Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Cangkir kopi keramik warna putih itu retak rambut di bagian gagangnya, persis seperti cara mereka berdua bertahan selama ini; terlihat utuh dari jauh, tapi berderit pasrah setiap kali diangkat tinggi. Di kedai soto pojok pasar yang bising oleh suara mesin parut kelapa, Sony sibuk memisahkan potongan seledri dari kuahnya yang mulai mendingin tanpa selera. Di seberangnya, Wati menatap keluar jendela kaca yang buram oleh uap kaldu, jemarinya tidak berhenti memutar-mutar cincin perak murah tanpa mata yang dibelinya di pasar malam tiga tahun lalu.
"Aku tidak sedang meminta kamu pindah keyakinan besok pagi, Wat. Aku cuma butuh tahu, kita ini sebenarnya sedang berjalan menuju ke gerbang depan atau cuma berputar-putar di halaman samping tanpa tujuan," kata Sony pelan, suaranya datar, membumi, namun memiliki ketegasan yang menuntut ruang.
Wati tidak langsung menyahut, dia meletakkan sendoknya di tepi mangkok hingga menimbulkan bunyi denting yang pendek dan berat. Ingatannya mendadak melompat jauh ke belakang, ke lima tahun lalu saat dia pertama kali bertemu Sony di selasar kantor pos dalam keadaan wajah sembab akibat dikhianati mantannya secara sepihak dan brutal. Sony datang waktu itu bukan sebagai pahlawan dengan janji-janji surga, melainkan sebagai pria biasa yang menawarkan sebungkus tisu wajah dan tumpangan motor matik tua di tengah hari yang terik. Hubungan mereka tumbuh dari sisa-sisa reruntuhan hati yang patah, merayap pelan dari sekadar teman makan sate kambing hingga menjadi sepasang manusia yang saling tahu bau keringat masing-masing setelah seharian bekerja keras.
"Ini sudah ketiga kalinya kamu bertanya hal yang sama dalam setahun ini, Son. Bulan Januari, bulan Juni, dan sekarang Desember hampir habis," ucap Wati sambil menarik napas panjang, merasakan aroma merica bubuk yang menyengat rongga hidungnya.
"Karena batas sabarku bukan karet ban yang bisa kamu tarik ulur sesuka hati tanpa takut putus," balas Sony, matanya lurus mengunci pandangan Wati yang tampak mulai goyah dan gelisah.
Sony mengingat betul bagaimana bulan Januari lalu dia mengutarakan niatnya di depan teras rumah Wati setelah mereka pulang dari kondangan teman sekantor. Wati waktu itu hanya terdiam, meminta waktu dengan alasan belum siap secara mental dan finansial. Enam bulan kemudian, di tempat yang sama, Sony kembali menagih kepastian itu dengan membawa brosur perumahan bersubsidi yang cicilannya sudah dia kalkulasi masak-masak dari gaji pokoknya sebagai staf logistik. Jawabannya tetap sama; Wati ragu, tersendut di balik dinding tebal perbedaan cara mereka menyebut nama tuhan di setiap penghujung malam yang sunyi.
Bagi Sony, perbedaan agama adalah perkara administratif yang bisa didiskusikan di atas meja secara rasional jika kedua belah pihak memiliki keberanian yang sama besar untuk melangkah maju menembus sekat. Namun bagi Wati, trauma masa lalu digabung dengan bayang-bayang wajah ibunya yang rajin beribadah di tempat ibadah yang berbeda dengan Sony membuat nyalinya mendadak mengkerut setiap kali urusan pernikahan dibawa ke permukaan pembicaraan. Cinta mereka serius, teramat serius bahkan, namun keseriusan itu justru menjelma menjadi beban yang membuat pundak Wati terasa semakin bungkuk dan lelah menjalani hari demi hari.
"Kamu pikir aku tidak sayang sama kamu? Lima tahun ini bukan waktu yang sebentar untuk ukuran main-main, Son," suara Wati agak meninggi, memancing perhatian seorang pelayan kedai yang sedang mengelap meja sebelah dengan kain lap basah.
"Sayang saja tidak cukup untuk membayar uang muka rumah, Wat. Aku butuh kepastian arah, bukan cuma pelukan hangat di hari minggu malam lalu kita pulang ke rumah masing-masing dengan doa yang bertolak belakang," sahut Sony tanpa emosi yang meledak-ledak, dia berbicara dengan logika kelas pekerja yang tahu betul bahwa waktu tidak pernah berjalan mundur untuk memberi mereka kesempatan kedua.
Satu minggu setelah percakapan di kedai soto itu, Sony mulai jarang mengirim pesan teks singkat di jam makan siang. Dia tidak lagi sibuk menanyakan apakah Wati sudah makan siang atau mengingatkan perempuan itu untuk membawa jas hujan di bagasi motornya. Ruang kosong yang ditinggalkan Sony mendadak terasa sangat luas dan dingin di kehidupan sehari-hari Wati yang biasanya selalu bising oleh kehadiran pria itu. Wati tahu, ada sesuatu yang sudah bergeser secara permanen dalam diri Sony; sebuah keputusan besar yang diambil setelah pria itu merasa lelah mengetuk pintu rumah yang pemiliknya enggan membukakan selot kunci dari dalam.
Kemarin sore, seorang teman lama melihat Sony sedang berjalan berdua di toko swalayan dekat terminal bus dengan seorang perempuan berhijab cokelat tua yang penampilannya sangat sederhana. Mereka tampak sibuk memilih jenis wajan anti lengket sembari sesekali melempar tawa kecil yang tampak sangat lepas tanpa beban pikiran. Kabar itu sampai ke telinga Wati lewat pesan singkat di aplikasi ponselnya, namun Wati tidak menangis atau mengamuk seperti lima tahun lalu saat dikhianati mantannya. Ada rasa sesak yang berbeda kali ini; sebuah rasa kehilangan yang lahir dari kesadarannya sendiri bahwa dia telah membiarkan seorang pria baik pergi karena ketakutannya sendiri yang tidak pernah berujung pangkal.
Malam ini hujan turun tipis-tipis membasahi jalanan aspal di depan rumah Wati, menciptakan aroma tanah basah yang masuk lewat sela-sela ventilasi kamar tidurnya yang pengap. Wati duduk di tepi kasur, memandangi layar ponselnya yang menampilkan nomor kontak Sony yang sudah tiga hari ini tidak dia hubungi sama sekali. Dia ingin mengetik sesuatu, sebuah kalimat ajakan untuk kembali bertemu di kedai soto pojok pasar atau sekadar menanyakan kabar motor tua pria itu yang belakangan ini sering mogok bagian akinya.
Namun, jemarinya mendadak kaku di atas layar yang benderang itu saat teringat ucapan terakhir Sony di pertemuan mereka yang lalu. Sony tidak membencinya, tidak juga memusuhi keyakinannya; pria itu hanya memilih untuk menyelamatkan masa depannya sendiri dari ketidakpastian yang sengaja dipelihara oleh keraguan Wati yang keras kepala. Wati mematikan lampu kamarnya, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kegelapan malam yang samar, mendengarkan suara rintik hujan yang memukul atap seng dengan irama yang konstan, meninggalkan teka-teki tentang siapa yang sebenarnya kalah dalam pertaruhan perasaan lima tahun ini.