Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dua bulan setelah diberhentikan dari Frozen Jaya, Bahlil akhirnya menjalani hidup dengan tenang.
Ia tidak lagi memikirkan stok nugget.
Tidak lagi memikirkan onggokan parasit es di freezer.
Tidak lagi memikirkan siapa yang akan mengantar barang hari itu.
Semuanya sudah menjadi masa lalu.
Setidaknya begitulah yang ia yakini.
Sampai suatu sore.
Saat sedang rebahan sambil menggulir media sosial, sebuah lowongan kerja muncul di layar ponselnya.
"Dibutuhkan Karyawan Toko"
Bahlil berhenti menggulir.
Nama tokonya membuat alisnya terangkat.
Frozen Jaya.
Tempat yang sama.
Tempat yang dulu mengeluarkannya.
Ia membaca iklan itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang sangat tidak berguna.
"Kalau aku ngantar lamaran lagi, kira-kira ekspresi Cece gimana ya?"
Seharusnya pertanyaan itu diabaikan.
Sayangnya, Bahlil adalah tipe orang yang sulit hidup berdampingan dengan rasa penasaran.
Besok paginya ia mencetak CV.
---
Saat Bahlil masuk ke toko, Cece sedang memeriksa nota.
"Siang, ce."
"Siang."
Bahlil menyerahkan map.
Cece menerimanya tanpa melihat.
Lalu membuka.
Lalu melihat nama di halaman pertama.
Lalu berhenti.
Perlahan ia mengangkat kepala.
"Bahlil?"
"Iya, ce."
"Bahlil?"
"Iya."
"Bahlil yang dulu?"
"Iya."
"Oh."
Hanya itu.
"Oh.
Tidak ada petir.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada adegan kejar-kejaran.
Hanya sebuah "oh".
Bahlil sedikit kecewa.
Ia sudah membayangkan ekspresi yang lebih spektakuler.
Dua hari kemudian teleponnya berbunyi.
"Halo, Bahlil? Besok bisa datang wawancara?"
Bahlil langsung duduk tegak.
Eksperimen memasuki tahap kedua.
---
Besoknya ia datang tepat waktu.
Cece dan Koko duduk di depan meja.
Bahlil duduk di kursi seberang.
Suasananya aneh.
Mereka semua saling mengenal.
Namun tetap melakukan wawancara seperti orang asing.
"Bahlil sekarang kerja di mana?" tanya Cece.
"Belum ada, ce."
"Kenapa melamar lagi?"
Nah.
Inilah inti penelitian.
Pertanyaan yang ditunggu-tunggu.
Bahlil menarik napas.
"Sebenarnya..."
"Iya?"
"Saya penasaran."
Cece berkedip.
"Penasaran apa?"
"Penasaran kalau saya antar lamaran lagi, reaksi cece sama koko gimana."
...
...
...
Koko menatap Cece.
Cece menatap Koko.
AC berdengung pelan.
Di luar, seorang pelanggan sedang memilih sosis tanpa mengetahui bahwa sejarah sedang tercipta.
"Lil..."
"Iya, ce?"
"Jadi tujuan ngantar lamaran ini apa?"
"Ya itu tadi."
"Penasaran?"
"Iya."
"Bahlil tidak mau kerja?"
"Mau sih."
"Terus?"
"Tapi rasa penasarannya lebih besar."
Untuk pertama kalinya selama wawancara, Koko tertawa.
Bukan tertawa kecil.
Tertawa sungguhan.
Cece memijat pelipis. Entah menahan tawa atau menahan emosi.
"Bahlil, saya baru kali ini ketemu pelamar seperti ini."
"Maaf, ce."
Setelah beberapa menit, Cece menutup map.
"Kalau begitu, Bahlil mau lanjut proses?"
Bahlil berpikir.
Ia benar-benar berpikir.
Lalu menggeleng.
"Enggak usah, Ce."
"Kenapa?"
"Soalnya tujuan saya sudah tercapai."
Sepuluh menit kemudian Bahlil berjalan keluar toko.
Angin siang berhembus pelan.
Langit cerah.
Burung-burung berkicau.
Dan yang terpenting...
Rasa penasarannya sudah hilang.
---
Malamnya, Gemi mengirim pesan.
"BAAANNNG."
"Apa?"
"Kadanya abang wawancara tadi?"
"Iya."
"Jadi masuk lagi?"
"Enggak."
"Loh?"
"Udah selesai."
"Selesai apa?"
"Penelitian."
"..."
"..."
"Abang aneh."
"Makasih."
---
Sementara itu, di toko Frozen Jaya, Cece masih menggeleng-gelengkan kepala.
"Koko."
"Iya?"
"Menurutmu Bahlil itu sebenarnya cari kerja atau cari jawaban?"
Koko tertawa.
"Lima puluh persen cari kerja."
"Lima puluh persen lagi?"
"Ilmuwan."
Tamat.