Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ujaranku pada kematian
2
Suka
886
Dibaca

Dua butir divaporex ku tegak dengan obatku yang lainnya tubuh ku terasa gemetar saat mengingat tempat itu— sesak, tanah yang berpasir, dengan kandang bekas kelinci. Hewan itu sudah mati empat bulan yang lalu. Bahkan aroma tanah hujan menjadi amat sangat ku benci— kenangan lama itu, seperti cambuk di kepalaku.

Aku kembali menatap diriku di kaca, mengapa aku masih hidup, psikiaterku mengatakan bahwa post traumatic syndrome disorder tidak akan sembuh. Yah, aku tidak akan pernah sembuh dari kelalaian diriku sendiri, terus saja aku mengutuk diri mengatakan aku tidak layak untuk dicintai.

Lagipula siapa laki-laki yang akan mencintai perempuan yang terjamah sepertiku, kenangan itu masih benar-benar membuatku mual.

Rasanya mau mati, keinginan untuk hidup sudah tidak ada lagi dalam hidupku, aku selalu mengakhiri hidupku sendiri namun gagal.

Ya gagal, siapa sangka anak usia 8 tahun yang tidak mengetahui apapun itu tengah di jamah oleh empat laki-laki, satunya masih SMA dan sisanya masih usia belia dan aku di tindih oleh empat pria yang sibuk mengesekan kemaluan mereka bergantian pada diriku yang masih mengenakan celana dalam, mengingat itu membuat kepalaku berdenyut sakit.

Tamparan keras dari Ibuku, katanya aku tidak mampu menjaga diri. Pukulan darinya hingga lemparan botol minuman keras dari bekas tetangga mengenai diriku, berdarah, tentu saja. Aku malu dan merasa bersalah pada diriku.

Dan mengatakan bahwa aku sehina itu, aku tidak pantas di cintai. "Memangnya ada yang bisa jatuh cinta pada korban pelecehan." Ujarku.

Kata orang, cinta tidak mengenal batas tapi aku, semakin takut. Perasaan itu membuatku sering kali menyakiti diriku sendiri.

Cutter yang bertagar dibalik lemari, jantung yang berdegub kencang saat menyayatnya di sekitar nadiku, perih.

Aku merasa sesak, selama ini aku malu menampakan diri di depan cermin dan rasanya menyedot habis inti kehidupanku.

Suatu ketika, ku dengar salah satu laki-laki itu mencariku, namun ibu salah satu dari tetanggaku mengatakan bahwa aku telah pindah dan rumahku terbakar.

Itu benar adanya, rumahku terbakar saat aku menginjak tujuh belas tahun dan mungkin Tuhan tidak habisnya menguji kami dengan melahap habis rumah serta harta benda yang tersisa dari bekas kejayaan di masa lalu.

"Tuhan membuat hidupku sebangsat ini, apa hal yang manis yang akan ia berikan." Aku mengambil sebilah pisau dapur, rasa frustasi menghantui diriku.

Tuntutan dan rasa bersalah terhadap diriku semakin ingin membuatku mengakhiri semua kehidupan ini.

"Aku harus mati, untuk apa hidup di dunia.ini." Ujarku perlahan, tanpa ragu aku menghunuskan pisau tepat di perutku berharap semoga saja mengenai titik vitalku atau setidaknya aku mati kehabisan darah.

Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhku, aku hanya ingin merasakan hidup yang terbaik di kehidupan ku nanti. Bahkan ketika aku menjadi arwah gentayangan sekali pun aku tidak perduli.

"Yang ku mau hanya kedamaian."

"Ayah, maaf anakmu ini gagal berjuang."

"Ibu maaf aku menjadi beban, tapi aku bersyukur lahir dari rahimmu."

"Pikiran ku tidak bisa berdamai denganku dan aku harus pergi meninggalkan semua ini. Tidak apa-apa jika aku abadi dalam hidup orang lain setidaknya itu yang bisa ku wariskan."

Mataku perlahan tertutup, dan kesadaranku menghilang, keringat dingin membasahi pelipisku.

Dunia begitu kejam untuk aku yang berdiri diatas.kaki sendiri, Tuhan, maaf aku tak mampu. Rasa nyeri berdenyut dengan darah merembes.

"Se..lamat.. tinggal..."

Malam ini bulannya indah, aku mendengar seseorang mendobrak pintu berteriak melolong seperti serigala kelaparan. Demi Tuhan jangan paksa aku untuk hidup lebih lama lagi.

Hening, aku tidak bisa mendengarkan apapun kecuali rasa tubuh yang terguncang. Jika mereka datang kembali katakan aku telah mati. Yah, semoga tidak ada lagi yang seperti diriku.

Tuhan maaf, aku telah kelewatan batas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ujaranku pada kematian
Reveniella
Flash
LABEL
FN
Flash
Salah Siapa?
Sri Marflowers
Flash
Nirleka
Faltzatta
Flash
Laut Itu Luka
Hans Wysiwyg
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Skrip Film
PARALLEL of Arian and Diasrisa
citaaak
Flash
Remahan
Ariq Ramadhan Nugraha
Flash
Bronze
Sepupu Beracun
Rian feb rino
Novel
Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami
A. F. Ferdians
Flash
Perjalanan Mengunjungi Sahabat
Sulistiyo Suparno
Flash
Cerita Sang Kakak
Syifaanur Al Fitria
Flash
Malam Tanpa Tidur
Febby Arshani
Cerpen
Bronze
Nak, Ijinkan Aku Bahagia
Munkhayati
Novel
Bronze
Route
Hendika A. Cantona
Rekomendasi
Flash
Ujaranku pada kematian
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Flash
Matinya sang pelukis
Reveniella
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Flash
Budak korporat
Reveniella
Flash
Jatuh dan cinta
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Flash
Meja Nol 7
Reveniella
Flash
Aku
Reveniella