Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Permisi, apakah bangku ini masih kosong?"
Aku menoleh. Seorang mahasiswa berambut putih agak panjang sudah berdiri di samping mejaku sambil menyandang ransel hitam. Karena sedikit terkejut, aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Kalau begitu, aku duduk di sini, ya," ujarnya disusul sebuah senyuman.
Manis. Itulah hal pertama yang melintas di kepalaku saat melihat lengkungan di bibirnya. Ia lalu meletakkan tasnya di bawah kursi dan duduk di sampingku.
"Syamsul," katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku sempat menahan senyum. Nama itu terasa begitu kontras dengan penampilannya yang modern dan sedikit nyentrik.
"Fania." Kami berjabat tangan singkat.
"Kamu mahasiswa pindahan?" tanyaku, penasaran karena rasanya asing melihat wajahnya di kelas ini.
"Alih jenjang," jawabnya singkat.
Aku mengangguk paham. Obrolan kami terhenti begitu saja ketika dosen melangkah masuk ke kelas. Kuliah pertama berlangsung seperti biasa, meski sepanjang kelas dimulai, aku beberapa kali tanpa sadar mencuri pandang ke arahnya.
Begitu jam pertama berakhir, rasa penasaranku justru semakin menjadi-jadi selagi kami menunggu dosen berikutnya. Lagi-lagi, aku diam-diam melirik ke samping. Sialnya, kali ini dia sadar.
"Ada apa?" tanyanya sambil menoleh langsung ke arahku.
Aku seketika salah tingkah. "Rambutmu... unik."
Ia mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi cocok, kok!" lanjutku cepat-cepat, takut dia tersinggung.
Dia terdiam selama beberapa detik, lalu kembali tersenyum. "Baru kali ini ada yang bilang begitu."
"Memangnya biasanya dibilang apa?"
"Biasanya aku dibilang aneh."
Aku tertawa kecil. Ketegangan di antara kami sempat membuat suasana canggung, sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali membuka obrolan.
"Tahu tidak? Kamu itu mirip tokoh anime."
Syamsul tampak menahan tawa. "Itu juga bukan pertama kalinya aku dengar."
"Yah, berarti komentarku tidak spesial, dong?"
"Sayangnya begitu."
Kini kami berdua tertawa bersama. Setelah suasana terasa lebih cair, ia menyentuh rambutnya sendiri dan menatap lurus ke depan, menerawang. "Sebenarnya, ada alasan kenapa aku mewarnainya seperti ini."
Aku bergeming, menunggu kelanjutan ceritanya.
"Di keluargaku ada genetik tumbuh uban lebih cepat. Bahkan sejak masih sekolah, rambut putih ini sudah mulai muncul. Awalnya cuma beberapa helai, tapi lama-lama makin banyak. Daripada kelihatan setengah hitam setengah putih, sekalian saja aku warnai putih semua."
Aku mengangguk-angguk pelan, menyimak ceritanya.
"Awalnya orang-orang menganggapku aneh, tapi lama-kelamaan aku terbiasa."
Ada nada ketenangan yang pekat dalam caranya bercerita. Seolah ia sudah benar-benar berdamai dengan semua komentar miring dan tatapan menghakimi yang pernah diterimanya selama ini. Namun, sebelum aku sempat menanggapi, dosen mata kuliah berikutnya terlanjur masuk, memaksa percakapan kami terjeda begitu saja.
Malam harinya, aku berbaring telentang di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel. Entah mengapa, bayangan cowok siang tadi kembali melintas di pikiranku. Terutama satu hal: namanya.
Syamsul.
Rasa penasaranku yang memang kronis ini akhirnya menuntun jariku untuk mengetikkan nama itu di kolom pencarian. Beberapa detik kemudian, artinya muncul di layar.
Syamsul: Matahari. Cahaya matahari.
Aku tersenyum sendiri menatap layar ponsel. Entah mengapa, arti nama itu terasa sangat pas untuknya. Bukan karena warna rambutnya, bukan pula karena senyum manisnya, melainkan karena caranya menjalani hidup.
Aku mematikan ponsel, lalu beralih memandangi langit-langit kamar yang sunyi. Mungkin benar kata orang, kita tidak akan pernah bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya. Sama seperti buku; terkadang sampul yang paling sederhana justru menyimpan cerita yang paling menarik untuk dibaca.