Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Bahasa Cinta
3
Suka
2,072
Dibaca

Rani dan Azra sudah jadian sejak lama. Tapi ada satu kebiasaan Azra yang tak pernah hilang. Setiap hendak mengatakan sesuatu yang penting, ia selalu membuka kalimat dengan, "By the way, anyway, busway..."

Rani sudah hafal. Setelah kalimat aneh itu biasanya akan keluar pertanyaan yang membuat jantungnya berdebar.

"By the way, anyway, busway, kalau nanti kita tua, kamu masih mau jalan sama aku?"

Rani menoleh, menatap wajah Ezra, langsung mikir.

Mereka sedang duduk di bangku taman yang menghadap danau kecil buatan di tengah kota. Sore itu tidak istimewa, karena bukan untuk merayakan sesuatu, cuma dua orang yang memilih menghabiskan waktu bersama.

"Kamu kenapa tiba-tiba nanya begitu?" katanya.

Azra mengangkat bahu.

"Penasaran aja."

"Kamu tuh kalau penasaran selalu bikin orang deg-degan."

"Berarti aku berhasil."

Rani tertawa. Ia menatap permukaan danau yang memantulkan cahaya sore yang teduh. Sejak mengenal Azra, ia belajar bahwa banyak hal penting justru datang dengan cara yang tidak penting. Ya, persis seperti cara Azra menanyakan sesuatu yang serius sering dibungkus candaan. Kekhawatirannya disembunyikan di balik senyuman usai bertanya.

"Masih," jawabnya akhirnya.

"Masih apa?"

"Masih mau jalan sama kamu."

Azra tersenyum puas seperti anak kecil yang baru menemukan uang di saku celananya sendiri setelah sekian lama tersembunyi.

"Syukurlah."

"Tapi kalau kamu jalannya terlalu lambat, aku tinggal."

"Kalau aku jalan terlalu cepat?"

"Aku tarik bajumu."

Mereka tertawa bersama tak memperdulikan orang-orang disekelilingnya.

Sore terus bergerak menuju malam. Orang-orang mulai berjalan pulang. Sepasang lansia berjalan bergandengan tangan di jalur setapak dekat danau.

Mata Azra mengikuti pasangan tua itu.

"Lihat mereka."

Rani ikut memandang.

"Mereka lucu ya."

"Iya."

"Mungkin dulu mereka juga pernah pacaran kayak kita."

"Pastilah."

"Mungkin dulu si kakek juga suka ngomong aneh."

Rani tersenyum memandang wajah Azra yang tiba-tiba terlihat lucu.

"Kalau si neneknya sabar, mungkin."

Azra terdiam sesaat.

Lalu seperti biasa, ia berkata, "By the way, anyway, busway..."

Rani menggeleng pelan.

"Nah kan."

"Kalau suatu hari aku kehilangan semua hal yang aku punya, kamu bakal gimana?"

Pertanyaan itu membuat senyum Rani memudar sedikit.

Ia mengenal Azra cukup lama untuk tahu bahwa pertanyaan seperti itu tidak muncul begitu saja. Biasanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

"Kehilangan apa?"

"Kerjaan misalnya."

"Lalu?"

"Tabungan."

"Lalu?"

"Motor."

"Lalu?"

"Ya pokoknya semua."

Rani menatap wajah lelaki itu, ada sesuatu yang rapuh di balik sorot matanya.

Terkadang orang yang paling banyak bercanda adalah orang yang paling takut mengungkapkan kekhawatirannya secara langsung.

"Aku pernah suka kamu waktu kamu belum punya apa-apa."

"Aku juga kenal kamu bukan karena kerjaanmu."

"Aku jatuh cinta sama kamu juga bukan karena motormu."

"Aku suka kamu karena kamu Azra, yang sekarang sudah jadi gebetanku."

Tiba-tiba Azra jadi kehilangan jawaban lucunya. Ia hanya memandang danau, menikmati cahaya yang perlahan memudar.

"Terima kasih," katanya pelan.

Rani pura-pura tidak mendengar. Kadang-kadang rasa sayang tidak perlu dibalas dengan berpanjang kata, cukup dengan tetap duduk di samping seseorang saat ia sedang takut.

Hubungan mereka tidak selalu penuh momen besar. Justru yang paling sering mereka ingat adalah hal-hal kecil yang kesannya biasa saja.

Azra yang selalu membeli dua es krim lalu menyerahkan rasa favoritnya kepada Rani.

Rani yang diam-diam menyimpan struk bioskop pertama mereka.

Azra yang mengirim foto kucing random saat jam kerja.

Rani yang selalu mengingatkan Azra membawa payung tetapi lupa membawa payungnya sendiri.

Pokoknya hal-hal kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain, namun anehnya, cinta sering tumbuh dari hal-hal seperti itu.

Dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang terus diulang sampai terasa menjadi rumah, tempat ternyaman untuk pulang.

***

Suatu malam mereka berjalan pulang setelah makan bersama, trotoar tidak terlalu ramai. Lampu jalanan memantulkan warna temaram yang hangat.

Langkah Azra tiba-tiba melambat.

"By the way, anyway, busway..."

Rani tertawa.

"Kamu nggak bisa ngomong normal ya?"

"Nggak."

"Kenapa?"

"Karena kalau ngomong normal aku malu."

Rani menoleh, baru kali ini Azra mengakuinya.

"Lanjut."

Azra menarik napas.

"Kalau suatu hari nanti kita udah nikah..."

Rani langsung menunduk menahan senyum.

"...dan aku tetap ngomong by the way, anyway, busway, kamu bakal malu nggak?"

Rani tertawa sampai harus berhenti berjalan.

Ternyata setelah semua dugaan serius yang muncul di kepalanya, lelaki itu tetap saja menjadi dirinya sendiri.

"Aku nggak malu."

"Serius?"

"Iya."

"Kenapa?"

Rani berpikir sebentar.

Karena sebenarnya ia tahu jawabannya sejak lama, karena di dunia ini banyak orang berusaha menjadi orang lain agar dicintai. Sedangkan Azra selalu datang dengan segala keanehan yang ia miliki.

Selalu dengan candaan recehnya, kekhawatiran yang disembunyikan rapat-rapat dan itu ketidaksempurnaannya yang justru jadi menarik. Apalagi dengan kalimat "by the way, anyway, busway" yang entah kenapa tidak pernah membosankan.

"Mungkin karena aku jatuh cinta sama semua hal aneh yang ada di diri kamu."

Azra tersenyum, mereka lalu melanjutkan langkah berdampingan. Seolah tidak sedang menuju ke mana-mana, padahal diam-diam mereka sedang menuju ke arah yang sama.

Masa depan.

Dan jika suatu hari nanti rambut mereka berubah abu-abu, langkah mereka tak lagi cepat, serta dunia bergerak lebih kencang daripada tubuh mereka, mungkin Azra masih akan menoleh kepada perempuan yang berjalan di sampingnya dan berkata,

"By the way, anyway, busway..."

Lalu Rani, yang sudah hafal selama puluhan tahun, akan tersenyum sebelum pertanyaannya selesai. Kadangkala ada cinta yang bisa dikenali meski bukan dari kata "aku mencintaimu."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Seperti bukan Manusia
Rizky Ade Putra
Flash
Bahasa Cinta
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Love Speedometer
Kyna Nixie
Novel
Waktu Isa Sudah Lewat
Alfia
Novel
Gold
Habibie Ya Nour El Ain
Bentang Pustaka
Novel
High Romance Shoot : Trisha Version
eliyen
Cerpen
Bronze
Tukar Kegilaan dengan Penantian Seumur Hidup
Jie Jian
Novel
Bronze
Arishta
Tamara Lutfiana Putri
Flash
Menanti
Binaarr
Novel
Bronze
FRANCISCAN GARDEN
Marlina Permatasari
Novel
Klik "yes"
Sarniati witana
Novel
Bronze
A Trip to Your Wedding
Rahmatul Aulia
Flash
Orang asing bercerita
Lentera jingga
Novel
Hammurabi
naomi leon
Novel
Aphelion
Clarissa Kawulur
Rekomendasi
Flash
Bahasa Cinta
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Cerpen
BADRI BERHANTU Pabrik Padi Syereem!
Hans Wysiwyg
Flash
DUNIA JUNGKIR BALIK
Hans Wysiwyg
Flash
After Nine
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pacar Figuran
Hans Wysiwyg
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jalan Tikus
Hans Wysiwyg
Flash
Pacar Lima Ratus Langkah
Hans Wysiwyg
Cerpen
The Taste of Destiny-Cita Rasa Takdir
Hans Wysiwyg
Cerpen
Ketika Namaku Tak Lagi Kau Sebut
Hans Wysiwyg
Cerpen
Flying Over a Hundred Miles
Hans Wysiwyg
Flash
Rezeki Mandra Dipatok Saep
Hans Wysiwyg
Flash
Bangku Kosong di Baris Kedua
Hans Wysiwyg