Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
1
Suka
14
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Mari berkenalan dengan empat bersaudara yang berbeda dalam segala hal, mulai dari penampilan, watak, hingga kehidupan sehari-hari.

Daniel, si anak sulung. Introvert parah. Setiap hari dunianya hanya berkisar antara Mobile Legends dan utak-atik PC kelas gamer.

Wajahnya putih, bersih. Gayanya cuek khas anak gamer, tapi selalu rapi. Tahun ini adalah tahun keduanya di jurusan kedokteran, pilihan yang ia ambil karena desakan ayahnya yang ingin membanggakannya di depan rekan-rekan bisnis.

"Daniel!"

Suara teriakan ibunya dari lantai bawah menggema sampai ke kamarnya.

"Cari si Damian! Mama suruh dia beli galon air gak pulang-pulang. Cepet!"

Daniel menekan tombol X di PC. Sambil menggerutu, ia keluar rumah.

"Sialan tu anak. Ganggu aja. Gak becus banget beli galon doang."

Ia lalu menstarter PCX milik ayahnya dan melaju ke minimarket di ujung jalan.

Di sana, ia melihat Damian, anak kedua keluarga Wiratama. Tubuhnya paling gempal di antara saudara-saudaranya, kulitnya kecoklatan. Di tangannya, sepotong roti yang sudah separuh dimakan. Di atas meja di depannya terletak segelas kopi dari kafe minimarket.

"Woy, gembul!" Daniel memarkirkan motornya lalu memukul pelan punggung adiknya.

"Malah makan di sini. Pulang lu!"

Damian tidak menggubris. Dia tetap mengunyah rotinya.

"Iya bentar. Elah... Kopi gua masih panas."

"Bodo amat!" seru Daniel. "Ganggu orang aja lu. Buruan!"

Ia lalu kembali ke motor ayahnya dan pulang dengan wajah kesal.

Damian mencebikkan mulutnya.

Akhirnya ia berdiri. Roti yang tersisa diselipkan ke saku jaket, sementara gelas kopinya diletakkan di holder motor.

"Nggak bisa liat orang nyantai. Dasar tuan muda belagu."

Saat Damian tiba di rumah, ibunya sudah menunggunya di depan pintu dengan tangan bersedekap.

"Damian! Disuruh beli galon di situ aja setahun gak balik-balik. Mama makan sambal sampai keselek cabe gara-gara nungguin galon!"

"Ya... ya. Maaf."

Sambil memanggul galon, Damian buru-buru masuk ke rumah.

Dari ruang makan, Devano ikut bersuara.

"Damian! Bikinin mi goreng. Laper!"

"Capek! Bikin sendiri!" teriaknya.

"Bikinin!" Pintu kamar ibunya kembali terbuka. Ia mendelik ke arah Damian. "Mama mau tidur dulu. Capek. Habis ketemu klien."

"Emang laku rumahnya?" ledek Damian.

"Laku lah."

"Berapa?"

"Satu setengah M."

"Wiihhh..."

"Wiihhh..."

Sahut Damian dan Devano bersamaan.

"Traktir fine dining, Ma"

"Aku mau iphone terbaru."

Pintu kamar ibunya langsung ditutup dengan bunyi "brak" keras.

"Pelit!"

"Mama gak asik!"

Devano duduk di kursi makan, menunggu dengan santai mi buatan Damian. Seragam SMP-nya masih melekat di badannya.

"Ganti seragamnya, bontot. Dekil banget."

"Cerewet. Kayak cewek."

"Ya emang gua kayak cewek di rumah ini. Gua yang bawa cucian lu pada ke laundry. Gua yang bikinin kalian makan kalo mama lagi males. Gua yang pergi ke minimarket kalo air habis."

"Siapa suruh lu mau."

Keplakan keras alhasil mendarat di kepala Devano.

"Sakit!"

"Rasain."

Dari arah ruang tengah, masuk si anak ketiga, Daren. Wajahnya mirip Daniel, tapi lebih tampan. Badannya tinggi proporsional. Baju seragam SMA-nya masih rapi dan bersih, meski hari sudah menjelang sore.

"Satu juga dong," ucap Daren tanpa dosa.

"Ogah!" teriak Damian. "Kalian pikir gua pembantu. Noh, minta si Daniel bikinin."

Daren dan Devano hanya mengangkat bahu dan lanjut main hape sambil menunggu mi goreng selesai dibuat.

Di dalam kamar, Meisya, ibu mereka, sedang menscroll platform belanja online. Ia sedang melihat-lihat peralatan masak keramik dari merek favoritnya.

"Satu juta buat satu penggorengan? Bolehlah. Check out."

Layar ponselnya menampilkan notifikasi 'pesanan selesai'.

Dia menaruh ponsel di meja nakas dan berbaring.

Anak-anaknya sudah besar sekarang. Sudah bisa mengurus diri sendiri.

Ia mengingat masa-masa susah dulu. Tanpa pekerjaan tetap sang suami, anak-anak yang masih kecil, hidup berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Kini suaminya memiliki usaha rumah makan ayam tulang lunak dengan beberapa cabang.

Ia sendiri menjadi agen real estate dengan penghasilan puluhan juta perbulan.

Meisya tersenyum kecil.

Ternyata masa-masa sulit itu benar-benar sudah lewat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
Erika Hasan
Komik
KAOS HITAM
moris avisena
Cerpen
Bronze
Nenek ku Super
Novita Ledo
Cerpen
Lolos Tilang, Harga Diri Hilang
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Tetangga Berisik
Rama Sudeta A
Komik
Siblings
Anintan Savytri
Flash
RINDU
awod
Flash
Bronze
Kamis Bahagia
Arif Holy
Flash
Mencari Kacamata
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Untung Tidak Berpikir
Arif Holy
Komik
Sebutir Manusia
Sukriyadi
Cerpen
Rahmat Anti-Feminis
E. N. Mahera
Cerpen
Bronze
Masalah Seporsi Nasi, Konflik Sepuluh Negara
muhammad rio al fauzan
Cerpen
Dinul Making Love
Annisa Putry
Cerpen
Bronze
Dukun Cabul Dan Celana Dalam Warisan
muhamad jumari
Rekomendasi
Flash
Rumah Berisik Keluarga Wiratama
Erika Hasan
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Cerpen
Dunia Takkan Pernah Tahu
Erika Hasan
Cerpen
Nare, Nama Yang Terucap
Erika Hasan
Cerpen
The Waves Of Far Rockaway
Erika Hasan