Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Hati yang Ingin Pulang
2
Suka
4,021
Dibaca

Perkenalkan, aku Salma. Aku adalah Jiwa nomor 11.458. Aku masih ingat dengan jelas momen itu: saat aku sengaja tidak menandatangani perjanjian untuk melupakan segalanya. Aku menolak menghapus ingatan tentang masa laluku, juga kedamaian di alam sana. Entah bagaimana, aku lolos. Aku terlahir kembali sebagai manusia, seorang perempuan bernama Salma.

Ingatan masa lalu membuat hidupku terasa lebih mudah, setidaknya untuk hal-hal yang sifatnya abadi. Namun, dunia modern ini seringkali membuatku kewalahan. Dibandingkan kehidupanku dulu, masa kini terasa gila. Teknologi melesat. Dulu, aku harus menyeberangi pulau untuk menemui kekasihku. Sekarang, hanya dengan benda persegi kecil di genggaman, aku bisa menyapa siapa saja.

Aku tidak pernah melupakan masa lalu; aku hidup bersamanya. Bahkan di kehidupan ini, aku masih mencari Rama. Kami pernah berjanji untuk bertemu lagi, namun hingga hari ini, pertemuan itu tak kunjung menjadi nyata. Meski jiwa lain lahir dengan ingatan yang kosong, aku tetap bisa merasakan "getaran" mereka. Aku pernah bertemu Ranti, sahabatku di masa lalu yang kini menjadi teman satu angkatanku. Namun, kami tidak bisa lagi sedekat dulu. Walau jiwanya sama, Ranti telah menjadi pribadi yang berbeda. Aku hanya mengenal jiwanya, bukan kehidupannya.

Lalu, perihal Rama. Ia pernah berjanji bahwa jika hidup diulang seribu kali pun, ia akan tetap memilihku. Aku tidak tahu bagaimana sistem kelahiran jiwa bekerja—apakah kami akan didekatkan atau justru dilempar berjauhan. Yang kutahu, selama ini aku belum banyak menemui jiwa-jiwa dari masa laluku.

***

Salma menekan tombol off pada komputernya. Pekerjaan hari ini selesai. Ia menanggalkan lanyard, melangkah keluar dari ruangan pribadinya menuju lift. Beberapa orang menyapanya dengan hormat. Sebagai pengacara yang telah memenangkan ribuan kasus, nama Salma disegani. Ia adalah salah satu yang terbaik.

Dengan BMW putihnya, Salma membelah jalanan tenang menuju kawasan elite tempat apartemen mewahnya berada. Di sana, ia bertetangga dengan para pengusaha dan pesohor. Setelah membersihkan diri, Salma duduk di meja kerja. Ada satu kasus besar yang mengusik ketenangannya—kasus tambang yang merusak lingkungan, yang kini menjadi sorotan nasional. Meski sudah kawakan, kasus yang melibatkan pemerintah dan bisnis kotor selalu terasa berat.

Besok adalah sidang perdana. Salma berdiri di sisi warga lokal yang ruang hidupnya dihancurkan. Namun, bukan kerumitan berkas yang membuat jemarinya mendingin, melainkan sebuah nama pada kolom lawan: Rama Mahendra.

Nama itu umum, tentu saja. Namun sejak melihat fotonya di portal berita sore tadi, sebuah "getaran" menarik paksa ingatan Salma ke masa ribuan tahun lalu. Getaran yang sama yang membuatnya menolak lupa di alam kedamaian.

Ruang sidang terasa sesak. Salma mencoba mengatur napas. Namun, saat pintu besar terbuka dan seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, pertahanan Salma retak.

Itu dia. Rama.

Wajahnya kini lebih tegas, tatapannya tajam dan dingin—jauh dari sosok yang dulu berjanji akan memilihnya seribu kali. Rama berdiri di meja seberang sebagai pengacara utama perusahaan tambang yang digugat Salma.

"Sidang dinyatakan dibuka," ketuk hakim.

Salma memulai argumennya dengan suara yang diusahakan tetap tenang. Namun, Rama memotongnya telak dengan nada meremehkan. Hati Salma mencelos. Rama yang dulu mencintai alam, kini menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan perusakan. Ia membela keserakahan demi angka-angka di atas kertas.

Sidang demi sidang berlalu seperti mimpi buruk. Salma sempat berharap intensitas pertemuan mereka akan memantik percikan ingatan di mata Rama. Ia berharap argumen kemanusiaannya mampu mengetuk pintu hati pria itu.

Namun, ia justru menemukan sosok yang haus kemenangan teknis. Rama dengan dingin memanipulasi kesaksian warga desa, memutarbalikkan fakta kerusakan lingkungan menjadi sekadar "prosedur yang belum selesai," dan menatap Salma dengan kebencian yang kian mengental.

Pada sidang kelima, saat Rama tertawa puas setelah berhasil menggugurkan bukti kunci miliknya, Salma berhenti mencari.

Ia terdiam, menatap punggung tegap itu. Di sana, ia tidak lagi melihat kekasih yang menjanjikan kesetiaan abadi. Ia hanya melihat seorang asing yang terjebak ambisi materi. Salma akhirnya mengerti: meskipun itu adalah jiwa yang ia kenal, kehidupan kali ini telah membentuk Rama menjadi pribadi yang tidak lagi ia kenali. Rama tetap memilihnya untuk yang keseribu kali—bukan sebagai kekasih yang ia peluk, melainkan sebagai lawan yang harus ia hancurkan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Aku Dan Perbedaan
Widhi ibrahim
Novel
Ruang Kata
Firsty Elsa
Flash
Bronze
Adalah Dee
Hanifa Rahma
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Cerpen
Katanya 'Rindu' Hal yang Wajar
nazha
Novel
Rayla
Rivaldi Zakie Indrayana
Novel
Arini di Rumah Sakit Jiwa
Autami Anita
Flash
Tempat Cuci Piring
Yovinus
Flash
Bronze
Tjinta Muda-Mudi
Silvarani
Novel
Boys Don't Cry
Brahma Hemera
Skrip Film
Darah Daging
Eko Hartono
Cerpen
Aditama's Obsession Sr 1
FinNabh
Skrip Film
Abang
amor
Flash
Putri sang Pendosa
Lindaw
Novel
Hilang
nawa
Rekomendasi
Flash
Hati yang Ingin Pulang
Sekar Kinanthi
Flash
Hadiah dari Bumi
Sekar Kinanthi
Flash
Keluargaku di Garis Takdir Lain
Sekar Kinanthi
Flash
Jika Hidup adalah Cerita, Siapa Pembacanya?
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Retak
Sekar Kinanthi
Flash
Jiwa yang Dikucilkan
Sekar Kinanthi
Flash
Selamat Ulang Tahun, Rara
Sekar Kinanthi
Flash
Tirai Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Raga Milik Bumi
Sekar Kinanthi
Cerpen
Halaman Pertama: Prequel Halaman Terakhir
Sekar Kinanthi
Cerpen
Heaven is Troubled 2
Sekar Kinanthi
Flash
Benang Merah
Sekar Kinanthi
Flash
Keadilan Terakhir
Sekar Kinanthi
Flash
Rumah yang Tidak Boleh Kutinggali
Sekar Kinanthi
Flash
Teduh yang Tak Pernah Kupilih
Sekar Kinanthi