Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bagi saya, jendela adalah sebuah tempat pelarian dalam arti yang se-harfiah mungkin.
Ingatan saya langsung melayang ke masa-masa awal menduduki bangku SD. Setiap hari Minggu, ketika anak-anak lain patuh untuk tidur siang, saya justru sebaliknya. Kegiatan saya hanya membongkar tumpukan buku dan membaca tulisan apa saja yang ada di sana. Namun, rasa bosan tetap saja menyergap.
Melihat saya yang terus gelisah, Ayah yang kebetulan sedang libur kerja menyuruh saya untuk segera tidur siang. Tentu saja saya menolak. Saya kemudian meminta izin untuk bermain ke rumah teman yang letaknya tak jauh dari rumah. Sayangnya, izin tidak diberikan. Ayah justru mengunci pintu depan rapat-rapat.
Tak lama kemudian, suasana rumah mendadak sepi. Seluruh anggota keluarga sudah terlelap, menyisakan saya sendirian yang masih terjaga. Otak kecil saya pun mulai memutar otak. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar rumah lewat jendela dan kabur. Beruntung, tepat di bawah jendela ada sebuah tempayan air. Berkat benda itu, jarak lompatan saya ke tanah tidak terlalu tinggi dan aman.
Dan begitulah, saya berhasil lolos! Rasanya bebas sekali bisa bermain sepuasnya sampai sore hari.
Namun, waktu bersenang-senang itu harus berakhir saat hari mulai menjelang Magrib. Saya melangkah pulang dengan jantung yang mulai berdebar. Sambil mengendap-endap, saya mencoba menyelinap melalui pintu belakang rumah. Sialnya, rencana itu gagal total. Saat melintasi ruang tengah, saya langsung terpaku. Di sana, Ayah sudah berdiri tegak, menatap saya dengan pandangan mata yang begitu marah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.