Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Plakat kuningan di pilar pagar depan rumah itu mentereng, mementingkan pajangan daripada perhatian yang timpang. Baskara duduk di atas ban bekas halaman belakang, memandangi rantai sepedanya yang lepas berlumur oli hitam pekat. Di rumah ber-AC sentral ini, dia adalah noda di atas kertas putih keluarga besar lulusan luar negeri.
"Kamu anak tertua, tapi kelakuanmu persis berandal terminal," kata ayahnya malam itu, suaranya membuat piring porselen bergetar tipis.
Baskara menyeka oli di tangannya ke kaos oblong bolong. Tuduhan anak nakal sudah jadi menu sarapan harian sejak seragam abu-abunya sering terkena noda kuah soto kantin luar. Bagi orang tuanya yang sibuk seminar internasional, kenakalan Baskara adalah misteri memalukan. Mereka lupa rumah mewah ini cuma hotel tempat menumpang tidur tanpa sempat bertukar tanya tentang isi kepala.
Validasi dirinya tidak pernah lahir dari meja makan yang steril, melainkan dari asap knalpot dan tawa anak montir bengkel pertigaan. Di sana, di antara deru mesin kompresor bising dan bau minyak tanah, Baskara merasa dianggap ada sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar angka indeks prestasi yang harus dipamerkan saat arisan keluarga. Anak bengkel tidak peduli nilai matematikanya merah, mereka hanya tahu Baskara cekatan membongkar karburator tua yang macet total.
"Ibumu malu datang ke sekolah karena namamu tercatat di buku pelanggaran," ucap ibunya sambil meletakkan tas kulit mewah di meja marmer dengan hentakan keras.
Baskara menatap ibunya yang masih berblazer rapi, perempuan berpendidikan tinggi yang lebih fasih membaca jurnal ilmiah daripada membaca rahasia mata anaknya. "Aku tidak minta ibu datang. Aku bisa mengurus urusanku sendiri tanpa merepotkan jadwal rapat kalian," jawab Baskara pelan, kalimat luwes yang langsung membuat udara ruang tengah mengepung gerah.
Plak. Tamparan keras telapak tangan ayahnya mendarat telak di pipi kiri Baskara, menciptakan bunyi hantaman pendek yang membungkam detak jam dinding kuno. Itu adalah pukulan, bentakan, sekaligus makian pertama yang dia terima langsung dari darah dagingnya sendiri selama dua puluh tahun menumpang hidup di bawah atap ini. Wajah ayahnya memerah, bukan karena sedih melainkan karena otoritasnya dipertanyakan oleh anak yang mereka labeli gagal sebelum bertanding.
"Kurang urus kamu. Fasilitas dipenuhi, uang jajan tidak kurang, tapi otakmu tetap sampah jalanan," bentak ayahnya, telunjuknya menuding hidung Baskara yang mulai mengeluarkan darah segar.
Baskara tidak mengusap darah di bibirnya, dia justru tersenyum tipis, jenis senyuman yang lahir karena berhasil memancing emosi murni dari orang yang selalu bersembunyi di balik topeng kesopanan. Fasilitas mewah dan uang jajan melimpah hanyalah cara halus orang tuanya menyuap rasa bersalah karena tidak pernah punya waktu duduk bersama mendengarkan ceritanya tentang kerasnya dunia remaja di luar pagar komplek.
Peristiwa malam itu tidak membuat Baskara mengemas pakaian ke koper lalu kabur. Dia tetap tinggal di kamar lantai dua, menjalani rutinitas biasa, namun dengan dinding pembatas yang tebalnya setara tembok penjara. Hubungan mereka beralih menjadi pemilik kos dan penyewa kamar; berpapasan di koridor tanpa tegur sapa, berbagi ruang makan dalam keheningan kaku, dan mengunci pintu saat malam merayap larut.
Sore kemarin, paman mampir mengantar undangan pernikahan sepupu yang baru lulus master di Melbourne. Paman melihat Baskara sibuk membersihkan kaki kotor terkena lumpur got di teras samping, lalu menggelengkan kepala menggumamkan kalimat prihatin tentang bagaimana bisa anak profesor tumbuh bertolak belakang dari trah keluarga yang klimis dan wangi parfum mahal.
Baskara mendengar gumaman itu, namun dia memilih tetap menyiram kakinya menggunakan air selang plastik hitam sampai bersih tanpa berniat memberikan klarifikasi. Label anak nakal di pundaknya bukan beban yang harus dibersihkan dengan berpura-pura jadi orang lain demi menyenangkan ego kelompok orang berpendidikan. Dia sudah menemukan dunianya di luar, lingkungan yang kotor secara kasat mata, namun tidak pernah memberikan pukulan pertama atas nama kehormatan keluarga yang semu.
Malam ini, rumah besar itu kembali sunyi seperti museum tua kehilangan pengunjung. Ayahnya belum pulang karena simposium hukum di luar kota, sementara ibunya mengunci diri di ruang kerja bersama tumpukan berkas analisis laporan keuangan yang tidak pernah ada habisnya. Baskara berdiri di balkon, memandangi lampu jalanan komplek yang bersinar konstan di bawah langit malam pekat tanpa bintang.
Dia meraba pipi kirinya yang bekas tamparan ayahnya sudah tidak lagi terasa perih, namun bekasnya tercetak permanen di kepala sebagai batas akhir hubungan darah yang dipaksakan searah. Baskara menarik napas panjang, meresapi aroma tanah basah dari taman bawah, lalu perlahan melangkah kembali ke kamar tidurnya tanpa perlu menunggu ketukan pintu atau sapaan selamat malam yang memang tidak akan pernah datang berkunjung sampai kapan pun jua.