Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kemal Pasya tidak pernah menyangka bahwa hati bisa terasa begitu lelah. Bukan karena bekerja terlalu keras atau karena kurang tidur atau juga karena usia yang semakin bertambah.
Lelah yang ia rasakan berasal dari tempat yang tidak terlihat. Dari ruang kecil di dalam dada yang selama bertahun-tahun menyimpan harapan, lalu menyaksikan harapan itu runtuh satu per satu.
Dulu Kemal adalah laki-laki yang percaya bahwa cinta akan memperbaiki segalanya.
Ia bertemu cinta pertamanya ketika masih merintis usaha kecil-kecilan. Saat itu mereka sama-sama berjuang. Sama-sama menghitung receh di akhir bulan, dan percaya bahwa masa depan bisa dibangun dengan doa dan kerja keras.
Perempuan itu selalu berkata bahwa mereka akan tumbuh bersama.
Kemal mempercayainya.
Ia bekerja siang dan malam. Menolak liburan, mengurangi kebutuhan pribadi dan memilih menabung setiap keuntungan yang diperoleh.
Ia membayangkan suatu hari nanti mereka akan melihat ke belakang dan tertawa mengingat masa-masa sulit yang pernah dilalui. Namun ternyata kehidupan tidak selalu mengikuti rencana yang dibuat manusia.
Ketika bisnis mulai berkembang dan angka-angka dalam laporan keuangan terlihat semakin indah, lalu memburuk, sesuatu yang lain justru hancur dengan begitu cepat, hubungan mereka.
Kemal masih mengingat hari ketika perempuan itu memilih pergi, bukan karena mereka tidak saling mencintai tapi justru karena dunia yang mereka bangun bersama mulai menuntut lebih banyak hal.
Kekuatiran tentang materi perlahan menggantikan percakapan tentang masa depan mereka. Sampai akhirnya cinta yang dulu menjadi alasan perjuangan berubah menjadi korban dari perjuangan itu sendiri.
Mereka berpisah tanpa drama, hanya dua orang yang sama-sama terluka dan tidak tahu cara menyelamatkan apa yang pernah mereka miliki. Kadang-kadang luka yang paling dalam memang datang tanpa suara.
Setelah itu Kemal berubah, berusaha tetap tersenyum, tetap terlihat baik-baik saja. Tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang mati. Ia mulai mempertanyakan banyak hal.
Mengapa Tuhan mempertemukannya dengan seseorang jika akhirnya harus berpisah?
Mengapa doa-doanya tidak menjadi kenyataan? Mengapa cinta yang sudah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh tetap bisa hilang?
Malam-malam menjadi semakin panjang, Kemal sering terbangun pukul dua atau tiga dini hari, membiarkan pikirannya berjalan ke mana saja.
Pada awalnya ia mencoba mencari jawaban dari manusia, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu mengisi kekosongan yang ia rasakan.
Sampai suatu malam ia menemukan dirinya duduk sendirian di atas sajadah. Sudah lama sekali ia tidak berlama-lama di sana. Biasanya ia salat dengan cepat lalu kembali mengejar urusan dunia.
Malam itu berbeda, tidak ada permohonan tentang jodoh atau kesuksesan.
Ia hanya menangis, tangisan yang selama ini ditahannya akhirnya pecah.
"Tuhan..."
Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya, dan anehnya, setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Lalu ia belajar menikmati kesunyian setelah salat.
Belajar membaca ayat-ayat yang dulu hanya dilafalkan tanpa dipahami, lebih sering berbicara kepada Tuhan tentang hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Ternyata menjadi dekat dengan Tuhan tidak selalu dimulai dari rasa syukur, terkadang dimulai dari kehancuran, dari air mata dan semua dimulai dari kehilangan.
Kemal perlahan memahami sesuatu, mungkin selama ini ia terlalu sibuk mengejar apa yang ia inginkan sampai lupa bertanya apakah itu memang yang terbaik menurut Tuhan.
Luka yang ia alami memang tidak langsung hilang, tetapi luka itu tidak lagi terasa sia-sia. Ia mulai melihat bahwa setiap patah hati telah membawanya kembali ke tempat yang selama ini ia tinggalkan, kepada Tuhan, dan kepada dirinya sendiri. Kepada ketenangan yang tidak bergantung pada siapa pun.
***
Hingga suatu hari seseorang hadir.
Bukan seperti cinta pertamanya, perempuan itu datang tanpa banyak janji. Ia hadir dengan sederhana, menyapa, mendengarkan, menghargai, dan menemani.
Meskipun ia hadir dengan luka, justru itu semakin membuat Kemal ingin menghabiskan hari-harinya bersamanya. Menghapus lukanya, dan menyembuhkan luka-lukanya sendiri, bersamanya.
Dan tanpa disadari Kemal mulai membuka hatinya lagi. Meski kali ini berbeda, karena ia tidak lagi terburu-buru menamai perasaan dengan cinta, atau membayangkan pernikahan.
Ia memilih berjalan perlahan, sebab ia tahu hati manusia bisa keliru.
Yang membuatnya gelisah justru satu pertanyaan, apakah perempuan ini memang jawaban dari doanya? Ataukah hanya persinggahan sementara?
Suatu malam setelah salat tahajud, pertanyaan itu kembali memenuhi pikirannya. Kemal menatap sajadah di hadapannya, matanya basah, namun kali ini bukan karena kesedihan.
"Tuhan..."
Suaranya nyaris berbisik.
"Kalau dia memang untukku, dekatkan dengan cara yang baik."
"Kalau dia bukan untukku, jauhkan dengan cara yang baik juga."
Air matanya jatuh perlahan.
"Aku lelah kehilangan arah."
"Tapi aku tidak ingin kehilangan-Mu lagi."
Ruangan itu sunyi, tidak ada suara yang menjawab, tak ada mukjizat yang tiba-tiba turun dari langit, namun di dalam dadanya ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah Tuhan sedang berkata bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini, tidak semua jalan harus terlihat sampai ujungnya. Kadang kita hanya perlu melangkah perlahan dari sebuah langkah kecil.
Dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Kemal tersenyum, jika perempuan itu memang jodohnya, Tuhan akan membukakan jalan. Jika bukan, Tuhan akan menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Bukankah selama ini Tuhan selalu melakukan itu?
Memberikan yang dibutuhkan, bukan selalu yang diminta.
Kemal mengusap air matanya, lalu menatap langit yang mulai memucat menjelang subuh. Ia teringat seluruh perjalanan hidupnya. Cinta pertama yang hancur, bisnis yang menyita banyak hal. Malam-malam penuh kesepian, dan doa-doa yang lahir dari luka.
Tiba-tiba ia memahami sesuatu.
Mungkin Tuhan tidak sedang menghukumnya selama ini, tapi Tuhan sedang memanggilnya pulang.
Pulang kepada-Nya, pulang kepada hati yang lebih tenang, pada keyakinan bahwa tidak ada kehilangan yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang, dan tidak ada doa yang diabaikan.
Lalu berbisik pelan di antara cahaya subuh yang mulai masuk melalui jendela.
"Tuhan, aku pulang."