Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Mari berkenalan dengan empat bersaudara yang berbeda dalam segala hal, mulai dari penampilan, watak, hingga kehidupan sehari-hari.
Daniel, si anak sulung. Introvert parah. Setiap hari dunianya hanya berkisar antara Mobile Legends dan utak-atik PC kelas gamer.
Wajahnya putih, bersih. Gayanya cuek khas anak gamer, tapi selalu rapi. Tahun ini adalah tahun keduanya di jurusan kedokteran, pilihan yang ia ambil karena desakan ayahnya yang ingin membanggakannya di depan rekan-rekan bisnis.
"Daniel!"
Suara teriakan ibunya dari lantai bawah menggema sampai ke kamarnya.
"Cari si Damian! Mama suruh dia beli galon air gak pulang-pulang. Cepet!"
Daniel menekan tombol X di PC. Sambil menggerutu, ia keluar rumah.
"Sialan tu anak. Ganggu aja. Gak becus banget beli galon doang."
Ia lalu menstarter PCX milik ayahnya dan melaju ke minimarket di ujung jalan.
Di sana, ia melihat Damian, anak kedua keluarga Wiratama. Tubuhnya paling gempal di antara saudara-saudaranya, kulitnya kecoklatan. Di tangannya, sepotong roti yang sudah separuh dimakan. Di atas meja di depannya terletak segelas kopi dari kafe minimarket.
"Woy, gembul!" Daniel memarkirkan motornya lalu memukul pelan punggung adiknya.
"Malah makan di sini. Pulang lu!"
Damian tidak menggubris. Dia tetap mengunyah rotinya.
"Iya bentar. Elah... Kopi gua masih panas."
"Bodo amat!" seru Daniel. "Ganggu orang aja lu. Buruan!"
Ia lalu kembali ke motor ayahnya dan pulang dengan wajah kesal.
Damian mencebikkan mulutnya.
Akhirnya ia berdiri. Roti yang tersisa diselipkan ke saku jaket, sementara gelas kopinya diletakkan di holder motor.
"Nggak bisa liat orang nyantai. Dasar tuan muda belagu."
Saat Damian tiba di rumah, ibunya sudah menunggunya di depan pintu dengan tangan bersedekap.
"Damian! Disuruh beli galon di situ aja setahun gak balik-balik. Mama makan sambal sampai keselek cabe gara-gara nungguin galon!"
"Ya... ya. Maaf."
Sambil memanggul galon, Damian buru-buru masuk ke rumah.
Dari ruang makan, Devano ikut bersuara.
"Damian! Bikinin mi goreng. Laper!"
"Capek! Bikin sendiri!" teriaknya.
"Bikinin!" Pintu kamar ibunya kembali terbuka. Ia mendelik ke arah Damian. "Mama mau tidur dulu. Capek. Habis ketemu klien."
"Emang laku rumahnya?" ledek Damian.
"Laku lah."
"Berapa?"
"Satu setengah M."
"Wiihhh..."
"Wiihhh..."
Sahut Damian dan Devano bersamaan.
"Traktir fine dining, Ma"
"Aku mau iphone terbaru."
Pintu kamar ibunya langsung ditutup dengan bunyi "brak" keras.
"Pelit!"
"Mama gak asik!"
Devano duduk di kursi makan, menunggu dengan santai mi buatan Damian. Seragam SMP-nya masih melekat di badannya.
"Ganti seragamnya, bontot. Dekil banget."
"Cerewet. Kayak cewek."
"Ya emang gua kayak cewek di rumah ini. Gua yang bawa cucian lu pada ke laundry. Gua yang bikinin kalian makan kalo mama lagi males. Gua yang pergi ke minimarket kalo air habis."
"Siapa suruh lu mau."
Keplakan keras alhasil mendarat di kepala Devano.
"Sakit!"
"Rasain."
Dari arah ruang tengah, masuk si anak ketiga, Daren. Wajahnya mirip Daniel, tapi lebih tampan. Badannya tinggi proporsional. Baju seragam SMA-nya masih rapi dan bersih, meski hari sudah menjelang sore.
"Satu juga dong," ucap Daren tanpa dosa.
"Ogah!" teriak Damian. "Kalian pikir gua pembantu. Noh, minta si Daniel bikinin."
Daren dan Devano hanya mengangkat bahu dan lanjut main hape sambil menunggu mi goreng selesai dibuat.
Di dalam kamar, Meisya, ibu mereka, sedang menscroll platform belanja online. Ia sedang melihat-lihat peralatan masak keramik dari merek favoritnya.
"Satu juta buat satu penggorengan? Bolehlah. Check out."
Layar ponselnya menampilkan notifikasi 'pesanan selesai'.
Dia menaruh ponsel di meja nakas dan berbaring.
Anak-anaknya sudah besar sekarang. Sudah bisa mengurus diri sendiri.
Ia mengingat masa-masa susah dulu. Tanpa pekerjaan tetap sang suami, anak-anak yang masih kecil, hidup berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
Kini suaminya memiliki usaha rumah makan ayam tulang lunak dengan beberapa cabang.
Ia sendiri menjadi agen real estate dengan penghasilan puluhan juta perbulan.
Meisya tersenyum kecil.
Ternyata masa-masa sulit itu benar-benar sudah lewat.