Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku berulang kali melewatkan angkot. Ada beberapa yang mencoba menawarkan tumpangan, tetapi ramainya orang di dalam membuatku ragu. Aku akhirnya memutuskan untuk menunggu angkot yang lebih jarang penumpangnya.
Saat sebuah angkot biru kosong penumpang berhenti, aku langsung memilih duduk di belakang. Berbasa-basi dengan sopir bukan bagian dari list-ku hari ini. Angkot melaju dengan perlahan. Aku menatap jalan sambil menyusun kata-kata di dalam pikiranku untuk sekadar meminta berhenti jika sampai tujuan.
Pak Sopir berhenti sebentar. Dua orang pria kekar diangkutnya. Mereka duduk di kananku dan yang satu tepat di depanku. Mereka tidak mengajakku berbicara dan aku bersyukur untuk itu. Mereka menatapku, kupikir hanya sebentar, tetapi justru berlangsung lama. Aku kikuk dibuatnya.
“Alun-alun ya, Pak,” kataku dengan suara pelan hampir tertelan.
Pak Sopir tidak mengindahkan. Alun-alun dilewati begitu saja. Aku mulai panik. Dingin merayap di punggungku dan titik peluh mulai terbentuk di keningku.
“Kiri, Pak!” Suaraku agak meninggi. Kutahu getar suara itu membuatnya sumbang. Lagi-lagi dia tidak mengindahkan.
“Duduk yang tenang saja adik.” Pria di sebelah kananku terdengar lugas di telingaku. “Mobilnya pasti berhenti kalau misi kami terpenuhi.” Ia tersenyum.
Badanku bergetar hebat. Mata mereka seperti siap menerkam. Pria di depanku mengeluarkan tali pengikat sedangkan yang satunya menodongkan pisau yang mengilat.