Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari ini aku dan Apin salat Jumat bersama di Masjid Al-Amin yang terletak di dekat rumahku. Ini pertama kalinya dia salat di sini, karena setelah ini kami berencana mengerjakan tugas kelompok seni budaya di rumahku.
“Besar juga rupanya ya, mesjidnya,” serunya takjub. “Banyak yang salat jumat harini.”
“Disini emang gitu, ramai jamaahnya.” Aku melepas sendalku dan duduk sambil mendengar khutbah.
Selesai salat, semua jamaah keluar bersama-sama, termasuk aku dan Apin. Aku memakai sendalku dan mengajak Apin untuk segera bergegas, karena di depan ada orang yang memberi makanan. Itu memang fenomena biasa. Orang-orang selalu menyebutnya “Jumaat Berkah”.
“Ayokla … apalagi? Sempat habis itu diserbu orang.” Aku menarik tangan Apin yang sibuk celingak-celinguk mencari sesuatu.
“Alahmak … ilang selop ku Sin!”
Mendengar itu aku langsung ke samping mesjid. Ku pegang sendal untuk mengambil air wudhu dan meminta ijin pinjam pada marbot.
“Pakek ini ajala kau Pin.”
“Aih … ini selop pun udah kayak bekas digigit setan,”
“Bersyukurlah masih ada yang bisa kau pakek! Aku pernah pulang pakek kotak indomie,”
Kami berdua saling bertatapan lalu tertawa bersama. Aku dan Apin terburu-buru berlari ke gerbang depan demi mengejar pembagian makanan. Sambil menenteng nasi bungkus di tangan kanan, Apin berhenti dan menepuk pundak ku.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
Dia seakan-akan mencoba mengingat sesuatu. Lalu kemudian menggeleng kepalanya. Setelah itu tersenyum sendiri seperti orang gila.
“Enggak … nggak mungkin …”
“Apanya yang nggak mungkin paok?” Sambil mengerutkan alisku karena penasaran. “Udah gilak kau ku rasa!”
Sampai didepan rumahku, mulut Apin menganga karena schock. Ternyata sendalnya terjejer rapi di depan pintu. Ayahku yang berdiri disitu sibuk mencari sesuatu.
“Ayah nyari apa?” Tanya ku penasaran.
“Nyari selop. Tadi seingat ayah tarok di sini. Kok bisa nggak ada ya,”
Aku dan Apin saling bertatapan lagi, sambil menelan ludah bersamaan.
NB : Selop = Sendal