Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ketika Mimpi Kita Gagal
0
Suka
8
Dibaca

Malam itu Jakarta seperti kota yang lupa cara bernapas.

Hujan menggantung rendah di langit, tidak jatuh, hanya menekan. Lampu-lampu jalan memantul di genangan seperti mata yang terlalu lama menahan tangis. Di sudut warung kopi dekat rel kereta, televisi 24 inci menggigil menayangkan ulang momen yang sama: bola melambung tipis di atas mistar, peluit panjang, lalu wajah-wajah muda berseragam merah yang runtuh di rumput hijau.

Indonesia gagal.

Gagal lagi.

Dan anehnya, seluruh negeri terdengar lebih sunyi daripada kuburan selepas magrib.

Raka mematikan televisi dengan gerakan pelan, seolah takut melukai sesuatu yang sudah hancur. Di luar, suara motor melintas seperti desir napas orang yang kelelahan hidup.

“Udah tutup aja, Ka,” kata pemilik warung. “Orang-orang malas nongkrong kalau timnas kalah.”

Raka mengangguk.

Ia membereskan gelas kopi yang tinggal ampas hitam. Tangannya dingin. Sejak tadi, ponselnya terus bergetar—grup WhatsApp, Instagram, Twitter, semua penuh umpatan. Meme. Tangisan. Kemarahan. Sebagian menyalahkan pelatih. Sebagian menyalahkan wasit. Sebagian lagi menyalahkan takdir yang katanya terlalu pelit memberi bahagia pada negeri ini.

Tapi Raka tahu, ada yang lebih menyakitkan daripada kekalahan.

Harapan.

Harapan adalah pisau paling tajam yang diasah pelan-pelan oleh jutaan doa.

Ia menutup rolling door setengah, lalu duduk sendiri di kursi plastik. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan tiket lusuh bertuliskan:

INDONESIA VS GUINEA

PLAY-OFF PIALA DUNIA U-23

Tiket itu belum pernah ia buang.

Padahal pertandingan itu sudah lewat dua minggu.

Padahal semua sudah selesai.

Raka menatap tiket itu lama sekali sampai suara perempuan memecah lamunannya.

“Kamu masih nyimpen itu?”

Raka mendongak.

Nala berdiri di depan warung sambil memayungi dirinya sendiri. Rambutnya basah oleh gerimis yang akhirnya turun perlahan. Gadis itu selalu datang seperti lagu lama: tenang, tapi mampu membuka luka yang sudah susah payah dijahit.

“Kamu belum tidur?” tanya Raka.

“Aku habis dari rumah sakit.”

Raka tercekat sesaat. “Ayahmu?”

Nala mengangguk kecil. “Masih belum sadar.”

Sunyi turun lagi.

Kereta melintas di kejauhan, mengguncang rel dan malam sekaligus.

Nala duduk di hadapan Raka. “Aku lihat pertandingan itu,” katanya pelan. “Semua orang nangis.”

“Ya.”

“Kamu juga?”

Raka tertawa kecil, hambar. “Aku bahkan nggak ngerti kenapa rasanya kayak kehilangan seseorang.”

Nala menatapnya lama. “Karena kamu memang kehilangan seseorang.”

Raka mengernyit.

Nala mengambil tiket lusuh di tangan Raka, membaliknya perlahan. Di bagian belakang tiket itu ada tulisan tangan yang mulai pudar terkena keringat dan hujan.

Kalau Indonesia lolos, kita nonton Piala Dunia bareng.

Raka membeku.

Sudah hampir setahun ayahnya meninggal, tetapi kalimat itu masih terasa hidup.

Ayahnya bukan orang penting. Hanya sopir angkot yang hafal nama seluruh pemain timnas lebih baik daripada nama tetangga sendiri. Lelaki itu percaya sepak bola bukan sekadar olahraga.

“Sepak bola itu harapan orang kecil,” katanya dulu.

Raka tidak pernah benar-benar mengerti sampai malam ketika Indonesia gagal lolos Piala Dunia.

Ia akhirnya paham: orang-orang tidak menangisi sepak bola.

Mereka menangisi kemungkinan.

Kemungkinan untuk percaya bahwa sesuatu yang mustahil bisa berubah.

Nala mengembalikan tiket itu perlahan.

“Ayahku juga nonton sebelum masuk ICU,” katanya lirih. “Dia senyum waktu Indonesia hampir cetak gol.”

“Terus?”

“Terus dia bilang… lucu ya. Kita tetap berharap meski berkali-kali patah.”

Raka diam.

Hujan mulai turun lebih deras. Bau tanah basah memenuhi udara.

Nala menatap jalanan kosong. “Aku dulu benci sepak bola.”

“Kenapa?”

“Karena ayah lebih sering nonton bola daripada dengar aku cerita.”

Raka tersenyum tipis.

“Tapi sekarang,” lanjut Nala, “aku ngerti. Mungkin ayah cuma butuh sesuatu untuk dipercaya.”

Malam makin larut. Warung hampir gelap seluruhnya kecuali lampu neon kecil yang berkedip seperti jantung lelah.

“Ka,” kata Nala tiba-tiba, “kalau Indonesia lolos waktu itu… apa yang bakal kamu lakukan?”

Raka berpikir lama.

“Mungkin ngajak ayah ke stadion.”

Nala menunduk. “Padahal ayahmu udah nggak ada.”

“Iya.”

“Terus?”

Raka menarik napas dalam-dalam.

“Kadang kita tetap membuat rencana untuk orang-orang yang sudah pergi,” katanya. “Biar rasanya mereka belum benar-benar hilang.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nala menangis.

Bukan tangis besar. Hanya air mata kecil yang jatuh diam-diam seperti hujan di luar sana.

Raka tidak berusaha menenangkan. Ada kesedihan yang tidak perlu dihentikan. Hanya perlu ditemani.

Beberapa menit kemudian, ponsel Nala berbunyi.

Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah pucat.

“Rumah sakit,” bisiknya.

Raka langsung berdiri. “Aku antar.”

Perjalanan menuju rumah sakit terasa lebih sunyi daripada biasanya. Jalan-jalan basah memantulkan lampu kota seperti serpihan mimpi yang pecah. Radio mobil memutar komentar pertandingan timnas dengan suara pelan:

“…meski gagal, perjuangan Garuda Muda tetap membanggakan…”

Nala mematikannya.

Sesampainya di rumah sakit, mereka berlari menuju ICU. Bau antiseptik menusuk hidung. Lampu putih terasa terlalu terang untuk kabar buruk.

Seorang dokter keluar.

Nala berhenti bernapas.

“Maaf,” kata dokter itu pelan.

Hanya satu kata.

Tapi cukup untuk meruntuhkan seluruh dunia seseorang.

Nala terduduk.

Raka berdiri mematung.

Di ruang tunggu yang dingin itu, tiba-tiba ia teringat stadion penuh ribuan orang berbaju merah, bernyanyi sekeras mungkin meski tahu kemungkinan kalah tetap ada.

Manusia memang aneh.

Kita terus berharap bahkan ketika hidup berkali-kali mengajari bahwa kehilangan adalah akhir yang paling setia.

Beberapa hari kemudian, kota kembali normal. Orang-orang mulai membicarakan hal lain. Harga beras. Politik. Diskon belanja online.

Kekalahan timnas perlahan jadi arsip.

Tapi suatu sore, Raka membuka warung seperti biasa ketika seorang anak kecil datang membeli kopi sachet.

Anak itu memakai jersey merah kebesaran.

“Bang,” katanya polos, “Indonesia nanti bisa masuk Piala Dunia nggak?”

Raka terdiam.

Dulu mungkin ia akan tertawa pahit.

Tapi entah kenapa, kali ini tidak.

Ia memandang langit senja di luar warung. Warna jingga menyala seperti sesuatu yang menolak padam.

“Bisa,” jawabnya akhirnya.

“Yakin?”

Raka tersenyum kecil.

“Iya. Karena orang Indonesia keras kepala soal mimpi.”

Anak kecil itu tertawa lalu berlari pergi.

Dan di tengah suara azan magrib, rel kereta, serta kota yang terus bergerak tanpa peduli siapa yang kalah atau kehilangan, Raka akhirnya mengerti satu hal:

Mungkin harapan memang sering membuat manusia terluka.

Tetapi tanpa harapan, hidup hanya tinggal pertandingan tanpa penonton.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
ADIK YANG NIKAH, AKU YANG GUNDAH
zae_suk
Flash
Ketika Mimpi Kita Gagal
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Novel
Bronze
Cotton Candy ✂️ dan 🎀
Yukina Gelia
Skrip Film
TAKDIR CINTA
ANDHIKA AKHIR PUTRA
Flash
My Own Night World
Rexa Strudel
Novel
Bronze
HIDUP TAK SEBERCANDA ITU
Adji Sukman
Novel
Aku, Kamu, dan Kisah Kita
Jeanita Aprianti
Flash
Bronze
Selat yang Menelan Nama-Nama
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Buku yang Mengubah Hidupnya
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Yang Tidak Pernah Kita Cek Ulang
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Novel
Heart Reset
nisafaza
Novel
Kedai Bakmi Keluarga
Chrystina Yohana Limas
Cerpen
Kucing
Edelweiss
Cerpen
My Dearest Idol Easy R
Edelweiss
Flash
The Last Painting
Ilestavan
Rekomendasi
Flash
Ketika Mimpi Kita Gagal
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Buku yang Mengubah Hidupnya
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Yang Tidak Pernah Kita Cek Ulang
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Bronze
Selat yang Menelan Nama-Nama
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Mereka yang Menang Setiap Malam
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin
Flash
Bronze
Rel yang Salah, Hidup yang Terlambat
Ahmad Muwafiq Ainul Yaqin