Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Traitor
1
Suka
1,712
Dibaca

"let bygones be bygones" kamu itu sudah jadi masa laluku-Ivana Lee

Ivana tidak menangis saat Bryan mengakhiri hubungan mereka. Setidaknya ia tidak menunjukkannya di depan Bryan. Ia hanya duduk di bangku taman kampus, menggenggam kedua tangannya erat-erat agar tidak gemetar.

"Aku rasa kita sudah nggak bisa lanjut," kata Bryan waktu itu. Seolah mereka hanya sedang membicarakan jadwal kuliah yang bentrok. Ivana bahkan masih sempat tersenyum.

"Kalau itu yang kamu mau."

Bryan mengangguk, lalu pergi, dan sejak hari itu, hidup Ivana berubah menjadi ruang sunyi.

Ia menghapus foto-foto mereka, menyimpan hadiah-hadiah Bryan ke dalam kardus, dan memblokir nomor teleponnya. Berusaha terlihat baik-baik saja.

Tetapi setiap malam, ketika dunia mulai sepi dan tidak ada lagi yang harus ia pura-purakan, rasa kehilangan itu datang seperti ombak.

Bryan ada di mana-mana, di lagu yang mereka dengarkan bersama, di kafe tempat mereka biasa mengerjakan tugas. Di setiap sudut hidup Ivana, mencoba bertahan.

Sampai suatu sore, sahabatnya mengirim sebuah tangkapan layar. Hanya sebuah foto, Bryan dan seorang gadis. Mereka sedang duduk berdampingan di sebuah restoran. Tertawa, mereka terlihat begitu dekat.

Ivana menatap foto itu lama, tangannya dingin, dadanya perlahan sesak. Ia membuka profil media sosial gadis itu, dan menemukan lebih banyak foto Bryan ada di sana.

Ivana menghitung tanggalnya, satu minggu setelah mereka putus. Bahkan ada foto yang diunggah hanya beberapa hari setelah perpisahan mereka.

Perut Ivana terasa mual, bukan karena Bryan sudah memiliki orang lain, tetapi karena semuanya terasa terlalu cepat. Seolah Bryan memang sudah berjalan menuju orang itu bahkan sebelum meninggalkannya.

***

Ivana duduk sendirian di lantai kamarnya, memandangi layar ponsel membaca ulang percakapan lama. Mencari sesuatu, tanda bahwa semua itu tidak benar. Bahwa Bryan tidak mungkin secepat itu melupakannya.

Namun semakin lama ia mencari, semakin banyak hal yang mulai masuk akal, tentang nama gadis itu yang pernah muncul beberapa kali dalam cerita Bryan. Pesan yang selalu dibalas terlambat, dan perhatian Bryan yang perlahan berkurang pada bulan-bulan terakhir hubungan mereka.

Bryan seolah tampak tidak terlalu sedih saat putus. Ivana dulu mengira Bryan kuat, sekarang ia mulai bertanya-tanya atau mungkin Bryan memang sudah selesai mencintainya jauh sebelum hubungan mereka berakhir.

Air matanya jatuh, karena tiba-tiba Ivana menyadari sesuatu. Ia bukan sedang berduka karena kehilangan Bryan, tapi karena menyadari bahwa mungkin selama ini hanya dirinya yang masih berjuang mempertahankan hubungan itu.

***

Sebulan kemudian Bryan menghubunginya, sebuah pesan singkat masuk.

"Apa kabar?" Ivana menatap layar cukup lama, lalu menjawab.

"Baik."

Bryan mengetik lagi.

"Aku dengar kamu sibuk sekarang."

"Lumayan."

Beberapa detik berlalu, lalu muncul pesan lain.

"Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu."

Ivana tertawa, merasa lucu karena hal itu begitu terlambat datangnya.

Dulu, ia mungkin akan menjawab panjang lebar, menanyakan banyak hal, meminta penjelasan, tetapi sekarang tidak lagi, karena ada pertanyaan yang akhirnya berhasil ia jawab sendiri.

Bukan apakah Bryan berselingkuh, atau apakah Bryan mencintai gadis itu saat mereka masih bersama. Bukan pula sejak kapan semuanya dimulai.

Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa rasa sakit ini begitu besar?

Karena Ivana pernah mempercayai Bryan sepenuhnya, dan memberikan seluruh hatinya, keyakinannya dan seluruh masa depannya.

Lalu suatu hari ia menyadari bahwa orang yang paling ia percayai ternyata mampu membuatnya merasa begitu mudah digantikan, itulah yang menyakitkan. Bukan putusnya atau hubungan baru Bryan.

Tetapi kenyataan bahwa seseorang bisa mengatakan "aku mencintaimu" pada hari ini, lalu membuatmu merasa tidak berarti pada hari berikutnya.

Ivana mengambil napas panjang, lalu mengetik balasan terakhir.

"Mungkin kamu nggak pernah bermaksud nyakitin aku. Tapi kamu tetap melakukannya."

Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan satu kalimat lagi.

"Dan yang paling sulit bukan memaafkanmu, yang paling sulit adalah menerima bahwa orang yang paling aku percaya ternyata bisa membuatku merasa seperti orang asing."

Pesan terkirim, lalu Ivana mematikan ponselnya. Kali ini ia tidak menangis, karena akhirnya ia mengerti.

Bryan mungkin bukan pengkhianat dalam arti sebenarnya, mungkin ia tidak pernah berselingkuh. Namun beberapa luka tidak membutuhkan pengkhianatan yang nyata.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Traitor
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Sukses Berbudidaya Tomat
Putut Dwiffalupi Sukmadewa
Cerpen
Springfield dan Kami
muhaibra
Novel
Skenario Tuhan (Gadis 12 Kali Operasi)
Mega Kembar
Novel
Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah
Naufal Abdillah
Flash
Kuasa Uang
Adam Nazar Yasin
Flash
Bronze
Jangan Jatuh Cinta di Titik Amplitudo!
Silvarani
Flash
Sebuah Jalan
Titin Widyawati
Flash
げんかい
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Reynald's Longing
Langitttmallam
Cerpen
Dia Sofia
Titin Widyawati
Flash
Titik Tumbuh
lidia afrianti
Flash
Penyihir Tanpa Mantra
Hans Wysiwyg
Cerpen
Terbuang Dalam Mager
Adam Nazar Yasin
Novel
Spin to Sink: Mikoto Fight to be Better
Romi Bangun Awali
Rekomendasi
Flash
Traitor
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg
Cerpen
Itaewon AFTER 29 Oktober 2022
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Flash
Gadis Kecil Di Trotoar
Hans Wysiwyg
Flash
Penyihir Tanpa Mantra
Hans Wysiwyg
Flash
Mimpi Teduh
Hans Wysiwyg
Flash
Aruna dan Robin
Hans Wysiwyg
Flash
Sebatang Paku
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Cerpen
KANNA
Hans Wysiwyg
Novel
DEKUT MERPATI PEMURUNG--The Mourning Dove Calling
Hans Wysiwyg
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg