Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
Keris Bali
1
Suka
24
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku Novia, seorang perempuan Bali beranak tiga, dihari ini hari istimewa. Rabu ini hari raya Galungan, salah satu hari raya besar Hindu, Dharma melawan Adharma. Dihari kemenangan ini, aku merasa ada sesuatu yang tidak menang. Mata tertuju pada sebuah plastik kampil yang tergantung didinding.

"Sampai berdebu begini"

Aku coba turunkan, ada tiga senjata pusaka, keris Pecalang, pedang Sulawesi dan pisau pecahan pedang algojo. Aku ambil keris, membuka tali kain pengikat sarung, lalu mencabut keris.

"Karatan"

Tertera tanggal penerimaan tanggal tiga bulan delapan tahun dua ribu tiga. Jika dihitung sudah dua puluh tiga tahun, yang aku tahu hanya aku yang membuka. Ya hanya aku jika di lingkungan di luar konstitusi Pecalang.

Setelah diperiksa lebih mendetail, bahan yang digunakan untuk bilah, enam puluh persen besi, empat puluh persen stainless.

"Cocok mudah karatan, tidak ada sedikitpun campuran baja, asli bukan buatan perapen dan Pande Wesi asli", pikirku

Aku ikut firasat, aku ambil hp dan meminta anak perempuanku merekam.

"Yen tolong rekam"

Heran, "Buat apa bawa keris bapak ?"

"Mau buat video reels"

"Gimana kalau bapak tahu ?"

"Sudah gak apa-apa"

Aku instruksikan seperti apa awal merekam dan diakhir merekam.

Sebelum melepaskan keris dari sarungnya, terlebih dahulu hormat untuk keris. Dalam posisi bilah kebawah, aku angkat hingga setara dahi, lalu lulus dengan dada.

Aku buka dengan menarik gagang keris, aku ayunkan sesuai gaya serang layaknya pendekar wanita. Lalu tutup hormat seperti diawal, segera aku meminta hp dan melihat hasilnya

"Meme kok berani pakai keris itu, itu kan keris Pecalang"

"Ya tahu, lalu kenapa ?"

"Nanti tidak masalah kalau ditaruh buat konten"

Bocah sebelas tahun ini memang sedikit punya wawasan, terlihat raut muka hawatir.

"Tidak, itu cuma gerak demonstrasi, lagian jarang cewek bisa gaya aksi kayak mememu ini, apa lagi perempuan Bali"

Pandangannya padaku ada sebuah tanya yang sulit diucapkan kata.

"Kamu pasti mikir, kenapa meme berani ?"

Bocah perempuan ini hanya mengangguk.

"Entah kenapa senjata tajam seperti ini tidaklah menakutkan, mungkin masih ada darah Pande"

"Pande ?"

"Ya Pande, Pande Wesi, nenekmu itu keturunan asli Pande Wesi, Pande Bangke Maong, trah pande di Bali yang tertua"

Yen berpikir dari keseluruhan kata yang aku ucapkan tadi.

"Kok Pande Bangke Maong, Maong kan jamuran ?"

"Ya itu benar, dulu leluhur nenekmu itu, satu-satunya Pande Wesi yang ahli buat senjata, berhasil melarikan diri dari pembantaian"

"Kok gitu ?"

"Dulu zaman Bali kuno, Pande Bangke Maong adalah pemasok senjata untuk kerajaan Bali, Maja Pahit tidak berani karena senjata keris buatan Pande Wesi Bangke Maong itu mematikan"

Yen berpikir, "Ya kalau ditusuk pasti mati yang kena"

Pemikiran bocah ini masih awam dan polos.

"Ya benar katamu, tapi yang buat ngeri, luka sedikit bisa membuat tubuh yang kena keracunan dan membusuk"

Yen melongo disusul geleng-geleng ngeri.

"Me itu nakutin"

Aku tertawa kecil, "Kamu yang dengar saja ngeri, apa lagi Maja Pahit pasti lebih ngeri lagi"

"Tapi kok bisa dibantai, kan punya senjata hebat ?"

Aku mencoba mengingat cerita mendiang kakek Pande paman dari ibuku. Saat itu aku masih seusia Yen, tidak sengaja mendengar ia bercerita pada seseorang. Kalau penyerangan itu atas perintah Patih Gajahmada, demi menguasai Bali.

"Dulu pamannya nenekmu pernah cerita, Maja Pahit itu punya Patih yang bernama Gajah Mada, punya sumpah Palapa"

Berpikir, "Coba lanjut me, isi sumpah Palapa itu, sama gak kayak Sumpah Pemuda ?"

Sehentak aku tertawa mendengar apa yang dipahami anak bocah ini.

"Tidak, Sumpah Palapa itu, dimana Gajah Mada tidak akan makan apapun dari buah kelapa sampai mempersatukan Nusantara"

Bukan hanya Yen saja, kini kedua anak laki-lakiku beralih dari acara tv mendengar ceritaku.

"Ayo me lanjut", desak Yen

"Demi sumpah itu dia punya rencana licik, karena saat itu kerajaan Bali sulit ditaklukan"

Aku diam beberapa lama untuk merombak kata biar dipahami oleh bocah-bocah ini.

"Rencananya Gajah Mada menipu raja Bali, agar Patih Kebo Iwa mau ikut ke Maja Pahit, setelah rencananya berhasil, dia mengutus pasukan dipimpin oleh trah Arya buat menyerang Tamblingan, tidak kenal ampun mereka"

Aku menarik nafas, "Salah satu leluhur nenekmu itu berhasil kabur, dia sembunyi di balik air terjun sungai, disana ada ikan Jeleg alias gabus, diam berhari-hari disana hingga aman, maka dia bersumpah dia dan seluruh keturunannya pantang makan ikan Jeleg"

Yen sedikit paham, terlihat dari anggukan kecilnya.

"Lalu sama keris bapak ini apa ?"

Senyum tipis, "Artinya hanya yang berdarah Pande saja yang berani pegang pusaka kayak keris Pecalang ini, walau ini bukan buatan Pande, tapi keris yang sudah dipasupati atau diruat punya aura, buat yang pegang pasti merinding"

Nyengir kuda, "Ya sih, makanya tadi aku tanya gak masalah itu meme pegang"

"Tidak lah Yen, walau ini punya bapakmu, ada terukir nama dia disarung, tapi kalau cuma buat pajangan itu menandakan dia tidak bangga dengan keris ini"

Yen hanya mengangguk mendengar ceritaku, entah dengan suamiku apa pendapatku itu senada dengan pemikiran dia, entahlah.

Satu hal yang pasti, pusaka menang tidak untuk dipamerkan, tidak juga untuk dipajang. Pakailah sekali waktu walau hanya untuk laga atau demonstrasi, sebagai wujud rasa bangga atas ilmu yang diturunkan dari leluhur. Ya itu menurutku, lalu bagaimana dengan yang lain ?

Entahlah, ini cerita turun-temurun, sebagian itu tercatat dalam babad, sisanya itu adalah cerita lisan yang diceritakan turun-temurun. Tidak seutuhnya aku berdarah Pande Wesi, karena bapakku itu keturunan Bendesa Manik Mas, pejabat yang disegani dan yang sepuh dari trah Bendesa yang ada di Bali. Hanya keturunan, tapi terlihat mampu memimpin walau bukan pemimpin.

Semua ini menarik atau terkesan sombong, silahkan nilai sendiri, ini adalah data dan DNA yang tidak bisa dipungkiri. Pande Bangke Maong dan Bendesa Manik Mas itu ada, silahkan telusuri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
Keris Bali
Novia dewi
Novel
Di Ujung Pelukan Malam: Kata-Kata Indah dan Sajak Kehidupan
Dede Nurrahman
Novel
Hanya Mimpi
Binti Uti
Novel
HILANG
rizky al-faruqi
Novel
Pita Merah
Miftachul W. Abdullah
Novel
DIVIDE ET IMPERA
Sastra Introvert
Novel
PENGUASA ANTAH BERANTAH
After Future
Novel
Anak Gandhok
Erna Surya
Novel
Gold
Mikiran Yayat: Dari Yayat, Oleh Yayat, Untuk Rakyat
Bentang Pustaka
Novel
HARU KEPUNCAK CIREMAI
Rossi Gusti Nugraha
Novel
DIKEJAR DOSA
Donny Sixx
Novel
Bronze
Benteng Terakhir Pernikahan
Alexa Rd
Novel
Bronze
Kisah Tak Berujung
Savana Radiani
Novel
Bronze
AING UDIN
Dadan Rachman Rudiman
Novel
Gold
Muhammad Ali
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Keris Bali
Novia dewi
Novel
Derita Istri Muda
Novia dewi
Novel
Sinar-Sinar Cinta
Novia dewi