Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aroma minyak kayu putih bercampur sisa cairan antiseptik di dalam kabin ambulans ini terasa begitu tebal, lengket, dan seolah enggan menguap lewat celah kaca yang sengaja dibuka sedikit. Di sepanjang jalur aspal antarprovinsi yang sepi dan berlubang, aku duduk menyamping di bangku besi yang keras, kedua telapak tanganku tidak lepas memegangi pinggiran kain kafan yang membungkus tubuh Danu. Kain putih itu mulanya terasa menghangat, sebuah sisa metabolisme terakhir yang tertinggal di permukaan kulitnya yang sawo matang, namun perlahan-lahan kehangatan itu luruh digantikan oleh rasa dingin yang kaku seiring laju roda mobil yang berputar konstan membelah malam menuju kampung halamannya.
Semua urusan medis yang rumit ini bermula dari perkara sepele yang sering kali dianggap angin lalu di ruang santai keluarga, yaitu keluhan kesemutan di ujung jari tangan kanan Danu yang datang setiap kali mendung tebal mulai menggantung. Di rumah sakit daerah asalnya sana, penanganannya begitu praktis sekaligus berpola tetap; Danu datang mengeluh, dokter memeriksa sekilas, lalu sebuah jarum suntik mendarat di bokongnya agar rasa tebal di jarinya lekas reda. Prosedur instan itu terulang sampai tujuh kali dalam kurun waktu lima bulan, sebuah rutinitas medis yang seolah menidurkan kewaspadaan mereka sampai suatu pagi di hari Selasa, Danu terkejut melihat ujung jari manis kaki kirinya mendadak berubah warna menjadi keunguan lalu perlahan menghitam legam seperti arang kayu yang mati disiram air.
Ketika Danu dipindahkan ke rumah sakit besar di kotaku, barulah kenyataan pahit itu ditelanjangkan tanpa basa-basi oleh dokter spesialis yang memeriksa rekam medisnya secara menyeluruh. Kesemutan konstan di tangannya selama ini bukan perkara asam urat atau penyempitan saraf biasa, melainkan sebuah sinyal darurat yang dikirim oleh kelainan katup jantungnya yang gagal memompa darah bersih secara sempurna hingga menyumbat aliran ke ujung-ujung jaringan tubuh terjauh. Rencana besarnya adalah operasi besar untuk memperbaiki katup jantung tersebut, namun jadwalnya terpaksa digeser ke urutan kedua karena dokter harus menyelamatkan tubuh Danu dari penyebaran infeksi jaringan mati di kaki kirinya terlebih dahulu melalui prosedur amputasi tiga jari kaki.
"Sekarang kalau mau beli sepatu, aku harus minta diskon setengah harga karena jari kaki kiriku sudah hilang sebagian," kata Danu malam itu, tepat pukul dua puluh dua lewat empat puluh lima menit, sesaat setelah dia dipindahkan dari ruang operasi kembali ke bangku bangsal pemulihan dengan kondisi mata yang masih setengah mengantuk akibat sisa pengaruh obat bius.
Aku hanya mendengus pelan mendengar banyolan garingnya, sembari membetulkan letak selimut flanel hijau yang menutupi bagian bawah kakinya yang kini tampak lebih rata dan pendek di sisi sebelah kiri. Danu selalu punya cara untuk menertawakan kemalangannya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan diri yang membumi agar orang-orang di sekitarnya tidak perlu ikut merasa cemas atau memandangnya dengan tatapan belas kasihan yang berlebihan. Sepanjang sisa malam itu, dia tertidur pulas dengan napas yang teratur, sebuah istirahat panjang yang sangat dia butuhkan setelah berhari-hari menahan nyeri yang menusuk-nusuk di ujung kakinya yang membusuk.
Keesokan harinya berjalan sangat tenang, bahkan cenderung membosankan karena tidak ada aktivitas berarti selain penggantian botol cairan infus yang menggantung di tiang besi samping tempat tidur. Sampai jarum jam dinding bangsal menunjukkan pukul tujuh belas nol-nol, waktu di mana rombongan dokter spesialis beserta belasan dokter residen muda datang berbondong-bondong untuk melakukan pemeriksaan kondisi harian pasien secara kolektif. Entah apa yang dikatakan salah satu dokter senior saat memeriksa luka jahitannya, atau mungkin karena Danu melihat langsung bentuk kakinya yang baru saat perban dibuka, ekspresi wajahnya mendadak berubah drastis menjadi sangat tegang, matanya melebar penuh kepanikan yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.
Dalam hitungan menit setelah rombongan jas putih itu bergeser ke ranjang sebelah, tubuh Danu mendadak kejang tipis lalu kesadarannya merosot tajam hingga masuk ke fase koma yang dalam, menyisakan bunyi monitor jantung yang berbunyi pendek dan monoton di sudut ruangan. Semua upaya darurat dari tim medis malam itu terasa seperti gerakan lambat yang sia-sia di mataku; suntikan epinefrin, pompa dada yang ritmis, hingga kepanikan kecil perawat yang mengganti tabung oksigen tidak mampu menahan laju takdir yang sudah bulat. Tepat pukul sembilan belas lewat dua puluh menit, garis di layar monitor itu mendatar sempurna, meninggalkan tubuh Danu yang mendadak terasa sangat ringan saat kami mulai memindahkannya ke ruang jenazah untuk dimandikan secara adat.
Perjalanan pulang ke kotanya memakan waktu hampir delapan jam penuh, melintasi perbatasan daerah yang gelap gulita dengan penerangan lampu jalan yang seadanya dan pelit. Sepanjang jalan, aku memegangi lengan Danu yang dibalut kain putih, merasakan transisi fisik yang paling jujur dari seorang manusia; dari tekstur kulit yang masih kenyal dan menyisakan sedikit kehangatan tubuh, berubah perlahan menjadi sedingin ubin masjid di waktu subuh. Tidak ada air mata yang tumpah di dalam kabin ambulans yang berguncang ini, yang ada hanyalah rasa lelah yang teramat sangat dan kepasrahan atas segala ketidakpastian yang bisa terjadi di dalam sebuah kamar rumah sakit yang serba putih.
Pukul empat lewat tiga puluh menit dini hari, sirene ambulans dimatikan saat roda mobil mulai memasuki gerbang pemakaman umum yang tanahnya masih basah oleh sisa embun pagi. Prosesi penguburan dilakukan secara tergesa-gesa oleh kerabat dekatnya, mengejar waktu sebelum matahari benar-benar terbit dan pasar tradisional di dekat sana mulai ramai oleh aktivitas warga. Saat tanah merah mulai dilemparkan satu demi satu ke dalam lubang lahat, aku berdiri agak menjauh di bawah pohon kamboja tua, memandangi sandal jepit milik Danu yang tertinggal di dalam tas plastik hitam di dekat tumpukan bunga tabur.
Sandal itu masih utuh, tidak ada bagian yang kurang, bertolak belakang dengan kondisi pemiliknya yang harus pergi dengan tubuh yang tidak lagi lengkap. Urusan medis yang berbelit-belit, salah diagnosis di awal, atau kepanikan mendadak di sore hari itu kini tidak lagi memiliki arti penting di atas gundukan tanah yang mulai meninggi ini. Aku berbalik arah, berjalan pelan meninggalkan area pemakaman menuju warung kopi terdekat yang baru saja membuka pintu kayunya, mencari kehangatan dari segelas kopi hitam untuk mengusir sisa dingin yang masih menempel di telapak tanganku sejak perjalanan malam tadi.