Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Aneh ya," kata Rio suatu malam, "orang lebih rajin mengecek promo gratis ongkir daripada mengecek kebenaran sebuah kabar."
Semua orang di meja itu tertawa.
Kecuali Bram.
Ia sedang menatap layar ponselnya yang dipenuhi notifikasi. Sebuah unggahan video berdurasi empat puluh detik baru saja menembus sejuta tayangan. Ribuan komentar mengalir seperti hujan deras.
"Bongkar! Tokoh Inspiratif Ternyata Palsu?"
Itu judul videonya.
Dan Bram tahu satu hal yang tak diketahui para penontonnya.
Ia tidak benar-benar yakin apakah isi video itu benar.
---
Bram bekerja sebagai penulis naskah di sebuah media digital kecil bernama TitikTemu. Gajinya cukup untuk membayar kos, kopi susu dua kali seminggu, dan sesekali mentraktir ibunya saat pulang ke rumah.
Dunia Bram bergerak dengan ritme yang sederhana: bangun pagi, mengejar tren, menulis naskah, mengedit, mengunggah.
Di kantor, ada satu kalimat yang menjadi doa sekaligus kutukan.
"Yang penting cepat."
Cepat menemukan topik.
Cepat menulis.
Cepat mengunggah.
Cepat viral.
Kebenaran sering kali datang belakangan. Kalau sempat.
"Algoritma nggak peduli benar atau salah," kata Fajar, editornya. "Algoritma cuma peduli orang berhenti scrolling."
Bram mengangguk.
Awalnya.
Lama-lama ia mempercayainya.
---
Video tentang tokoh inspiratif itu berasal dari sebuah utas anonim.
"Sumber terpercaya."
Begitu tulis akun tersebut.
Tanpa nama.
Tanpa bukti.
Tanpa siapa pun tahu siapa yang pertama kali mengatakannya.
Bram mengambilnya.
Menambahkan narasi dramatis.
---
Bram mendesah.
"Semua media juga angkat."
"Jadi?"
"Ya berarti aman."
Rio menatapnya lama.
"Aman buat siapa?"
---
Rio adalah pengecek fakta.
Orang yang membaca catatan kaki.
Yang membuka tautan sampai halaman kesebelas.
Yang tidak percaya pada kalimat "katanya".
Bagi Bram, Rio terlalu lambat.
Bagi Rio, Bram terlalu tergesa.
"Kamu tahu apa masalah terbesar zaman sekarang?" tanya Rio saat mereka berjalan pulang.
"Kebanyakan informasi?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Kita kehilangan kebiasaan bertanya: dapat dari siapa?"
Bram tertawa kecil.
"Kayak polisi."
"Atau seperti orang-orang dulu."
"Maksudnya?"
Rio berhenti melangkah.
"Kakekku pernah bilang, ilmu itu punya jejak kaki."
"Apa?"
"Jejak siapa yang membawa ilmu itu sampai kepadamu."
---
Beberapa hari kemudian, surat somasi datang.
Tokoh yang mereka tuduh ternyata tidak bersalah.
Bukti-bukti yang beredar adalah potongan video lama yang dipelintir konteksnya.
Utas anonim itu menghilang.
Akun sumber terpercaya lenyap.
Titik Temu panik.
Fajar marah.
"Siapa yang riset?"
Bram terdiam.
Ia ingin menunjuk utas anonim.
Ingin menyalahkan akun yang hilang.
Ingin berkata bahwa semua media juga melakukan hal yang sama.
Tetapi untuk pertama kalinya, alasan-alasan itu terdengar rapuh.
Seperti payung kertas saat badai.
---
Ibunya menelepon malam itu.
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Ibu yang melahirkan kamu. Suaramu beda."
Bram diam lama.
"Aku bikin salah."
Ibunya tidak langsung menjawab.
"Dulu waktu kamu kecil," katanya pelan, "kalau pulang sekolah kamu suka bilang, 'Temanku bilang begini.'"
Bram tersenyum tipis.
"Iya."
"Ibu selalu tanya apa?"
Bram memejamkan mata.
"'Teman yang mana?'"
"Karena setiap cerita ada orang di belakangnya."
---
Dapat dari siapa?
Sesederhana itu.
Tetapi anehnya, justru pertanyaan itu yang paling jarang ditanyakan.
---
Bram mulai menyelidiki.
Utas anonim.
Potongan video.
Tangkapan layar.
Ia mengikuti jejak digital seperti seseorang mengikuti remah roti di hutan gelap.
Sampai akhirnya ia menemukan sumber pertama.
Bukan jurnalis.
Bukan saksi.
Bukan ahli.
Melainkan akun hiburan yang mengaku sedang "iseng bikin teori."
Iseng.
Sejuta tayangan.
Satu reputasi hancur.
Satu keluarga diteror.
Hanya karena sesuatu yang dimulai dari kata iseng.
Bram merasa mual.
---
Ia menemui Rio.
"Aku salah."
Rio mengangguk.
"Iya."
"Kok kamu nggak bilang nggak apa-apa?"
"Karena memang bukan nggak apa-apa."
Bram menatap meja kopi.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Orang benci aku."
Rio mengaduk minumannya perlahan.
"Kita semua bisa salah. Yang membedakan adalah apa yang kita lakukan setelah tahu."
---
Seminggu kemudian, Bram mengusulkan sesuatu.
Video permintaan maaf.
Fajar menolak.
"Kita kehilangan engagement."
"Kita menyebarkan fitnah."
"Semua media juga begitu."
Kalimat itu datang lagi.
Kalimat yang dulu begitu nyaman.
Kini terdengar seperti jebakan.
"Kalau semua orang tersesat," kata Bram pelan, "apa itu membuat arah yang salah jadi benar?"
Fajar terdiam.
---
Video klarifikasi akhirnya tayang.
Judulnya sederhana.
Kami Salah.
Tidak dramatis.
Tidak bombastis.
Tidak ada musik tegang.
Bagaimana sebuah "katanya" bisa berubah menjadi keyakinan massal.
Bagaimana mereka gagal bertanya tentang asal-usul cerita.
Komentarnya bercampur.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tidur tanpa memikirkan angka tayangan.
---
Rio membuat segmen baru.
Jejak Cerita.
Segmen yang melacak dari mana sebuah informasi berasal.
Siapa yang pertama berkata.
Siapa yang menyebarkan.
Siapa yang memverifikasi.
Aneh.
Orang ternyata menyukainya.
Barangkali mereka diam-diam merindukan sesuatu yang bisa dipercaya.
---
Suatu sore, Bram menghadiri diskusi literasi digital di sebuah sekolah.
Seorang siswa bertanya.
"Kak, kalau kita nggak tahu mana yang benar, harus bagaimana?"
Bram tersenyum.
Dulu ia akan memberi jawaban panjang.
Kini tidak.
"Coba mulai dengan satu pertanyaan."
"Apa?"
"Dapat dari siapa?"
Anak-anak itu tertawa kecil.
Sesederhana itu?
Iya.
Sesederhana itu.
Dan sesulit itu.
---
Sepulang dari acara, Bram menemukan sebuah pesan dari ibunya.
"Jangan lupa makan."
Pesan sesingkat itu.
Tetapi tiba-tiba ia sadar.
Hidup manusia dibangun oleh mata rantai yang tak kasatmata.
Resep masakan dari nenek.
Doa dari ibu.
Buku yang mengubah cara berpikir.
Semua sampai kepada kita melalui seseorang.
Bahkan diri kita adalah kumpulan warisan yang diteruskan diam-diam.
Mungkin itulah sebabnya kita perlu berhati-hati terhadap apa yang kita teruskan.
Karena setiap kata yang kita bagikan akan menjadi jejak kaki bagi orang lain.
---
Beberapa tahun kemudian, Bram dikenal sebagai jurnalis yang cerewet soal sumber.
"Ribet banget," keluh rekan baru.
"Kenapa sih harus sedetail itu?"
Bram tersenyum.
Lalu bertanya,
"Kalau suatu hari ibumu dituduh berdasarkan kabar yang asal-usulnya nggak jelas, apakah kamu masih menganggap ini ribet?"
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua orang tiba-tiba punya seseorang yang ingin mereka lindungi.
---
Plot twist itu datang bukan dari pengadilan.
Bukan dari video viral.
Bukan dari musuh besar.
Melainkan dari kesadaran sederhana:
Bram selama ini mengira dirinya sedang mencari sumber berita.
Padahal sesungguhnya ia sedang mencari dirinya sendiri.
Mencari manusia seperti apa yang ingin ia wariskan kepada dunia.
Apakah ia ingin dikenang sebagai orang yang paling cepat?
Pada akhirnya, mungkin hidup bukan tentang seberapa keras suara kita terdengar.
Melainkan seberapa bertanggung jawab kita terhadap gema yang kita tinggalkan.