Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Kesempatan Pertama
2
Suka
2,281
Dibaca

Aku kesel.

Setelah lama berjuang jadi sarjana, ke mana-mana nyari kerja nggak jebol-jebol.

Mana kosan harus bayar, makan juga harus. Nggak mungkin kan puasa terus-terusan sampai berhari-hari. Ramadan aja ada waktu buka puasanya.

Eh, giliran dapat kerjaan dari teman malah jadi badut.

Mending kalau cuma nemenin orang di keramaian. Ini udah badut, harus minta-minta lagi ke orang di jalanan.

Nggak cuma jenis kerjaan lintas disiplin ilmu antarjurusan yang beda-beda, badut pun sudah masuk kategori pekerjaan lintas disiplin ilmu yang harus dijalani oleh sarjana sepertiku.

Masih untung ada topengnya.

Tapi beneran, sekarang memang tambah sulit nyari kerja.

Dibilang banyak lowongan, tapi kebanyakan milih-milih. Kalau bukan karena saudara, paling yang menarik, wajah hatus cantik atau ganteng. Paling engga masih enak dipandang engga bikin bosan, walaupun otaknya kosong.

Sementara aku yang pas-pasan. Pas untuk nakutin anak bisa, pas untuk nakutin burung-burung sawah juga bisa. Pokoknya pas-pasan.

Kalau ukurannya pinter, aku sarjana dengan IPK tinggi, tapi begitu ketemu lowongan, yang diminta berpengalaman.

Lah, orang baru lulus.

Pengalaman ya paling pas KKN atau kerja magang.

Lha kalau belum apa-apa fresh graduate sudah ditodong pengalaman kerja minimal lima tahun di bidang yang linier dan berkompeten, kapan kesempatan itu datang?

Yang ada aku seperti burung hantu yang merindukan bulan.

Nggak pernah kesampaian.

***

Namaku Tristan.

Fresh graduate.

Dua kata yang dulu terdengar membanggakan saat dicetak di undangan wisuda. Sekarang dua kata itu terdengar seperti diagnosa penyakit.

"Fresh graduate."

Artinya muda, semangat, penuh ide.

Dalam bahasa perusahaan, "Belum berguna."

Aku tahu itu karena sudah terlalu sering mengirim lamaran kerja. Setiap pagi aku membuka laptop dengan penuh harapan dan setiap sore aku menutupnya dengan penuh penolakan.

Kadang bahkan penolakannya tidak datang, lamaran itu hilang begitu saja, seperti mantan yang bilang akan memberi kabar, tidak ada kepastian.

Aku pernah menghitung, dalam enam bulan terakhir aku mengirim lebih dari seratus lamaran, yang membalas cuma tujuh, memanggil wawancara tiga, dan yang menerima?

Tidak ada.

Nol. Kosong!.

Sehampa isi rekeningku.

Suatu hari, saat aku sedang menghitung sisa uang yang lebih cocok disebut peninggalan sejarah daripada tabungan, telepon dari temanku datang.

"Tris, mau kerja nggak?"

Aku langsung duduk tegak.

"Mau."

"Besok datang ya."

"Kerja apa?"

"Ada deh."

Aku tidak bertanya lebih jauh. Orang lapar tidak punya kemewahan untuk banyak bertanya.

Besoknya aku datang, dan di situlah aku melihat kostum badut. Aku sempat berpikir mungkin ada kesalahan atau mungkin aku salah alamat. Aku malah sempat mikir ini tes psikologi.

Mungkin saja tiba-tiba kamera prank akan muncul dari balik pohon, ternyata tidak. Kostum itu memang untukku.

Aku menatapnya, dia menatapku. Kami sama-sama tahu tidak ada pilihan lain.

Sejak hari itu aku menjadi badut. Sarjana yang berubah profesi menjadi penghibur jalanan. Kalau dosen pembimbingku melihatku sekarang, mungkin beliau akan bilang,

"Ilmu yang saya ajarkan tidak pernah sampai ke bab ini."

Di lampu merah aku berdiri membawa kotak sumbangan, menunggu kaca mobil terbuka agar dapat belas kasihan sambil berharap pada keberuntungan.

Kadang aku merasa bukan sedang bekerja. Aku sedang menjadi monumen hidup tentang sulitnya mencari pekerjaan.

Seorang anak kecil pernah menunjukku.

"Mah, itu badutnya kok sedih?"

Ibunya melihatku lalu tersenyum kaku.

"Mungkin lagi capek."

Aku ingin menjawab.

Bukan capek, Bu. Aku cuma sedang memikirkan empat tahun kuliah yang sekarang berubah menjadi kostum badut ukuran XXL.

Namun badut tidak boleh mengeluh, badut harus tersenyum, meski hidup sedang menjadikannya bahan lelucon.

***

Malam hari aku kembali ke kos ke kamarku yang dipenuhi kenangan.

Foto wisuda, map berisi ijazah, sertifikat seminar, piagam lomba, dan tak ketinggalan tagihan yang belum dibayar.

Kadang aku menatap foto wisudaku, rasanya kok waktu itu aku terlihat bahagia, penuh keyakinan. Seolah dunia sudah membuka pintu.

Lucunya, sekarang aku tahu, pintu itu memang terbuka tapi di depannya ada tulisan:

"Minimal pengalaman lima tahun."

Aku tertawa sendiri, tertawa adalah cara termurah untuk bertahan hidup, karena menangis juga tidak membuat tagihan kos lunas.

Suatu malam aku melihat seekor burung hantu bertengger di tiang dekat perempatan. Aku memandanginya lama.

Aneh. Aku merasa kami senasib. Dia menatap bulan, aku menatap papan lowongan. Sama-sama jauh rasanya dan sama-sama sulit diraih.

Burung hantu itu diam, aku juga diam. Lalu aku membayangkan dia sedang berharap bulan turun sedikit lebih dekat. Sama seperti aku yang berharap ada seseorang berkata,

"Kami tidak butuh pengalaman lima tahun. Kami hanya butuh kesempatan untuk melihat kemampuanmu."

Tapi harapan sering kali lebih hidup dalam khayalan daripada kenyataan.

Burung hantu itu akhirnya mengepakkan sayapnya terbang ke arah malam, dan entah kenapa aku merasa kehilangan. Seolah satu-satunya makhluk yang mengerti nasibku baru saja pergi.

Sementara aku tetap berdiri di bawah lampu merah.

Menjadi badut, yang sarjana, dan masih bernama Tristan. Fresh graduate yang masih menunggu dunia memberinya kesempatan pertama. Entah kapan?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Kesempatan Pertama
Hans Wysiwyg
Flash
Lelah Normal
imagivine
Novel
THE WOMAN I AM BECOMING
Liepiescesha
Novel
Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia
Desto Prastowo
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Cinta VS Phobia
riwidy
Flash
Bronze
Las Vegas Sin
Silvarani
Flash
Bronze
A Rose Bouquet in the Trash
Silvarani
Cerpen
Bronze
Langit
Hekto Kopter
Flash
Bronze
Makhluk Ciptaan
Rere Valencia
Cerpen
Dia Sofia
Titin Widyawati
Flash
Monolog sunyi untuk mama
tita agnesti
Cerpen
Jendela Tanpa Balkon
Tya Fitria
Flash
Seri Kerangka Berpikir: Sudut Pandang
M. Fagih Alhafizh
Cerpen
Tiket Sekali Jalan ke Diri Sendiri
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Kesempatan Pertama
Hans Wysiwyg
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Flash
SEMANGKUK NASI UNTUK AYAH
Hans Wysiwyg
Novel
DEKUT MERPATI PEMURUNG--The Mourning Dove Calling
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pacar Figuran
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Novel
Stalker Misterius KOZMIC BLUES
Hans Wysiwyg
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Flash
Tetangga Toko Sebelah
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Cerpen
Perempuan dari Masa Depan & Masa Lalu
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg