Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aroma kuah soto ayam yang gurih bercampur uap minyak tanah dari kompor meledak di sudut ruangan, menyengat hidung ririn yang sedang sibuk mengelap permukaan meja kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Di kedai sederhana pinggir terminal bus yang bising oleh deru mesin diesel, haryo duduk termenung memandangi selembar kertas tagihan rumah sakit yang ujungnya sudah lecek akibat terlalu sering dilipat masuk kantong celana. Kertas tipis itu sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi vonis mati bagi kelanjutan usaha warung makannya yang omzetnya saban hari makin amblas digilas sepi penumpang yang beralih ke moda transportasi daring.
"Kalau minggu ini kita tidak bisa setor uang muka pengobatan ibu, pihak administrasi di sana bakal menghentikan suplai obat penenang dosis tingginya, mas," kata ririn pelan sembari merapikan jajaran botol kecap yang isinya tinggal sepertiga botol saja.
Haryo tidak segera menjawab, jemarinya yang kasar karena sering bergesekan dengan gagang sudip besi bergerak taktis memutar-mutar korek api gas yang pemantiknya sudah agak seret dan macet sebelah. Kepala haryo dipenuhi angka-angka kalkulasi yang rumit, tentang denda sewa lahan pemda yang menunggak tiga bulan, tentang harga beras Cianjur yang naik seribu rupiah per kilo, hingga tentang opsi pinjaman uang ke rentenir pasar yang bunganya mencekik leher. Bagi orang-orang kecil seperti mereka, hidup bukan tentang mengejar mimpi-mimpi mulia atau kesuksesan finansial yang instan, melainkan murni tentang bagaimana cara menunda kebangkrutan satu hari lebih lama agar dapur tetap bisa mengepulkan asap hitam.
"Aku sudah coba tawarkan motor bebek tua kita ke beberapa makelar di depan pasar, tapi mereka cuma mau hargai dua juta karena pajaknya mati lima tahun," sahut haryo dengan nada suara yang datar, membumi, tanpa ada bumbu dramatisasi yang dilebih-lebihkan.
Ririn menghentikan aktivitasnya, duduk di bangku panjang kayu yang berdecit nyaring saat menahan beban tubuhnya yang tampak semakin kurus dalam beberapa bulan belakangan ini. Hubungan mereka sebagai sepasang suami istri tumbuh di atas fondasi utang-piutang yang dirawat dengan sangat rapi melalui perantara kerja lembur, mulai dari urusan menyiangi bumbu dapur saat subuh buta hingga urusan mencuci tumpukan mangkok kotor di bawah siraman air kran yang debitnya kecil. Ada keletihan psikologis yang teramat pekat di antara mereka, sebuah kondisi di mana rasa sayang sudah lama menguap digantikan oleh rasa kewajiban moral yang kaku untuk saling menjaga agar tidak ada yang memilih melompat ke rel kereta api terlebih dahulu.
"Kemarin sore, orang dari koperasi simpan pinjam datang lagi ke rumah saat kamu sedang belanja ke pasar induk," ucap ririn memutus keheningan yang sempat merayap di antara bunyi klakson angkot yang saling bersahutan di luar pagar.
Haryo menarik napas pendek, merasakan sisa hawa panas dari tungku kuah soto yang mulai menguap habis ke udara sore yang mendung tipis. "Mereka bilang apa? Mau sita kulkas dua pintu di ruang tengah?" tanya haryo tanpa menoleh, matanya lurus menatap aspal jalanan yang mulai basah oleh rintik gerimis pertama yang turun membasahi bumi kota yang berdebu.
Ririn tidak membalas ucapan itu secara lisan, dia hanya mengambil sebuah amplop cokelat kecil dari dalam laci meja kasir lalu meletakkannya tepat di samping cangkir teh hangat milik haryo yang sudah mendingin sejak dua jam lalu. Di dalam amplop itu terdapat selembar surat perjanjian baru, sebuah dokumen yang menawarkan opsi pelunasan seluruh sisa utang mereka dengan syarat yang tidak pernah haryo bayangkan sebelumnya dalam skenario terburuk sekalipun; pengalihan hak kelola lahan kedai soto ini kepada pihak ketiga yang ingin mengubahnya menjadi pangkalan agen travel eksekutif.
Kalimat-kalimat di dalam surat itu mendarat dengan bobot yang sangat berat di kepala haryo, meremukkan sisa-sisa harga diri terakhirnya sebagai seorang lelaki yang mencoba mandiri di atas kaki sendiri tanpa perlu mengemis belas kasihan. Kedai soto ini adalah satu-satunya warisan peninggalan almarhum bapaknya, sebuah tempat yang mengajari haryo cara membaca karakter manusia lewat cara mereka memesan makanan atau cara mereka membayar uang kembalian yang kurang lima ratus rupiah. Melepaskan tempat ini berarti dia harus merelakan seluruh riwayat hidupnya dihapus dari peta ingatan terminal ini, berubah menjadi buruh cuci piring di tempat orang lain dengan upah harian yang tidak seberapa.
"Pilihan ini setidaknya bisa membuat ibu tetap mendapatkan kamar perawatan yang layak di rumah sakit daerah tanpa perlu pindah ke bangsal kelas tiga yang pengap," kata ririn lagi, suaranya hampir tidak terdengar karena tertutup oleh deru suara musik dari pengamen jalanan yang mulai beraksi di depan pintu masuk kedai.
Haryo tetap diam, dia memandangi bayangan wajahnya yang terpantul samar di permukaan air teh manis yang mulai dikerubuti beberapa ekor semut hitam kecil. Realitas kontemporer memang tidak pernah menyediakan ruang bagi mereka yang lambat mengambil keputusan di tengah himpitan ekonomi yang bergerak secepat arus informasi digital. Mereka adalah dua orang yang terjebak di dalam labirin kemiskinan struktural, tempat di mana setiap pilihan yang tersedia selalu menuntut pengorbanan yang nilainya sama-sama merugikan masa depan mereka berdua sebagai sebuah keluarga.
Matahari sore mulai tenggelam sepenuhnya di balik deretan bus antarkota yang terparkir rapi di area lapangan tengah, menyisakan lampu-lampu neon warung kelontong yang menyala satu-satu dengan warna putih yang pucat. Ririn berdiri dari kursinya, mulai menurunkan tirai bambu depan kedai untuk menghalau angin malam yang mulai terasa dingin menusuk kulit lengannya yang terbuka bebas tanpa pelindung pakaian tebal. Haryo tetap setia di posisinya, memegang amplop cokelat itu dengan jemari yang sedikit gemetar, menimbang-nimbang antara kehormatan masa lalu keluarga atau kelanjutan napas ibunya yang bergantung pada mesin ventilator di ruang isolasi rumah sakit.
Tidak ada kesimpulan hitam-putih yang diambil di atas meja kayu yang lapuk itu, tidak ada juga janji mulia tentang hari esok yang akan berjalan lebih baik dari hari ini. Haryo perlahan memasukkan amplop tersebut ke dalam tas pinggangnya yang sudah jebol jahitan resletingnya, lalu berdiri untuk membantu istrinya mengangkat panci besar berisi sisa kuah soto yang tidak habis terjual malam ini ke dalam ruang penyimpanan belakang yang gelap. Mereka berdua melangkah dalam sunyi yang biasa, membiarkan teka-teki tentang ke mana arah kaki mereka akan melangkah besok pagi tetap menggantung bebas di antara riuh malam terminal yang tidak pernah peduli pada urusan hati manusia yang sedang patah terhantam kerasnya roda kehidupan nyata.