Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Rain
0
Suka
22
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Rain." ​Suara itu mengalun dari barisan belakang kelas. Gadis yang dipanggil hanya menoleh sekilas. Tanpa perlu melihat pun, ia tahu siapa pemilik suara itu. Hanya ada satu orang di sekolah ini yang memanggilnya dengan sebutan itu. Sang guru bahasa Inggris tersenyum simpul.

"Why so serious, Rain?"​Ia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, memicu tawa kecil yang serempak dari teman-teman sekelasnya.

Nama aslinya tentu bukan Rain. Nama belakangnya adalah Rini. Namun sejak duduk di bangku kelas tiga SMP, wali kelas sekaligus guru bahasa Inggrisnya selalu memanggilnya Rain. Alasannya sederhana: sang guru merasa pelafalan "Rini" terdengar mirip dengan kata "Rain" dalam bahasa Inggris.

Awalnya panggilan itu terasa asing dan aneh di telinganya. Namun lama-kelamaan, ia mulai terbiasa. Kini, setiap kali kata itu tebersit di udara, ia otomatis menoleh, langsung tahu bahwa seseorang sedang mencarinya.

Banyak orang berasumsi bahwa seseorang bernama Rain pastilah seorang pencinta hujan.​Nyatanya tidak demikian. ​Rain tidak pernah benar-benar mencintai hujan. Namun, ia juga tidak bisa dikatakan membencinya.

Ia menyukai simfoni titik-titik air yang mengetuk atap seng saat malam hari. Ada ketenangan magis yang sulit dijabarkan lewat kata-kata, seolah dunia yang biasanya bising dan terburu-buru mendadak melambat, memberi jeda untuk bernapas.

Namun, ia kerap jengah pada langit yang terlalu pekat dan kelabu. Kadang, pekatnya mendung membawa atmosfer yang terlalu muram dan sunyi.

Ia menyukai embusan udara sejuk yang bertamu bersama gerimis; jenis udara yang membuat kehangatan secangkir teh terasa berlipat ganda dan dekap selimut menjadi jauh lebih nyaman. Namun, ia membenci rasa dingin berlebihan yang mengigit hingga ke tulang.

Ia menyukai alasan sah untuk tetap mendekam di dalam kamar saat hujan tumpah dengan derasnya. Namun, ia selalu sebal pada jalanan becek yang menggenang, serta rentetan rencana yang berantakan karenanya.

Begitulah hujan di matanya. Penuh kontradiksi. Mungkin karena dualitas itulah ia tidak pernah bisa benar-benar memutuskan di kubu mana ia berdiri: menyukainya atau tidak.

Suatu sore sepulang sekolah, langit tumpah cukup deras. Rain berdiri di teras rumah, menyandarkan tubuhnya pada pilar sambil menatap halaman. Rumput yang semula gersang dan kecokelatan kini tampak segar, kembali memancarkan warna hijau yang hidup. Daun-daun mangga yang kecil berkilau, memantulkan sisa cahaya yang terjebak dalam tetesan air.

Ia menarik napas dalam-dalam. Aroma petrikor, wangi tanah basah yang khas langsung memenuhi rongga dadanya. Entah mengapa, ia selalu jatuh cinta pada aroma itu. Bukan wangi saat air langit itu turun, melainkan aroma magis yang menguar setelah hujan reda. Seolah bumi baru saja melepas napas lega setelah didera dahaga.

Di kejauhan, cicit burung mulai bersahutan lagi. Langit yang semula pekat perlahan menyibak, menyisakan semburat cerah. Kemudian, seberkas keindahan muncul di antara gumpalan awan yang mulai menipis.

Pelangi. Begitu tipis dan lembut, bahkan hampir kasatmata jika tidak diperhatikan dengan saksama. Sudut bibir Rain terangkat kecil. Sebuah pemahaman baru mendadak menyusup ke kepalanya.

Mungkin selama ini ia keliru. Yang ia sukai sebenarnya bukanlah hujan itu sendiri. Yang ia sukai adalah segala hal yang ditinggalkan oleh hujan setelah ia berlalu: udara yang jauh lebih murni, tanah yang harum, rumput yang kembali bernyawa, dan pelangi yang diam-diam menyembul ketika badai telah selesai menuntaskan tugasnya.

Ia memaku pandang pada semburat warna-warni di langit sore itu untuk waktu yang lama. Pikirannya melayang pada nama pemberian gurunya. "​Rain". Sebuah nama yang dulu terasa ganjil, namun kini terasa begitu presisi. Sebab seperti hujan, hidupnya sendiri adalah untaian kontradiksi. Ada hari-hari melelahkan yang menguras energi, tapi ada pula hari-hari penuh tawa yang menghangatkan hati. Ada kalanya ia ingin melangkah sejauh mungkin, tetapi ada saatnya pula rumah menjadi satu-satunya tempat terbaik di semesta.

Dan seperti lengkung pelangi setelah gerimis, ia akhirnya paham: keindahan sering kali tidak lahir saat badai sedang berkecamuk, melainkan setelah badai itu usai.

Rain tersenyum lagi, kali ini guratan di wajahnya tampak lebih lepas. Di hadapannya, pelangi masih setia melengkung indah. Di sekitarnya, aroma tanah basah masih memeluk udara. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa namanya, dan hujan, memang diciptakan untuk saling menggenapi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Family On The Road
Muhammad Fauzan Arief
Novel
Kita (Tidak) Baik-Baik Saja
Fey Mega
Novel
RUMAH SINGGAH DI PADANG LARA
L DARMA
Skrip Film
Kekasih Halu Jadi Nyata (Skrip)
sapriani
Flash
It's my journal
Fyafiae
Flash
Bronze
Luka
AlifatulM
Flash
Rain
Indah Setiorini
Novel
ANOMALI AIR
Mochammad Eko Priambudi
Novel
Bronze
Akankah Esok Berubah Cerah?
Achmad Biondi Adiyarta
Skrip Film
KAMULAH SURGAKU (SCRIPT)
Alwinn
Flash
Bronze
Rasa Kehilangan
Ron Nee Soo
Novel
Its you • Ohs
Wahyu Dwi Putri Sang Pajar
Novel
Bronze
Hold My Fire
diannafi
Novel
Alcoholic Maeve
budidanasariputra
Novel
Takdir untuk Ashima
Anfa Nawasena
Rekomendasi
Flash
Rain
Indah Setiorini