Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Homofobia
3
Suka
447
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ali menggebrak meja dengan keras. Gelas kopi kosong langsung tumpah. Semua orang kaget melihat tingkahnya. Wajahnya merah, matanya melotot.

“Mereka juga memiliki hak untuk memilih!” katanya sambil menunjuk seseorang di depannya.

Ardi menengadah dan menunjuk balik. Tatapannya tajam. “Kau berbicara soal hak, tapi kau sendiri tak paham sifat dasar manusia!”

Teman-temannya diam melihat perdebatan kedua orang itu. Tak ada yang menyela. Tak ada yang memisahkan.

“Apa salahnya mereka mencintai sesama? Mereka hanya menuntut haknya. Mereka tidak berbuat jahat,” lanjut Ali. Tangannya tak berhenti menunjuk-nunjuk.

“Ini bukan soal hak. Ini tentang benar dan salah. Urusan mereka baik atau tidak, itu beda cerita,” timpal Ardi.

Sandi yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. “Sudahlah, Ali. Yang benar itu pasti baik dan yang baik belum tentu benar,” katanya. Rokok mengepul tipis dari mulutnya.

“Kalian sama saja...” gerutu Ali. Dia kembali duduk dengan wajah kesal, menahan amarah di dadanya.

Sandi dengan tenang menghisap rokoknya lagi sebelum berbicara.

“Hak itu sudah ada porsinya masing-masing. Perempuan untuk laki-laki, dan sebaliknya. Logikanya jangan salah...”

Namun, Ali kembali meledak. Dia melemparkan bungkus rokok kosong ke wajah temannya itu.

“Omong kosong! Itu sama saja membatasi hak manusia...”

“Omong kosong katamu?” bentak Ardi. Nadanya tinggi saat melihat temannya dilempar bungkus rokok. “Lihat sekelilingmu. Lihat berita yang beredar. Mereka bukan hanya merusak moral, tapi juga menyebarkan penyakit!”

“Halah, kalian terlalu homofobia. Aku tahu itu. Kalian hanya iri melihat mereka bahagia. Mengaku saja.”

Sandi menenangkan Ardi yang mulai di luar kendali. Dengan nada datar dan ekspresi dingin, dia mematikan rokoknya.

“Ya, aku homofobia...” kata Sandi. Dia menatap Ali tajam sebelum melanjutkan, “Jangan salah paham. Aku tidak takut pada kalian. Aku hanya takut hukuman dan azab Tuhan datang bersama kalian...”

“Itu hanya cerita nenek moyang yang dilebih-lebihkan. Jangan terlalu banyak drama!” potong Ali. Wajahnya mengejek.

“Itu sama persis seperti yang disebutkan di kitab suci. Aku tidak melarang kalian, tapi aku sudah mengingatkan,” lanjut Sandi. Dia saling tatap dengan Ardi.

Kemudian pandangannya beralih. Sandi menatap Ali dengan tatapan dingin. Suaranya rendah, namun menggema di tengah keheningan.

“Aku bukan takut pada manusia seperti kamu, Ali. Aku takut semua yang kamu sebut ‘hak’ ini berubah menjadi malapetaka.”

Ali membeku. Tangannya gemetar. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik, mendorong kursi dengan kasar hingga nyaris jatuh.

Dia menatap Sandi lama. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Ali hanya menggeleng pelan, lalu berjalan pergi. Lampu jalan menyinari punggungnya yang menjauh di trotoar. Bayangannya memanjang dan perlahan hilang.

Sementara itu, dua orang masih saling tatap dalam diam di atas meja yang berantakan. Tak ada kata lagi yang terucap, hanya tinggal keheningan yang tersisa malam itu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Homofobia
Rian Nugraha
Cerpen
Bronze
Kapten dan Bayi Gigi Berlian
Kemal Ahmed
Novel
Gold
PCPK Art Academy
Noura Publishing
Novel
Tempat Kita Belajar Bertahan
A. L. Mutiara
Skrip Film
LIFE IS BEAUTIFUL
chelvia ch. meizar
Skrip Film
Short Film Script Volume I
Yorandy Milan Soraga
Skrip Film
Skenario
Prima Merdeka
Flash
Ilomilo
sheambisius
Cerpen
Cerita yang Dilupakan
Kwikku.com
Cerpen
Bronze
Pukat Hayat
Larasatijingga
Novel
Déanach
NarayaAlina
Komik
Bronze
Cabe Super
Kocheng oren 12
Skrip Film
Singgah tak Sungguh
Oktaviona Bunga Asmara
Flash
Skandal Celengan Tanah Liat
kutipan.izs
Cerpen
Senja & Luka
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Homofobia
Rian Nugraha
Cerpen
Anak Haram?
Rian Nugraha
Novel
Perang Informasi
Rian Nugraha
Cerpen
Bronze
AUL
Rian Nugraha