Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Senin pagi di SMA Berbakti. Tiang bendera berdiri gagah dengan Merah Putih yang berkibar khidmat di puncaknya. Barisan para siswa terlihat rapi di bagian depan, sementara barisan paling belakang sudah seperti pasar ikan, berisik dan berserakan.
Fiony, seperti biasanya, berdiri di garis paling depan dengan tertib. Namun, pagi ini ada satu keanehan yang mengusik ketenangannya.
“Tumben banget nih anak baris di depan. Mana di samping gue lagi. Jangan-jangan mau bikin onar?” Batin Fiony, melirik waswas ke arah cowok di sebelahnya.
Ya, dugaan Fiony tidak salah. Andra sengaja mengambil posisi di barisan paling depan pagi ini.
"Senin hari ini, pokoknya gue mesti cari perkara. Timing yang pas itu nanti, saat Pak Bambang ngasih amanat," bisik Andra pelan, menyeringai licik.
"Ayo Dra, bikin drama biar di-notice Fiony. Mumpung lo baris persis di samping dia," sahut Evan, sahabat sekaligus tangan kanan Andra yang berdiri di barisan belakangnya.
"Kalem, Bro. Nanti pas Pak Bambang mulai ceramah, gue langsung beraksi. Hahaha," Andra terkekeh pelan, otaknya sudah merancang skenario.
"Segitunya lo ya, Dra. Saking pengennya dapet perhatian Fiony, sampai upacara formal begini pun lo jabanin buat cari tingkah," Evan menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan tingkat kebucinan sahabatnya.
Seketika, atmosfer lapangan berubah tegang saat tiba waktunya amanat pembina upacara. Kali ini giliran Pak Bambang. Guru killer berkumis tebal dengan tatapan mata setajam elang itu berjalan ke depan podium sambil membawa teks pidato. Seluruh siswa langsung bungkam saat Pak Bambang berdiri di depan mikrofon.
"Selamat pagi, Anak-Anak!" Pak Bambang dengan nada tegas dan intonasi yang menggelegar menyapa seluruh siswa yang tengah berbaris di lapang.
"Pagi, Pak!" Sahut ribuan siswa kompak.
Namun, di tengah gemuruh jawaban itu, Andra sengaja berulah. Bukannya menjawab salam dengan benar, dia malah berteriak lantang:
"Malam, Pak Kumis Tebal!"
Lapangan mendadak sunyi sesaat, sebelum akhirnya terdengar bisik-bisik jengkel.
"Hadeh, anak itu lagi. ANDRA... kamu nggak ada bosen-bosennya ya nyari masalah?" Bisik beberapa siswa di dekatnya sambil melirik sinis. Sementara yang disindir malah asyik cekikikan.
“Bukannya mikir atau tobat, malah cekikikan. Nggak jelas banget,” gerutu Fiony dalam hati, melempar tatapan maut ke arah Andra.
Pak Bambang tentu saja terkejut sekaligus geram. Merasa wibawanya diinjak, beliau langsung menunjuk Andra dengan tongkat komandonya.
"Heh, kamu Andra! Lagi-lagi kamu! Sini, maju ke depan! Gantikan saya berbicara di sini!"
Seketika nyali Andra menciut. Menatap mata Pak Bambang yang melotot, suaranya langsung berubah ciut. "Anu.. maaf, Pak. Saya salah jawab..."
"Ah, alasan kamu! Cepat ke depan, biar kamu tahu rasanya bagaimana menghargai orang yang sedang berbicara di depan!" Tegas Pak Bambang, langsung melangkah maju dan menarik lengan baju Andra untuk diseret ke podium.
BRUGGGG... !!!!!!
Kejadiannya begitu cepat. Andra yang panik benar-benar kehilangan keseimbangan saat Pak Bambang menariknya. Kakinya tersandung kaki temannya sendiri, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan, condong sepenuhnya ke arah Fiony.
Refleks, Andra mencoba meraih apa saja, namun yang terjadi justru mereka berdua ambruk ke lapangan.
Dalam hitungan detik yang terasa melambat, posisi mereka merapat ke tanah. Tangan kanan Andra dengan sigap menyelip di belakang kepala Fiony, menahannya agar tidak langsung menghantam tanah lapangan yang keras.
Sementara itu, Fiony membelalak sempurna, jantungnya serasa copot karena tubuh Andra jatuh tepat di atasnya, membuat dada mereka bersentuhan langsung tanpa jarak.
Aroma parfum Andra yang maskulin semerbak, berbaur dengan hangatnya matahari pagi. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti.
"Dra... lo ngapain sih?" bisik Fiony setengah histeris, wajahnya langsung memanas kemerahan.
"Maaf, Fion... gue beneran nggak sengaja," jawab Andra spontan. Dia menatap mata Fiony dari jarak sedekat itu. Matanya yang biasa jenaka kini berbinar tulus, menyiratkan rasa bersalah sekaligus... sesuatu yang lain.
"Bohong! Sengaja kan, biar jadi pusat perhatian?" Tuduh Fiony dengan ketus, meski suaranya bergetar menahan gugup.
"Nggak, serius. Kali ini gue murni jatuh, nggak ada maksud apa-apa," jawab Andra jujur. Suaranya serak, dan Fiony bisa merasakan detak jantung Andra yang berdegup sangat kencang di dadanya—sama kencangnya dengan jantungnya sendiri saat ini.
"Yaudah, minggir! Malu dilihatin orang-orang, Dra!" Seru Fiony sambil menghela napas berat, mendorong bahu Andra agar menjauh.
Setelah Andra berhasil berdiri dengan canggung, seluruh lapangan masih hening. Detik berikutnya, kasak-kusuk langsung pecah. Para siswa terutama kaum hawa langsung histeris dan kejang-kejang menyaksikan adegan drama Korea live di tengah lapangan upacara.
Andra akhirnya digiring ke depan podium dengan wajah salah tingkah yang gagal disembunyikan. Di sisi lain, Fiony berdiri kembali di barisannya dengan muka yang sudah semerah kepiting rebus. Campuran antara amarah, malu, dan debaran aneh di dadanya membuat cewek itu rasanya ingin menghilang telan bumi saat itu juga.