Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Asbak semen di atas meja teras itu sudah penuh dengan puntung yang filternya gosong sebelah. Budi tidak berniat membuangnya, dia hanya memandangi abu yang luruh pelan menimpa remahan kacang garing yang sudah masuk angin sejak dua hari lalu. Di depannya, sebuah ponsel dengan layar retak serambut menampilkan ruang obrolan grup yang anggotanya hanya tiga orang; dia, Rama, dan Esti. Dulu, grup itu dibuat Budi dengan satu alasan yang sangat kekanak-kanakan, yaitu agar dia punya alasan logis untuk menyapa Esti tanpa harus terlihat terlalu agresif atau gemetaran saat mengetik kata. Zaman sekarang, mengincar hati seseorang memang sering kali membutuhkan tameng seorang teman dekat agar jika ditolak, malunya bisa dibagi dua rata.
"Kamu besok jadi ikut mampir ke pameran komputer di gedung serbaguna itu tidak, Bud?" tanya Rama sambil membetulkan letak kerah kemeja jinsnya yang agak kusut karena belum disetrika.
Budi menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang mulai meredup otomatis. "Tidak, ram. Aku harus membantu bapak membongkar dinamo pompa air di sumur belakang yang macet sejak kemarin sore," jawab Budi pendek, sebuah penolakan kasual yang sebenarnya menyembunyikan rasa malas yang teramat sangat untuk menjadi obat nyamuk di antara dua orang yang belakangan ini mendadak punya frekuensi obrolan yang terlalu presisi.
Dua bulan lalu, skenario yang dibangun Budi berjalan sangat rapi, atau setidaknya begitu menurut perkiraan kepalanya yang naif. Setiap kali ingin mengajak Esti makan bakso atau sekadar meminjam catatan kuliah, Budi selalu menyeret Rama dalam obrolan agar suasananya terkesan seperti nongkrong santai antarteman biasa. Namun, Budi lupa bahwa dalam urusan rasa, orang yang berdiri di depan pintu sering kali kalah cepat dengan orang yang diam-diam memegang kunci cadangan dari arah belakang. Rama yang awalnya hanya bertugas sebagai pemancing suasana, justru memanfaatkan celah itu untuk bergerak senyap; mengirim pesan personal di luar grup, mengantar Esti pulang saat motor Budi mogok, hingga akhirnya mereka berdua resmi jadian tanpa perlu woro-woro ke seluruh penjuru tongkrongan.
Dendam Budi tidak mewujud dalam bentuk ajakan duel di lapangan parkir atau makian kasar di media sosial, dia terlalu gengsi untuk terlihat hancur di depan orang yang pernah dia percaya. Cara balas dendam Budi sangat sederhana namun dingin; cukup sudah, tidak perlu ada interaksi lagi dalam bentuk apa pun. Dia keluar dari grup obrolan bertiga tanpa pamit, memblokir nomor Rama, dan mengabaikan setiap sapaan Esti saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor kampus yang sempit. Baginya, memutus rantai komunikasi adalah benteng pertahanan terbaik untuk menjaga sisa harga dirinya yang sudah telanjur jebol dihantam tikungan teman sendiri.
"Kemarin Esti tanya ke aku, kenapa kamu mendadak berubah seperti orang asing yang tidak kenal kami lagi," kata Rama lagi, mencoba memancing reaksi dari Budi yang sejak tadi hanya sibuk memutar-mutar korek api gas di atas meja.
Budi menarik napas pendek, merasakan aroma minyak tanah dari arah dapur yang terbawa angin sore. "Sampaikan saja ke dia, hidup ini sudah terlalu sibuk untuk mengurusi drama ruang obrolan yang anggotanya sudah tidak genap lagi," sahut Budi datar, suaranya membumi tanpa ada nada tinggi yang menandakan rasa sakit hati yang belum sembuh total.
Rama terdiam, dia tahu batas aman pembicaraan ini sudah terlampaui jika melihat bagaimana cara Budi mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke permukaan meja kayu yang berdebu tipis. Hubungan Rama dan Esti sendiri sebenarnya tidak berjalan seindah bayangan orang-orang yang melihat mereka di minggu-minggu pertama jadian. Setelah Budi menarik diri secara permanen, mendadak ada kekosongan aneh yang merayap di antara mereka berdua; mereka seperti kehilangan perekat utama yang selama ini membuat obrolan mereka terasa ramai dan menantang. Esti mulai sering mengeluhkan sifat Rama yang terlalu cuek, sementara Rama juga mulai bosan dengan rutinitas antar-jemput yang ternyata menyita banyak waktu dan ongkos bensin mingguannya.
Puncaknya terjadi tiga hari yang lalu, sebuah kabar burung yang beredar di antara anak-anak sekre mapala menyebutkan bahwa Esti dan Rama sudah memutuskan untuk jalan masing-masing setelah terlibat cekcok mulut di kantin sastra. Penyebabnya sepele, hanya karena Rama lupa menjemput Esti yang kehujanan di depan minimarket karena dia keasyikan main gim daring bersama anak-anak angkatan bawah. Hubungan yang dimulai dari hasil curian di tikungan sempit itu ternyata hanya bertahan kurang dari dua bulan; sebuah akhir yang terlalu cepat sekaligus ironis untuk sebuah pengorbanan persahabatan yang harganya teramat mahal.
"Kami sudah selesai, Bud. Dua hari lalu Esti minta putus karena merasa kami memang tidak pernah cocok sejak awal," ucap Rama akhirnya membongkar rahasia yang sejak tadi menggantung di ujung lidahnya dengan nada suara yang terdengar agak serak.
Budi tidak menunjukkan ekspresi terkejut, tidak ada senyum kemenangan atau binar kepuasan yang muncul di wajahnya yang semenjana. Kabar putusnya mereka tidak lantas membuat dendam di dadanya menguap begitu saja menjadi rasa kasihan, atau memicu keinginan untuk kembali mendekati Esti seperti sedia kala. Bagi Budi, piring yang sudah pecah tidak akan pernah kembali utuh walau dilem dengan merek terbaik sekalipun; rasa percaya yang sudah dirusak oleh Rama dan kesempatan yang disia-siakan oleh Esti sudah masuk dalam kotak masa lalu yang kuncinya sudah dia buang ke dalam sumur tua.
"Lalu apa hubungannya denganku, Ram? Urusan kalian selesai atau lanjut itu bukan lagi bagian dari agenda mingguan yang harus aku catat di buku saku," kata Budi sambil berdiri dari kursinya, bersiap masuk ke dalam rumah karena langit malam mulai menurunkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Rama tidak beranjak dari tempat duduknya, dia memandangi punggung Budi yang mulai menjauh menuju pintu kasa nyamuk yang warnanya sudah menghitam. Di luar, suara deru motor matik dari jalan perkampungan terdengar bersahutan dengan suara jangkrik yang mulai bernyanyi di sela-sela rumpun tanaman hias yang kering. Hubungan bertiga yang awalnya rumit dan penuh siasat itu kini benar-benar mendarat di titik nadir yang paling sunyi; meninggalkan Rama dengan rasa bersalah yang nanggung, Esti dengan penyesalan yang terlambat, dan Budi dengan ketetapan hati yang keras kepala untuk tetap menjadi orang asing bagi mereka berdua sampai waktu yang tidak ditentukan.