO
Animarska
Cerpen
Cintaku Bertepuk Sebelah Treadmill
cahyo laras
Flash
Mencari Kacamata
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Mengarang Itu Tidak Gampang, Tuan
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
AYAM-AYAM PAK LEMAN
arunika sekar
Cerpen
Suatu Hari di Kampung Kalong
Nirmala Dara
Flash
Bronze
Sepiring Nasi Pare
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
Erika Hasan
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Cerpen
The Waves Of Far Rockaway
Erika Hasan
Cerpen
Dunia Takkan Pernah Tahu
Erika Hasan
Cerpen
Bronze
Nare, Nama Yang Terucap
Erika Hasan
Cerpen
Bronze
Tiga Masa Adinda - Bagian 1 : Cinta Pertama
Erika Hasan